38 Days in Jogja

Ketika ibukota dirasa begitu sombong dan angkuh, menjauh sejenak bukanlah ide yang buruk. Setidaknya bagi seorang pendatang seperti saya, yang sedang mengalami sirkus emosi dan krisis kepercayaan diri. (juga krisis kepercayaan pada orang lain).

Mencari keramahan yang semakin mahal harganya, saya mengumpulkan apapun yang tersisa untuk mendapatkan itu. Berbekal keberanian seadanya dan keraguan yang mengganggu, saya putuskan untuk berjalan sendiri dan menukarkan semua yang saya miliki dengan keramahan yang saya impikan.

Jogja, saya rasa memiliki apa yang saya butuhkan. Kota bukan kota, desa juga bukan desa. Ramah dan bersahaja. Dan “Istimewa” jika harus dalam satu kata.

BXGyBt5CAAEWTCw

13 September 2013, menggendong ransel dan menjinjing koper, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya saat traveling. Sederhana, karena saya butuh space lebih untuk perjalanan [yang direncanakan] cukup panjang ini. Tanpa tiket di tangan, tekad melarikan diri dari ibukota begitu kuatnya hingga pengalaman go show pertama pun berbuah kerugian membayar tiket pesawat yang sangat mahal. Pengalaman go show itu tadi pun berhasil membawa saya ke another first experience  yaitu menginap di airport.

Dan perjalanan #kaburcantik pun dimulai…

Meet the Strangers

Meet the strangers, thing that I’ve been doing pretty often lately. Kenapa? Karena menyenangkan sekaligus menenangkan berkenalan dengan orang baru dimana mereka mengenal kita atas siapa kita saat ini, bukan siapa kita dulu. Mengenal dan dikenal sebagai pribadi tanpa melewati batas yang sudah kita tentukan. Ngobrol bebas ngalor ngidul tanpa tahu masalah masing-masing dan tanpa harus menghakimi.

Menginjakkan kaki di Jogja tanpa mengenal siapapun namun kemudian merasa harus berpamitan dengan beberapa teman baru saat harus meninggalkannya. That’s the best feeling :’) Dan suatu hari nanti saat saya kembali ke Jogja, merekalah yang ingin saya hampiri pertama kali.

Disconnected to Your Daily Life

Punya kesempatan untuk sesaat terputus dari rutinitas sehari-hari yang membosankan dan menikmati letupan-letupan perasaan baru yang menyenangkan sungguh pengalaman yang tidak ingin saya tukar dengan apapun. Priceless!

Menjauh dari kesibukan ibukota, menghindari kemacetan tak berperikemanusiaan, melarikan diri dari pertemuan penting dengan orang-orang penting atas nama pekerjaan dan bisnis, menjauhkan diri dari orang-orang sombong nan temperamental ala ibukota, mengurangi polutan berbahaya dalam tubuh, dan menghilangkan perasaan juga pikiran negatif yang belakangan membayangi. Let’s call it a healing process.

Everyday is a Holiday

Everyday is holiday berlaku bagi saya selama di Jogja. Meski pekerjaan tetap saja menghantui setiap harinya, tak lantas membuat saya terkurung dan hanya duduk manis di depan laptop. Setiap menitnya berharga. Too many places to explore.

Saat berhubungan jarak jauh dengan pekerjaan, tanggung jawab atas pekerjaan masih harus dijunjung tinggi. Dan perburuan mencari #SpotKerjaHariIni pun selalu menyenangkan. Entah itu café, resto, museum, masjid sampai pinggir jalanan.  Favorit saya adalah Indische Koffie di Museum Benteng. Wifi-nya super kenceng dan tempatnya pun nyaman untuk berlama-lama. Begitu pekerjaan selesai dan laptop ditutup, saya menghabiskan sisa hari layaknya turis.

