Berteduh di Bawah Payung Teduh

Sampai kapan kita akan berlari dan terus bersembunyi dari banyak hal yang mengganggu kita sehari-hari? Mulai dari hal kecil hingga hal besar yang mengingatkan kita akan kenangan indah (yang kemudian berubah jadi buruk)? Tidak ada jalan keluar lain selain berani menghadapinya.

Untuk itulah, saya mengapresiasi diri saya sendiri karena telah menjadi pemenang di arena sirkus emosi dan perasaan semacam ini. Setidaknya untuk malam ini. Musik Indah yang ditawarkan payung teduh membuat saya berpikir bahwa musik ini terlalu indah untuk dilupakan apalagi dibenci.

Beberapa hari lalu secara nggak sengaja, yang kemudian saya yakini sebagai pertanda, adalah ketika saya membaca kutipan wawancara Is, vokalis payung teduh di MyMagz Jogja. “Dan luka, gue suka banget luka. Saat dikasih luka itu indah banget, karena kita jadi sadar akan dunia” *be right back, mau belajar menyukai luka*

Dan malam ini, saya siap juggling perasaan di arena sirkus emosi berselimut pagelaran musik ala mahasiswa UGM. Payung Teduh is on stage right after Summer in Vienna, Plenthong Konslet, and Festivalist, brought by @Ecomusica_

Payung Teduh on stage

Payung Teduh on stage

Tidak mudah (kembali) menangkap setiap kata yang terlontar dan setiap nada yang terdengar. Percaya deh, nggak mudah sama sekali. But I did it! And I am so proud of my self.

“Tak perlu tertawa atau menangis. Pada gunung dan laut karena gunung dan laut tak punya rasa” :’)

– Purna Hall Budaya, UGM, Jogjakarta, 18 Oktober 2013 – 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s