Jangan Salah Pilih Pendamping!

Tulisan ini saya tulis dalam keadaan tenang dan nyaman. Pastinya akan jauh berbeda jika saya menuliskan keluhan ini on the spot dimana rasa kecewa dan marah sudah sampai puncaknya.

Ibarat memilih pendamping hidup, memilih pendamping traveling pun harus penuh pertimbangan dan kalau bisa riset dulu sebelum memutuskan. Website yang tampak pro dan mulut manis sang marketing tak menjamin sama sekali.

Sebut saja LB, mereka yang mengklaim diri mereka sebagai travel consultant handal terutama bagi kita-kita yang mau LIBURAN ke BANTEN dan sekitarnya. Mereka menawarkan paket liburan tahun baru yang katanya unforgettable di Pulau Peucang – Ujung Kulon selama 3D2N dengan harga Rp785,000.

DSC05536

Selamat datang di Pulau Peucang

Cukup mahal memang, tapi tak ada pilihan lain bagi saya dan travelmate yang mau menjauh dari Jakarta di malam tahun baru. Sekalian first trial alat-alat snorkeling baru saya😛

Kami berdua menjadi peserta terakhir nomor 25 dan 26 meski melebihi kuota yang awalnya hanya 25 orang. Statement si marketing yang terus-terusan bilang “Kami mengutamakan kualitas mbak, bukan kuantitas. Jadi maaf, kuota kami sudah 24 dan nggak bisa nambah 2 orang”, yang pada akhirnya pun kami berdua diperbolehkan join. Uang, uang, uang kan?

Minggu, 30 December 2012 subuh. Dari awal sudah tercium bau nggak beres dimana tak satupun dari mereka muncul di Sarinah (lokasi meeting point) dan tak ada yang mendampingi bus penjemput. Kalau supirnya tau jalan dan tau harus kemana sih no problem lah ya. Tapi kalo nggak tau jalan dan bingung lokasi tujuan tepatnya dimana, yah keterlaluan. Begitu sampai di Sumur, saatnya pembagian kamar, sesungguhnya kami well aware bahwa kami akan sharing room, dipisah cewe dan cowo yah idealnya. Tapi apa? 4 cewe termasuk saya dapet kamar dadakan di office wisma badak. (ini lebih tepat disebut kandang ayam daripada kamar sih). Dan 3 cowo termasuk teman saya terlunta-lunta ga dapet kamar. Sialnya, si marketing yang menjanjikan semua baik-baik saja itu tak akan nongol di trip ini. Beliau sudah melepaskan tanggung jawabnya ke anak buahnya yang kami lihat pun sama sekali ga siap menerima kami dan ga siap juga untuk terima omelan-omelan dari para peserta.

Akhirnya kami bertujuh (yang kemudian menjadi roommate for the rest of the days) dapat kamar layak setelah makan siang. Nah, kenapa nggak dari tadi Mas?

Udahlah bingung pembagian kamar, bingung juga pembagian kapal yang semestinya ga harus bingung juga. Tapi liat muka si mas pendamping yang linglung ini, bikin kita makin senewen. Perjalanan menyebrang dari Sumur ke Pulau Peucang di 31 Desember pagi  ditemani hujan cukup lebat, angin kencang, dan ombak besar. To be honest, wisata membelah ombak ini seru abis. Ibarat wahana Kora-Kora 4D. Dan salah apa lagi mereka? Life Vest yang tersedia banyak yang sudah tak layak pakai. Bahkan 13 orang dari kami nggak kebagian life vest. Nah loh? Ga diitung yah jumlah pesertanya? Ini bodoh dan benar-benar bodoh.

Karena keadaan cuaca yang kurang bersahabat (untuk alasan ini, kami pun nggak bisa complain yah. We know it), tujuan satu spot snorkeling sebelum ke Pulau Peucang pun terpaksa kami lewatkan dan kami langsung menuju Pulau Peucang. Ohya, mas-mas dari LB ini ga ikut lho ke Pulau Peucang. Kami diserahkan seutuhnya ke local guide Peucang yang mana katanya nggak tau seutuhnya itinerary yang ditawarkan LB.

