Jumat Sabtu dan Minggu di Danau Toba

Runaway birthday memang menjadi pilihan menarik bagi kita kita yang mau menyingkir sejenak dari keriaan ulang tahun. Atau sekedar ingin sesuatu yang berbeda.

Saya pribadi pernah sekali melarikan diri di hari spesial itu dan bersolo traveling ke HK. Kali ini saya mendapat satu kehormatan menemani travelmate saya yang ingin melewati moment usia barunya di luar kota. Pilihan jatuh ke Danau Toba. Sejak dulu saya memang ingin sekali ke sini. Dipikir-pikir, berasa saya yang ulang tahun karena senangnya nggak ketulungan akhirnya bisa sampai menginjakkan kaki di Pulau Samosir dan menyaksikan secara langsung danau terbesar se-Indonesia Raya ini. Dan se-Asia Tenggara!

Mendung danau toba 1-tile

Karena foto Danau Toba dengan langit biru terlalu mainstream. Ini dia Danau Toba dengan selimut awan hitam🙂

Jumat, 3 Mei 2013

Berbekal tiket promo dari Tiger (Mandala Airlines) seharga Rp 500ribuan PP Jakarta – Medan yang sudah dibooking jauh-jauh hari, kami bertolak ke Medan dengan first flight di Jumat subuh, 3 Mei 2013. Ini kali pertama kami terbang bareng. Selamat pagi dari ketinggian sekian puluh ribu kaki diatas permukaan laut.

20130503_054445-tile

Jam 8 pagi 2 pasang kaki ini mendarat manis di Polonia Medan. Kami pun mengingatkan diri masing-masing bahwa trip kali ini adalah trip ke daerah orang yang cukup jauh dari rumah dengan orang-orang lokal yang mungkin bisa bikin kita berdecak heran. Ya, orang-orang Medan dengan karakter dan personalitinya. Beruntung kami punya teman orang Medan yang sudah mewanti-wanti kami sejak awal untuk berhati-hati. Jangan pernah ambil taksi dari dalam airport. Berjalan kakilah sedikit keluar bandara dan temukan SPBU Petronas di seberang jalan. Disana berjejer taksi Bluebird yang siap mengantar kita dengan argo yang jujur. Dengar cerita, kenapa taksi sekelas Bluebird nggak bisa masuk terminal airport, karena bandara Polonia ini kan masih menjadi milik AU, jadi taksi-taksi yang beroperasi disini pun harus taksi dari koperasi yang berwenang. Tenang saja, dalam waktu dekat bandara komersil Medan akan dipindah kok ke Kualanamo. Yang pasti bandara baru Medan akan lebih luas dan lengkap fasilitasnya.

Dengan burung biru kami minta diantar ke terminal bus Ampelas. Ongkos taksi dari airport ke terminal bus sekitar 40rb. Terminal busnya cenderung sepi menurut kami. Tapi tidak dengan orang dan preman-premannya. Berusaha menemukan Bus Eksekutif Intra tujuan Parapat tapi justru kami hampir dipalak calo bus eksekutif lainnya seharga 200ribu berdua. Padahal seharusnya ongkos bus Medan – Parapat nggak jauh dari 20rb – 25rb. Ternyata bus Intra yang kami cari trayeknya cuma sampai Pematang Siantar. Lagi-lagi kami ditawari naik “taksi”. Oh no, thank you! Kami beralih ke merek bus lain, yakni Sejahtera. Sayangnya yang eksekutif katanya saja jalan. Alhasil mau nggak mau, kami naik bus Sejahtera ekonomi Medan – Parapat dengan harga tiket 25rb.

Berpanas-panasan di dalam bus ekonomi menuju Parapat selama 5 jam, lumayan bikin bokong tipis. Padahal berdasar riset dari berbagai catatan perjalanan ke Danau Toba, kebanyakan mereka hanya menghabiskan waktu 4 jam. Oh well, bersyukurlah pukul 2 siang kami tiba di Parapat. 2 kapal sudah menanti dan siap mengangkut para pelancong ke Tomok dan Tuk Tuk. Tujuan kami adalah desa wisata paling diminati wisatawan di Pulau Samosir, yaitu Tuk Tuk. Dengan ongkos kapal 10ribu per orang, mereka tepat waktu untuk berlayar setiap jam-nya. Mereka juga akan dengan senang hati mengantar setiap penumpangnya ke tujuan masing-masing. Sebagian besar penginapan di Tuk Tuk memang berada di pinggir danau dengan pemandangan langsung ke Danau Toba. Sebut saja Carolina Cottage, Samosir Cottage, Tabo Cottage, Samosir Villa Resort dan beberapa lainnya. Jadi penginapan-penginapan tersebut punya tempat pemberhentian alias dermaga kecil untuk menurunkan dan menaikkan tamu ke kapal.