Gowes is Fun

Ada beberapa pilihan moda transportasi di Jogja. Selain tentu saja mobil dan motor, Jogja juga punya public transportation seperti Trans Jogja, bus, taksi, becak, delman, dan taksi motor. Tapi becak dan delman tentu bukan pilihan yang tepat untuk jarak yang agak jauh. Bahkan delman cenderung sebagai transportasi khusus wisata kota. Sesekali naik taksi tak jadi masalah. Tapi berhati-hatilah dengan taksi yang kebanyakan nembak harga alias tanpa argo. Sedangkan bus kota hanya menyentuh titik luar kota Jogja. Begitupun dengan Trans Jogja yang hanya menghubungkan jalan-jalan besar. Untuk long stay seperti saya, baiknya sewa kendaraan sendiri untuk menghemat biaya. Motor mungkin pilihan pertama. Berhubung saya nggak bisa naik motor, sepeda satu-satunya pilihan saya.

Dan ternyata pilihan saya sangat tepat. Gowes menyusuri kota Jogja sangatlah menyenangkan, terlebih di malam hari. Pengguna jalan di Jogja masih lebih sopan dan hormat pada pesepeda dibandingkan di ibukota [sudah pasti]. Bahkan di setiap lampu merah, pesepeda diberi tempat khusus berhenti di barisan paling depan. Saking menyenangkannya, satu hari tanpa gowes bisa membuat saya merindukan sepeda sewaan itu. Andai kebiasaan gowes ini bisa saya bawa ke ibukota.

Tradisi dan Budaya yang Mempesona

Jogja kota budaya. Bagi kita yang memiliki ketertarikan untuk tahu lebih lanjut mengenai budaya dan tradisinya yang tidak bisa kita temukan di ibukota dan kota-kota lain apalagi luar negeri, Jogja sudah pasti akan memanjakan kita dengan rangkaian wisata budaya yang mempesona.

Jangan pernah khawatir mati gaya di kota Jogja. Jogja menawarkan banyak pilihan tontonan mendidik yang berbau seni, budaya dan tradisi. Sebut saja Gelar Seni Budaya, Kirab Budaya HUT kota Jogja, Pisowanan Agung, Grebeg Gunungan, Royal Wedding Keraton, dan masih banyak yang lainnya. Yang tersebut tadi adalah yang terjadi selama saya berada di Jogja. Entah memang hanya keberuntungan belaka atau Tuhan begitu menyayangi dan memberikan saya kesempatan menjadi saksi moment-moment sakral itu. Bahkan menatap langsung Kanjeng Sultan. Sounds great, doesn’t it?

Mendadak Jurnalis

Jangan takut mati gaya di Jogja. Malah saya cenderung [sok] sibuk berburu peristiwa-peristiwa yang terjadwal, mulai dari yang super penting sampai kurang penting. You name it, I covered it all [bahkan yang orang Jogja pun kurang familiar]. Mulai dari musik, tari, film, teater, dan event-event sosial juga banyak festival lainnya. Sebut saja Pesta Rakyat Jogja dalam rangka HUT Jogjakarta ke 257, Jazz Mben Senen, Pasar Yakoban, Gelar Seni Budaya, Pekan Teater, Pekan Budaya Yogya, Festival Kesenian Kota Gedhe, Festival Layang Layang, Festival Orang-Orangan Sawah, Festival Kopi Internasional, Nikah Massal, dan masih banyak lagi. Bagaimana nggak sibuk, kalau tiap hari banyak hal menarik yang bisa saya kejar.

Lebih dari sekedar sibuk, I feel like I’m a journalist. Mungkin karena masih ada jiwa jurnalis dalam diri ini yang belum kelar tersalurkan. Dan live report pun hanya berakhir di linimasa. Sounds okay meski ndak berbayar. Heuheu…

Eksplor Keindahan Alam Jogja

Selain kental dengan keindahan budayanya, Jogja juga memiliki keindahan alam yang tidak bisa diremehkan. Wajib coba Merapi Lava Tour, hiking di Taman Wisata Plawangan Turgi Taman Nasional Gunung Merapi, jalan-jalan dan berburu sunset di beberapa pantai di Gunung Kidul (Pantai Indrayanti, Pantai Krakal, dan Pantai Ngobaran), telusur Goa Si Oyot, dan cave tubing di Kali si Oyo. Ada beberapa alternatif untuk nyobain cave tubing, diantaranya Goa Pindul dan Kalisuci. But at this point, I would not recommend anyone to do so. Karena apa? Beberapa waktu lalu tersebar foto cendol Goa Pindul yang cenderung nggak manusiawi saking padatnya. Biarkan Goa Pindul pulih dulu kali ya.

