Suwe Ora Jamu

Berawal dari gowes malam yang entah mau kemana dan hanya berbekal modal nekad keliling kota, membawa saya mampir ke pinggiran Jalan Dr Katamso, nggak jauh dari seberang Mall Jogjatronik. Entah ada pedagang apa di pojokan situ yang ramai pengunjung. Begitu mendekat, oalaaah ada kedai sederhana yang jual jamu tradisional. Tertarik, saya pun menghentikan gowes saya tepat di depannya.

Masih dalam program #Menuju50kg sebetulnya, tapi berhubung malam ini saya belum menemukan tongkrongan susu segar yang baru buat #nyusucantik, minum jamu sepertinya menarik juga. Entah kapan terakhir kali saya minum jamu. Kalo ndak salah waktu SD dulu.

Dan betul saja, susu yang dijual disini diracik langsung di tempat, bukan yang tinggal tuang. Rasanya pun jauh lebih seger, hasil perasan jari-jari si ibu penjual yang sudah njebibir (duh Bahasa Indonesia-nya apa saya bingung). Satu gelas jamu beras kencur harganya 7ribu.

Jamu racikan tradisional

Jamu racikan tradisional

Meski tradisi minum jamu sudah mulai ditinggalkan, tapi saya percaya tradisi ini bisa dikembalikan ke kejayaannya seperti dulu. Mengingat cuma kita yang punya jamu, kalau bukan kita yang minum, siapa lagi?

– Jalan Katamso, Jogjakarta, 30 September 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s