Berbekal informasi dan rekomendasi dari forum-forum di internet, kami memilih Carolina Cottage yang memang harganya sesuai kantong. Harga kamar 210ribu per malam dengan ruangan yang spacious dan perfect beach view, fasilitas ok, good food at the restaurant, good spot to jump into the water. And I would say that Carolina is the best place to stay in Tuk Tuk. http://www.carolina-cottages.com

20130504_090907-tile

After 2 hours of doing nothing but sitting on the plane, 5 hours on the bus and 1 hour on the boat, finally we arrived! Beruntungnya kami disambut dengan pemandangan Danau Toba yang indah di Carolina. Rasa capek hilang seketika. Tapi panasnya bokong masih berasa😛

Alhasil, sore hari di Tuk Tuk kami habiskan dengan menikmati pemandangan di Carolina dan sekitarnya sekaligus cari tau what to do di Pulau Samosir dan rent a motorbike untuk keesokan harinya. Waktu makan malam pun tiba dan seketika muncullah masalah untuk beberapa hari ke depan. Makanan 100% halal sulit di dapat. Dari ujung ke ujung sudah kami telusuri tapi tak kunjung kami dapatkan pilihan makanan halal yang menarik. Hanya ada 1 atau 2 warung makan muslim. Itupun dengan pilihan menu yang seadanya, tidak menarik sama sekali. Mie goreng menjadi andalan untuk saat-saat seperti ini.

Sisa Jumat malam kami habiskan untuk bersantai dan menikmati angin Danau Toba yang tiupannya berasa angin laut. Anginnya berhembus kencang dan dingin. Brrrr!

Sabtu, 4 Mei 2013

Selamat pagi dari Pulau Samosir…

nyemplung yuk bro-tile

We’re so ready to explore Samosir Island!

Motor lengkap dengan sepasang helm-nya yang epic siap menemani kami berkelana seharian. Harga sewa motornya di 75ribu untuk 8 jam. Waktunya cukup banget kok kalo mau ngebolang dari ujung ke ujung.

20130504_151315

Let me share yah kami berkelana sampai mana saja, bahkan melebihi dari suggested place of interest yang ditawarkan hotel.

Suggested places to go: Tuk Tuk – Tomok (The Story of Sidabutar King and the Tomb, 5km) – Ambarita (The Story of Siallagan King and Stone Chair, 5km) – Simanindo (Batak Museum and Traditional Dancing performance pada waktu-waktu tertentu, 19km) – Lumban Suhi Suhi (A village where the people make ULOS, 33km) – Panguruan (Big Market only on Wednesday, 39 km) – The Hotspring (43km).

DSC06020-tile

Dengan rute seperti itu saja, jarak yang ditempuh sudah 48km (43km plus 5 km ke Tomok yang berlainan arah). Dirasa rute ini kurang cukup menantang, kami pun berimprovisasi!

DSC05995-tile

Improvisasi itu tercipta saat pertanyaan super penting muncul. Dimanakah lokasi terbaik untuk mendapatkan pandangan mata Danau Toba yang paling sempurna? Dan pertanyaan saya terjawab sudah ketika teman path rekomen kita untuk ke Menara Tele, spot terbaik dimana kita bisa menangkap view Danau Toba secara keseluruhan dari ketinggian. Berkendara motor 43 km lebih jauh lagi dari rencana awal bukanlah masalah. Kejar-kejaran dengan awan hitam yang semakin mendekat. Berkompromi dengan semakin dinginnya udara di ketinggian. Ngebut tapi harus ekstra hati-hati karena sebagian jalanan menanjak menuju Tele adalah jalanan yang rawan longsor bebatuan. Terlihat jelas oleh kami banyak batu-batuan yang baru longsor dan menutupi jalan. Dan di sisi lainnya, jurang menganga tanpa pagar pelindung. Tibalah kami di Menara Tele, Desa Tele.

menara tele

Dan semua itu terbayar dengan pandangan mata seperti ini. Sekali lagi, karena indahnya langit biru yang tertangkap kamera itu terlalu mainstream :p

???????????????????????????????

 

20130504_134531-tile

Jadi mau tau total jarak yang kami tempuh selama 6 – 7 jam? Kasarnya kurang lebih 180an km. Hmmm yah kira-kira jarak dari Jakarta ke Bandung via Tol Jagorawi – Puncak – Cipanas. Hebatnya, saya ikut ambil bagian mengendara motor ini lho meski sedikit dari total km yang tertempuh. *Note: saya nggak bisa naik motor

Bagus jalanan besar di Samosir ini lumayan bagus dan sepi. Jadi nggak ada hambatan sama sekali kecuali hujan saat perjalanan pulang.

Ohya, dari beberapa place of interest yang ditawarkan, secara nggak sengaja kami menemukan “pantai” ini. Lumayan lebih bagus dibandingkan pantai buatan yang disebut pantai pasir putih yang kami kunjungi sebelumnya. Mampir sebentar nggak rugi kok.