Politik yang Menggelitik

Ternyata, dibalik keistimewaan Jogja yang saya kagumi, saat ini sedang terjadi apa yang saya bahasakan “kekecewaan” warga asli Jogja dengan sistem politik dan kepemimpinan yang ada. Jogja yang semakin hari semakin metropolitan. Mungkin nama Jogjapolitan bisa dipertimbangkan. Dan saya khawatir, keistimewaan Jogja lama kelamaan akan terkubur bersamaan dengan beton-beton yang tertanam di tanah Jogja.

Mencoba untuk menahan diri setiap kali ingin ikut nimbrung mengomentari percakapan terkait politik di linimasa, saya sadar akan posisi saya sebagai the outsider yang tidak memiliki hak bersuara. Jadi, dengan menjadi silent reader dan sesekali bertanya tentang apa yang terjadi tanpa berkomentar, membuat saya semakin mengerti berada di golongan masyarakat biasa.

Iya, “Jogja Ora Didol”, and don’t even think about it! Just don’t!

Malioboro, kawasan bebas bosan

Entah kenapa, saya nggak pernah bosan melintas dan berdesakan di Jalan Malioboro. Tanpa harus mengeluarkan uang untuk berbelanja, cuci mata dan tawar menawar halal hukumnya kok.

I can tell, hampir setiap hari saya mampir ke Malioboro, entah itu edisi siang maupun malam. Jangan tanya berapa banyak batik yang saya beli selama saya di Jogja. Kurang maksimal rasanya jadi turis sebulan Jogja tanpa berbatik ria.

Eits jangan salah, kalau mulai bosan berbelanja, Malioboro juga punya harta karun tak terlihat, yang namanya Jogja Library Center. Nggak nyangka kan ada perpustakaan di tengah-tengah pusat belanja Malioboro? Boleh dicoba.

Titik Nol KM, the most favorite spot to spend the night

Selain Malioboro, tempat yang paling sering saya kunjungi adalah Titik Nol Kilometer saat malam hari. Meski selalu ramai, justru itu kelebihannya. Terlebih untuk solo traveler seperti saya karena tempat sepi bisa jadi ancaman bahaya. Ramainya bukan sembarang ramai, tapi juga meriah. Selain sate kere dan wedang ronde kesukaan saya, banyak juga tontonan disini [bukan cuma orang pacaran]. Atraksi menarik juga selalu tersuguh di area ini, mulai dari komunitas dengan kostum horror, roller blade, pecinta reptil, musik dan tari jalanan dari berbagai kelompok dan masih banyak atraksi lainnya. Meski meriah, saya masih bisa menjadikan area Titik Nol ini sebagai tempat bengong terbaik dan favorit di Jogja. Betapa nikmatnya duduk-duduk cantik disini sambil mengamati orang-orang berlalu lalang di depan kita. Kalau beruntung, bisa dapet wedang ronde gratis dari mas-mas tak dikenal. Heuheuheu… Dan kalau beruntung juga, bisa sekalian wisata FTV disini [nonton syuting FTV]. Tapi kalau lagi kurang beruntung, kamu bisa jadi objek keisengan sekelompok anak muda yang perlahan-lahan mendekati kita yang sedang duduk bengong sendiri lalu kemudian, seorang dari mereka ambil posisi tepat di depan kita dan seorang lainnya teriak “1, 2, 3, say cheese!” dan “jepret”! Kamu pun [terpaksa] ada di frame bersama mereka. Tapi harus saya akui idenya menarik. Saya nggak terganggu sama sekali dan justru merasa beruntung bisa jadi model foto mereka. Maklum kebanyakan solo traveling, seringnya usaha dulu baru bisa minta tolong difotoin.

Selain Titik Nol Kilometer, menikmati malam ala Jogja juga bisa dilakukan di beberapa tempat seperti Tugu Jogja, Lesehan Kopi Joss di belakang stasiun Tugu, Lesehan Sayyidan dan Malioboro pastinya.

