Dunia (Seakan) Terbalik

Pagi ini saya melangkah lebih awal. Terlalu pagi bahkan. Menjalani hari seperti kemarin. Ke kantor, meski tak ada morning meeting ataupun concal.

Dan seperti hari-hari lalu, kaki ini melangkah tanpa pasti. Serasa melayang.

Kopaja AC 602 berhenti di depan mata. Entah apa yang saya pikirkan, saya mengiyakan ajakan si kenek. Saya bahkan tidak tahu kemana Kopaja ini mengarah. Menikmati jalanan yang masih cenderung kosong ditemani musik dangdut, saya menembus pondok indah, gandaria dan seterusnya hingga saya tersadar sudah berada di daerah yang asing. Daerah Slipi dan sekitarnya. Saya putuskan untuk menyudahi perjalanan dengan Kopaja ini. Dan kembali saya putuskan melanjutkan perjalanan ke kantor dengan transportasi lain. Begitu seterusnya.

Capek.

Disaat semua orang ingin waktu tercepat untuk sampai kantor dan pulang kantor, saya justru mencari jalur terjauh dan terlama.

Di saat semua orang mendamba banyak hari libur, saya berharap setiap hari adalah hari kerja. Karena jika libur tiba, saya harus memutar otak memikirkan hendak apa dan kemana.

Iya, dunia ini serasa terbalik bagi saya. Dan saya pusing dibuatnya.

Tak mengapa. Mungkin ini adalah bayaran yang sepadan untuk diri ini karena telah menjadi bodoh. Biar jera, bisik saya dalam hati.

PicsArt_1376880539893

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s