Saksi Bisu Waisak 2013

May 25, 2013 – Mainstream. Bisa jadi saya dan ketujuh orang terdekat saya menganut paham ini. Kami hanyalah segelintir dari ratusan manusia yang datang jauh-jauh dari ibukota Jakarta menuju Jogja/Magelang dan Candi Borobudur lebih tepatnya, dengan berbagai moda transportasi seperti pesawat, kereta, dan kendaraan roda empat, yang ingin sekali menjadi saksi hidup perayaan moment rohani yang cukup sakral, yaitu Waisak.

Photo by Vivanews

Photo by Vivanews

Dengan segala cerita drama yang kami lalui masing-masing, dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, akhirnya kami mencapai titik yang sama. Titik dimana kami sepakat untuk merasa kecewa. Well, kecewa dengan bahasa yang berbeda tentu saja. Sebut saja kurang puas, menyesal, nggak lagi deh, rugi, failed, dan lain sebagainya.

Dari semua cerita perjalanan untuk sampai di depan Candi Borobudur, cerita saya dan ‘travelmate’ saya yang paling merana. Menghabiskan waktu 15 jam saja di jalur darat.

Beberapa teman yang juga ke Jogja demi Waisakan merasakan hal yang sama. Bahkan lebih parah karena menghabiskan waktu 24 jam di perjalanan dan nggak keburu menjamah Candi Borobudur.

So, apa saja kekacauan yang terjadi di TKP? Gerbang masuk yang entah dimana tanpa ada informasi yang jelas. Untung naluri kami membawa kami ke tempat yang tepat. Desak-desakanan udah kayak mau nonton Slank. Entah kenapa pintu gerbang yang sebesar itu hanya dibuka seuprit. Alhasil ratusan orang dorong-dorongan, desek-desekan, sikut-sikutan berebut masuk. Begitu sudah berhasil melewati pintu gerbang, tak lantas kami bisa bernapas lega karena kami masih harus berdesakan melewati pintu sensor yang sampai detik ini saya kurang paham maksud dan tujuannya. Pintu sensor tanpa pemeriksaan lebih lanjut? Berasa lagi main film Warkop.

Begitu memasuki area seremoni, hujan becek dan ga ada ojek. Mungkin ada ojek payung. Yang pasti ada penjual payung bocor seharga 50ribu. Sambutan pejabat daerah yang seharusnya bersifat netral pun dijadikan ajang kampanye. Dan moment pelepasan 1000 lampion yang paling dinantikan pun dihapuskan dari rundown acara. Memang hujan tidak bisa disalahkan. Tapi gagalnya lampion itu tadi menyempurnakan kekacauan yang sedari tadi sudah hampir sempurna.

Well setidaknya kami masih bisa merasakan hangat kebersamaan dengan segelas plastik kopi hitam dan pop mie (baca: menghibur diri masing-masing).

Lalu kekacauan ini tanggung jawab siapa? Ada yang bilang salah WALUBI yang terlalu percaya diri mengorganize perayaan besar ini tanpa melibatkan peran serta masyarakat setempat. Salah pengunjung dan turis (berarti kami masuk di kategori ini) yang terlalu banyak dan kurang menghargai kesakralan perayaan ini. Salah pawang hujan yang nggak bisa membendung turunnya hujan. Salah mbok-mbok penjual kopi dan pop mie yang nggak jaga kebersihan. Salah bapak-bapak penjual payung butut plus bocor seharga 50ribu.

Percuma sih kalau saling menyalahkan tanpa ada pembetulan disana sini.

Oh well, that’s the story. Nggak ada satupun jepretan foto yang saya ambil kecuali Kupat Tahu Pak Slamet ASELI Magelang yang enaknya nggak ketulungan.

20130526_131352

Sekali lagi, nggak semua trip itu memuaskan. Tapi selalu bisa jadi menyenangkan🙂

Mungkin tahun depan atau depannya lagi atau entah kapan, akan saya coba lagi.

#ThanksTravelMate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s