20130504_151209-tile

Jam 4 sore kami sudah kembali ke Carolina. Agak mendung memang saat itu, tapi air danau di depan Carolina seakan memanggil-manggil minta diicip. Nyeburlah kami meski sebentar karena sore itu dinginnya nggak ketulungan. Capek berkendara sekian jam ditambah nyebur meski sebentar, bikin perut keroncongan. Kesulitan memilih tempat makan halal kembali melanda. Tapi bersyukur kami berhasil menghindari mie goreng dan berhasil nyicip fu yung hai ala Samosir (yang rasa dan tampilannya aneh) di salah satu restoran yang sepi banget, dan lama banget.

Menghabiskan malam minggu masih di Tuk Tuk, Pulau Samosir, tanpa keriaan dan huru hara kota. Ah what more can I ask? Sayang, itu malam terakhir kami di Samosir karena keesokan harinya kami harus beranjak ke kota Medan.

DSC_2517-tile

Minggu pagi, 5 May 2013

Agak nggak rela harus meninggalkan Pulau ini. Si Pussy yang kami jumpai di Carolina pun berat melepas kepergian kami #halah

opo kon ndhelok2

Jam 10 pagi kami sudah bersiap dan duduk-duduk manis di dermaga kecil sambil menunggu kapal menjemput kami. Yang harus kita lakukan supaya mereka menjemput adalah lambaikan tangan saat mereka melintas. Usahakan yang heboh supaya terlihat😛

20130505_095254-tile

Kurang dari 1 jam kapal sudah merapat di Parapat. Kali ini untuk kembali ke Medan, kami putuskan untuk tidak lagi naik bus ekonomi melainkan charter mobil (taksi) dengan harga Rp 80rb per orang. Kurang beruntung karena saat itu armada taksi ini full. Jadi 7 orang penumpang harus sabar duduk manis selama 4 jam. Lumayan lebih cepat 1 jam dibandingkan naik bus meski agak sempit.

Selamat datang di Medan. Saatnya city tour dan memberi sensasi kuliner yang berbeda dari kota Medan. Supaya lebih afdol, baiknya jalan-jalan naik bentor, alat transportasi khas Medan sejenis becak tapi pakai motor. Pinter-pinter nawar karena sekali lagi banyak dari mereka yang culas. Harusnya 100ribu udah bisa diajak jalan kemana-mana. Kami kena Rp150rb plus duren Ucok seharga 50rb. Jadi bisa dibilang kami bayar 200rb *sigh. Kemana saja kami dengan Bentor itu? Pertama kami minta diajak ke tempat beli oleh-oleh kain ulos. Karena sudah terlalu sore, beberapa pasar pilihan sudah tutup. Tapi beruntung masih ada 1 toko yang buka. Beruntung juga saya kebagian oleh-oleh😛 Dari situ kami beralih ke Pusat Jajan Pagaruyung yang dulunya terkenal dengan nama Keling, daerahnya orang-orang India dan keturunannya. Makanan disinipun khas India seperti martabak dan roti cane. Emang enak kok, aseli buatan mereka.

mtf_cxvKD_1235

Masih di area Keling, kami ke mampir ke Kuil Shri Mariaman yang dibangun pada tahun 1884. Dan sialnya kami kena palak 20rb disini. Niat hati kasih uang seikhlasnya yang menurut kami cukup banget sebagai uang masuk ke tempat-tempat seperti itu, tapi nyatanya mereka minta lebih. Hih!

Sebagai pecinta durian, sejak awal kami berencana ke Medan, yang paling pertama muncul adalah harus banget nyicip durian Medan. Kami minta diantar ke Durian Ucok yang paling terkenal se-Medan Raya. Sayangnya saat itu bukan musim terbaik. Duriannya terbatas dan kurang yahud katanya. Apa boleh dikata, yang penting masih ada yang bisa dicoba. 1 durian ukuran sedang plus bonus durian super kecil cukup menjawab rasa penasaran.

DSC_2561

Malam harinya kami habiskan dengan berjalan kaki selama lebih dari 30 menit dari Jl Sisingamangaraja, tempat kami menginap menuju Sun Plaza. Ceritanya mau jadi anak mall Medan plus makan malam di Texas Chicken. Nggak ketinggalan main di Timezone. Well, maaf tapi kami hanyalah 2 manusia biasa yang kadang tak bisa lepas dari jeratan mall dan fast food meski saat traveling😛

Senin, 6 Mei 2013 saatnya kembali ke peraduan…

Kain ulos sudah terbungkus rapi di dalam ransel. Meranti berbagai rasa pun sudah ditangan. Hasil jepretan kamera DSLR, kamera poket dan kamera handphone sudah tersimpan dengan baik di tempatnya. Dua pasang mata ini pun sudah menikmati indahnya Danau Toba dan Pulau Samosir secara langsung. Dan semua cerita traveling kali ini sudah terekam dengan baik di memori kami masing-masing. Mari pulang…

Thanks travelmate for taking me there. And Happy birthday!

looooooookkkkk

*credit photos by helliepics

6 thoughts on “Jumat Sabtu dan Minggu di Danau Toba

    • Sejauh mata memantau di Desa Tuk Tuk sih nggak ada camp ground gitu yah. tapi pernah baca, kalo mau kemping asal diriin tenda, luas tuh samosir. masih banyak hutan :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s