Terjebak di antara Pecinta Kopi Garis Keras

Sekali lagi, saya bukanlah peminum kopi, apalagi penggemar kopi. Bukan apa-apa, maunya sih keren seperti kalian. Tapi apa daya tubuh ini nggak bisa diajak kompromi. Dan entah kenapa sampai saat ini saya belum menemukan kenikmatan dari cairan pahit itu. Mungkin karena hidup ini sudah terlalu pahit bagi saya.

Direkomendasikan oleh seorang teman baru di Jogja untuk mampir ke Klinik Kopi, karena katanya kopi yang dipesan akan diracik khusus untukmu sesuai selera sekaligus bebas tanya ini itu tentang kopi. Berhubung sahabat saya yang sedang berkunjung ini penggila kopi, saya putuskan untuk membawa dia ke tempat ini.

Memasuki area kebun pohon jati di Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma Jalan Gejayan yang gelap, saya sudah merasa tak yakin. Apa benar ini tempatnya? Begitu memasuki aula yang juga tak tampak sedikitpun seperti coffee shop yang kami cari, saya semakin merasa tak yakin. Tapi ternyata benar adanya. Aula ini adalah klinik kopi yang dimaksud.

First impression? Takjub plus pekewoh. I know I don’t belong here.

20131014_192959

Menarik (setidaknya untuk penggemar kopi sesungguhnya), si dokter kopi alias pemilik klinik kopi lah yang seorang diri dan secara khusus akan meracik kopi pesanan para pasiennya. Dalam satu sesi yang berlangsung selama 15 – 20 menit itu, si dokter hanya menerima 4 – 5 pasien. Pasien lainnya menunggu giliran setelah isi absen terlebih dahulu dan menunggu dipanggil. Selain meramu kopi pesanan, dokter kopi juga akan dengan senang hati menjelaskan kopi-kopi miliknya sekaligus pengalamannya berburu kopi ke berbagai pelosok Indonesia.

Saat saya bilang “I don’t belong here”, itu terbukti. Skakmat bagi saya saat ditanya biasa minum kopi apa dan berapa gelas sehari. Nggak ada pilihan selain jujur, saya jawab saya nggak minum kopi. Dan ketika kembali diserang dengan pertanyaan “lantas minum apa?”, saya pun jawab seadanya “minum susu!”. Sontak tawa pecah di antara kami berlima. *sigh* Pasien lain pun berucap, “Hidupnya kayak apa tuh nggak minum kopi?”. Dalam hati saya menjawab, “Yah begini aja sih”. Akh seketika saya merasa nggak keren di antara orang-orang keren ini. Tau begitu, mending saya ikut takbiran di Mesjid Gedhe.

Tapi meski demikian, bergaya ala penggemar kopi garis keras masih bisa kok😉

PicsArt_1381758505225

Klinik Kopi, Jogjakarta, 14 Oktober 2013 – 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s