Mengukur Jalur Pantai Selatan #WeekendTrip

Akhir pekan panjang alias long weekend dalam rangka Hari Paskah, 29 Maret 2013. Waktu ada, travelmate available, uang seadanya, kendaraan selalu siap. Pertanyaannya adalah, kemana hendak kita melangkah? Kemana ingin kita berkendara?

Setelah berdiskusi cukup panjang berhari-hari,  ngalor ngidul, ini itu, akhirnya kami putuskan untuk menyusuri daerah selatan. Kira-kira seperti ini rencana awalnya: Jakarta – Pelabuhan Ratu – Pantai Sawarna – Ujung Genteng – Sukabumi – Garut – Jakarta.

peta-tile

Jumat dini hari pukul 1.30 kami berkemas. Enaknya jalan-jalan bawa kendaraan, apapun bisa diangkut serta. Termasuk barang-barang kurang penting seperti contohnya bantal dan boneka -_- Ini kali kedua kami road trip. Sekali lagi, perkenalkan traveler sejati sekaligus pemeran utamanya, Marno. Meski judulnya city car, tapi Marno terbukti cukup tangguh untuk menaklukkan berbagai medan sulit dan sangat sulit.

DSC_2142-tile

Marni alias Marno pula yang menjadi saksi bisu (#tsaah) indahnya perjalanan kami di sepertiga malam terakhir menjelang subuh menuju Pelabuhan Ratu, dimana kebun sawit menyelimuti jejak kami dan hanya disinari terangnya bulan yang saat itu sedang penuh-penuhnya. Dan cantik-cantiknya kalau kata payung teduh🙂

20130329_052830-tile

Tak disangka tak dinyana, sepertinya pemilihan waktu berangkat dari Jakarta ke Pelabuhan Ratu sangat tepat. Kami hanya menghabiskan waktu 4 jam saja di hari libur panjang itu. Itu pun sudah pakai macet di pintu keluar tol Ciawi menuju Jalan Raya Sukabumi. Karena kami cukup pintar, jalan alternative via kompleks Rancamaya pun ditelusuri. Thanks to Google Maps! (kali ini dia membantu sangat).

Menikmati pemandangan Pantai Citepus di pagi hari sembari menyaksikan bulan yang perlahan menghilang, cukup menyegarkan. Apalagi ditambah sarapan popmie dan gorengan. Mewah!

20130329_061314-tile

Berencana melanjutkan perjalanan ke tempat yang katanya “Surga Yang Tersembunyi” itu, tapi mata nggak bisa diajak kompromi. Apa mau dikata, akhirnya kami putuskan untuk memejam sebentar. Jam 9 kurang kami terbangun dan bersyukur masih ada di tempat yang sama, Pantai Citepus.

Melanjutkan penelusuran kami ke Pantai Sawarna dari Pantai Citepus, hanya memakan waktu kurang dari 2 jam saja dengan jalanan berbukit dan berkelok. Seru!

DSC_2212-tile

Dan tibalah kami di Desa Sawarna…

DSC_2146-tile

Begitu menginjakkan kaki di desa Sawarna, kami harus berjalan kurang lebih 500 meter untuk menuju ke pantainya. Dan harus banget melewati jembatan goyang ini.

DSC_2196-tile

Begitu mata ini menatap Pantai Sawarna dan sekitarnya, it was just okay. Masih kurang cihuy dibandingkan Pantai Indrayanti dan pantai “entah-apa-namanya” saat kami mampir di perjalanan Jogja tempo hari. Ombaknya memang besar, maka dari itu dilarang berenang. Saat itu matahari sedang terik-teriknya. Bagusnya, langit membiru minta difoto berkali-kali. Sayang kami melewatkan spot terkenal lainnya disini seperti Tanjung Layar dll.

20130329_104448-tile

Tak usah berlama-lama berjemur di pantai ini, beberapa kali pandang dan beberapa kali jepret sudah cukup mengcover semua kok. Mari bersantap ala masakan laut (baca: ikan bakar).

Kenyang sudah, gobyos apalagi. Pliket semua (if you know what I’m saying). Beruntung ada villa seorang teman dan kebetulan dia pun sedang berlibur disana. Berangkatlah kami menuju Pantai Karang Hawu untuk sekedar singgah. Dan numpang mandi tentu saja. Kira-kira seperti inilah pemandangan indah pantai selatan yang tertangkap mata dari jalanan berbukit menuju Karang Hawu.

DSC_2121-tile

Sekitar pukul 3.30 sore kami melanjutkan perjalanan menuju Ujung Genteng dengan berbekal Google Maps on Ipad. Menurut informasi dari Google, perjalanan dari Pelabuhan Ratu ke Ujung Genteng berkisar antara 3 – 4 jam saja. Tapi kenyataannya, kami menghabiskan waktu lebih dari 6 jam. Dan yang paling menarik, kami telusuri jalur yang salah sampai 2 kali! 2 kali salah dan 2-2nya jalanan rusak parah! Nyasar di malam hari dimana tidak ada sama sekali lampu jalan. Belum lengkap tanpa hujan! Sempurna bukan? Bisa dibayangkan bagaimana stressnya kami melalui itu semua. Mau menyerah? Sudah setengah jalan dan untuk kembali ke Pelabuhan Ratu pun harus melewati jalur berbukit yang agak mengkhawatirkan jika dilalui di malam hari. Kami putuskan, entah berapa lama lagi kami harus menyiksa Marni di jalanan yang kurang bersahabat itu, untuk terus melaju and have the faith. Dalam hati, kalau sampai Ujung Genteng nggak sebanding dengan semua perjuangan ini….