Wisata Kuliner Jogja

Saya percaya setiap sudut Indonesia nggak pernah kehabisan jawaban saat kita berbicara tentang kuliner. Jogja sendiri punya banyak pilihan kuliner yang bikin ngiler. Nomor 1 tentu saja gudeg, meski saya nggak suka makanan manis itu. When it comes to gudeg, Gudeg Yu Djum sudah pasti jadi pilihan. Ada juga sate klatak di Pasar Wonokromo, Bakmi Kadin, iwak wader goreng, mangut lele Bu Is di Jetis, sate sapi Lapangan Banteng Kota Gedhe, Lesehan Lek Min, Lesehan Sayyidan dan banyak pilihan kuliner lokal lainnya.

Itu tadi yang murah meriah. Kalau isi kantongnya masih tebel, wajib juga mampir ke Sekar Kedhaton, Indische Koffie, Kedai Kebun Forum, Warung Bu Ajeng, Kesuma Restaurant, Semesta 24 jam, Dixie, Jejamuran, dan banyak lagi. [Sorry I couldn’t recall]

Nyusu Cantik

Jogja sebagai kota pelajar dan minuman keras tidak boleh dijual sembarangan [entah ada korelasinya atau tidak]. Hanya ada beberapa lokasi yang memperbolehkan minuman keras dijual secara bebas, yaitu kawasan wisatawan. Sebagai seorang peminum, hal itu tak jadi masalah. Yaiya, saya kan peminum susu😄

Sejak tinggal di Jogja, saya punya kebiasaan cenderung gaya hidup baru yaitu minum susu. I call it #nyusucantik. Dengan tujuan #Menuju50kg, Jogja seakan surga bagi para penggemar susu. Kita bisa temukan kedai susu dengan mudahnya, mulai dari kedai susu ala kadarnya di pinggir jalan hingga café cozy dengan harga susu mencapai 20ribu per gelasnya. Brand-nya pun dibuat menarik, mulai dari Kalimilk (termasuk pionir dalam dunia persusuan di Jogja), Jogja Milk, Kolam Susu, Asmuni alias Angkringan Susu Murni, Djoeragan Susu, dan masih banyak lagi yang belum sempet saya cobain satu per satu. Selain susu sapi, susu kambing pun bisa jadi pilihan. Silakan dicoba susu mambu wedhus. Ohya, meski program #Menuju50kg saya tidak tercapai sampai hari terakhir kabur cantik, setidaknya saya sudah berhasil mencapai 49 kg dari hanya 44kg saat tiba di Jogja. Jadi, nyusu cantik considered success!

21 Oktober 2013 – Genap 38 hari saya menenggelamkan diri dan berbaur dengan atmosfer Jogja. Sudah jauh melampaui rencana awal yang hanya sebulan. Mau tidak mau, suka tidak suka, ibukota memanggil dan menantikan kehadiran saya kembali.

Indescribable feeling, semua rasa campur aduk malam itu ketika kereta membawa saya kembali ke ibukota. Segalanya terlihat dan terasa begitu sempurna. Bahkan kecelakaan di jalan raya yang saya alami pun terasa begitu benar adanya. Nothing was wrong. Jika saya diminta menilai perjalanan saya ini, I would say 11 out of 10.

Jadi, masih berjuang dan bertahan dengan penat yang menyengat setiap hari?

Pack your things and go out! Meet new people, learn a lot from them, share what you have, and finally look at yourself and start loving yourself even more. By then, you will be a better person. 

Oh ya, kalo ada yang bilang kamu pengecut karena selalu melarikan diri dari masalah, do not listen. This is our battle. Nggak ada larangan mundur satu langkah ke belakang untuk bisa maju 5 langkah ke depan.

Note: Saya mendokumentasikan detil pengalaman saya selama 38 hari di Jogja hari demi hari. Silakan cari tag kaburcantik. Hope you like it as I do.

5 thoughts on “38 Days in Jogja

  1. Keren nih liputannya. komplet sangat. kapan2 jikalau sempat mampirlah😉
    Dan ternyata ada episode babak belur juga dari #kaburcantik duuuh…😐

    • Iya, sayang banget kemaren blm sempet kenal waktu lama di Jogja. next time ke Jogja, aku kabar2i yes.
      Episode babak belur alias kecelakaan diseruduk motor gede di lampu merah (yg deket cabin hotel) itu emang epic banget. Menutup kabur cantik di hari terakhir. heuheuheu… Untungnya nggak harus ke rumah sakit kok😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s