Well at least perjalanan sebelum gelapnya cukup indah seperti ini…

20130329_090112-tile

Jam 10 malam akhirnya kami tiba di peradaban, Ujung Genteng. Dan masalah tak berhenti sampai disitu. Pertanyaan selanjutnya adalah dimana kami harus menginap dan meluruskan punggung ini yang sudah hampir 24 jam berkendara. Berhubung saat itu long weekend, no room available di sepanjang bibir pantai. Alhasil, dimana pun boleh lah.

Niat hati menuju ke penangkaran penyu di malam itu. Tapi apa daya saya sudah tak sanggup lagi. Berpikir masih ada hari esok yang semoga saja ada yang bisa dilihat. Sampai detik itu masih yakin 100% esok kan lebih baik.

Sabtu pagi (tak terlalu pagi karena kami bangun siang), kami mencoba mencari keindahan Ujung Genteng dan beberapa spot yang ditawarkan disini. Kami kembali berkendara tanpa tau mau kemana, hanya mengikuti petunjuk jalan yang ada. Hujan turun, becek, dan nggak ada ojek. Jalanan semakin rusak. Kami mulai panik. Awalnya kami masih berpapasan dengan beberapa mobil yang boleh dibilang setipe dengan Marni bahkan sedan pun ada. Ada keyakinan bahwa Marni pun mampu. Sampai pada satu titik dimana kami melalui jalan dengan genangan air yang cukup tinggi dan batu-batu besar bersembunyi di dalam genangan air itu. Dan tidak ada siapapun selain kami. Akh! Kami pun memutuskan untuk berbalik arah. Sudahlah jangan dipaksa. Mungkin lebih jauh lagi akan lebih parah.

20130330_102126-tile

Alhasil kami hanya mampir ke satu pantai (entah apa namanya) yang berpasir kerikil dan ombak cukup besar. Cukup main air sedikit disini dan berfoto. Selebihnya, tak ada.

20130330_104708-tile

Kembali ke penginapan untuk bebenah dan check out menuju… entah mau kemana lagi. Masih bertanya pada Google, kami menuju Curug Cikaso yang berjarak sekitar 1 jam dari Ujung Genteng. Dari parkiran, kita bisa berjalan kaki nggak sampai 10 menit kok. Alternatively, kita bisa naik perahu dengan biaya 60rb per perahu. Di lokasi ini saya sedikit bingung, dari awal memasuki area, sudah ada retribusi yang harus dibayar. Masuk beberapa langkah, ada lagi yang harus dibayar. Masuk lebih dalam, ada uang portal supaya dibuka. Dan seterusnya.

Anyway, beginilah penampakan Curug Cikaso. Sayangnya habis hujan, jadi sedikit keruh airnya. *mengurungkan niat untuk nyebur*

20130330_135428-tile

Layaknya supir AKAP, kami pun bergaul dengan supir-supir lain. Salah satunya si bapak cerewet yang untungnya ngasih banyak masukan. Termasuk saat dia kaget ketika tahu kita akan melanjutkan perjalanan ke Garut. Terlalu jauh katanya😛 Begitu liat di peta, iya juga sih. Lantas kami putuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Sukabumi dan istirahat semalam sebelum meneruskan perjalanan keesokan paginya. Well, that’s the plan. Tapi apalah daya, kita hanya bisa merencanakan, travelmate pula yang menentukan😀

Berbagai macam pertimbangan muncul. Kami putuskan untuk menyudahi perjalanan panjang ini dan pulang. Lupakan Garut, Cipanas dan sekitarnya. Lupakan rencana bersantai di air panas atau memancing. Maybe next time.

Tapi kita sampai kota Sukabumi kok dan mampir sebentar untuk makan malam di Warung Ibu Entik, masakan khas Sunda. Buat saya, agak sedikit asin. Tapi itulah masakan Sunda.

Beruntung perjalanan pulangnya normal. Sedikit macet tapi lagi-lagi thanks to Google Maps yang bisa membawa kita ke jalan-jalan alternatif.

20130329_092903-tile

Dari perjalanan ini, saya percaya bahwasannya hanya sedikit persen dari destinasi yang kita tuju akan menjadi bahan cerita saat traveling. Lebih banyak persen ada di proses perjalanannya. Kadang destinasinya kurang memuaskan atau bahkan jauh dari ekspektasi kita. Tapi cerita perjalanannya itulah yang seru. Dan seru bukan berarti harus menyenangkan. Kadang menyebalkan. Tapi percaya deh, end of the day, cerita-cerita itu yang akan jadi bahan ketawaan kita.

20130330_104820-tile

Terima kasih untuk travelmate yang seringnya duduk di sebelah kanan, mengendali Marni supaya baik jalannya. Hey!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s