Begitu sampai Pulau Peucang, kami dilepas begitu saja. Kata local guide-nya setelah makan siang ini, waktunya free time. Saat ditanya kapan dan dimana kami snorkeling, dia menjawab, “yah sekarang ini kan free time. silakan snorkeling. Cari aja spot-spot sekitar sini”. Mau nabok ga sih rasanya? Dimana-mana snorkeling itu masuk ke salah satu acara inti, bukan free time. Free time itu dipake buat mandi, solat, istirahat dll. Lagian, kami mana tau spot-spot snorkeling disana secara kami ini kan pengunjung dan dia guide. Setahu saya kalo mau ke spot yang bagus itu harus diantar perahu -__-! #okesip

Ohya, kamar yang kami dapatkan ini pun kurang layak. Sudahlah kami harus berbagi kamar dengan orang asing, cowo cewe dicampur pula. Untungnya kami sudah cukup dekat, jadi ndak begitu masalah. Yang jadi masalah besar adalah ada sepasang kekasih (cewe indo dan cowo bule) yang nggak dapet kamar dan ditawarkan ke kamar kami yang sudah bertujuh untuk bisa ditebengin 2 orang lagi. I beg your pardon? Bukannya jahat atau nggak kasian sih sama mereka, tapi kami pun sudah patut dikasihani dengan keadaan kamar seperti itu. Alhasil sampai malam mereka nggak dapat kamar (sebelumnya diungsikan ke gudang) dan terpaksa bayar tambahan 500rb supaya bisa dapet kamar (kamar AC). Padahal pasangan ini ditawarin ikut ngetrip ke Peucang sama si local guide dengan biaya 500ribuan per orang (if i’m not mistaken). Tapi yo moso bodoh banget sih nawar-nawarin tanpa ada jaminan dapet kamar. Bodohnya kelewatan.

Sore harinya, sesuai itin, mereka nawarin trekking ke Karang Copong untuk melihat sunset. Saking pada kecewanya, coba tebak berapa orang yang akhirnya mau ikut trekking? 6 out of 26! 5 dari 6 orang itu dari kelompok kami. Kami masih penasaran aja, setelah semua kekacauan ini, mereka masih punya apa sih yang mau dikasih ke kita? Kau jual, kami beli.

Malamnya saat makan malam dan semua bekumpul di restoran, kami semua menumpahkan amarah dan kekecewaan kami ke local guide ini. Betapa kecewanya kami karena seharian penuh kami tidak mendapatkan apapun seperti yang dijanjikan. Spot-spot dan pulau-pulau yang “rencananya” dikunjungi, sama sekali tak terjamah. Dari sekian banyak tour site yang dijanjikan, paling cuma 20%nya saja terlaksana. mungkin kurang. Yang katanya bakal ada canoing pun ternyata dusta. Ini nih yang bikin kami semua kekeuh penasaran ingin berjump.a sang marketing handal. Mana tanggung jawabnya? Kok semuanya serba “rencananya”. Setiap kali briefing, mereka selalu bilang rencanyanya kesini, kesini, kesini, dan kesini. Banyak banget rencananya. Tapi rencana tinggallah rencana. Let’s call this “Rencananya Trip”.

Hal lain yang bikin kami murka. Malam tahun baru sudah pasti kami berharap keriaan yang tak biasa kan? Itu juga yang ditawarkan LB untuk bermalam tahun baruan di Pulau Peucang. Mereka bilang akan ada barbeque dan pesta kembang api. Tapi apa? Sudahlah uang di Pulau Peucang itu tak bernilai karena ga ada warung. Boro-boro barbeque, kami ditinggal bengong dengan mulut nganggur disaat group lain sepertinya sedang bergembira bakar-bakar ikan. Dan si local guide pun melarang adanya pembakaran petasan dan kembang api. Apa-apaan? Lah wong ada di itin-nya kok pesta kembang api. Masuk akal sih alasan dibalik pelarangan itu karena area tersebut termasuk area konservasi and the bla bla bla. Tapi kenapa dengan bodohnya LB mau bikin pesta kembang api? Ga mau rugi, salah satu rombongan yang udah repot-repot bawa banyak kembang api akhirnya memutuskan untuk tetap menyalakannya di pantai tepat di jam 12. Ah, ga cuma group kami ini kok yang nyalain kembang api, ada 2 group lainnya yang ikut serta. Dan itu menambah meriah malam tahun baru. Bodo amat lah yah. We know how to have fun.

Hari ketiga, 1 Januari 2013. We skipped sunrise. Setelah sarapan, kami beranjak ke Cidaon untuk menengok banteng yang sedang merumput. Hmmm all we can see cuma ada 1 banteng dan itupun kurus. Kasihan. Sebelum pulang siang itu, bagaimanapun caranya kami harus snorkeling! Dibawalah kami ke 3 spot snorkeling. Tadinya local guide cuma mau mengantar ke 2 spot, tapi kami memaksa setidaknya 3 spot. Nah kan sebenernya sih bisa-bisa aja kalo diniatin -_-!

Dan saatnya pulang. Bahkan sampai kami beranjak pulang pun, kami ber-26 tak henti-hentinya mencaci maki orang-orang ini. But in a fun way. Karena pada akhirnya, merugilah kita kalo liburan dipake cuma untuk marah-marah. Apalagi yang paling pantas dimarah-marahin pun tak nampak batang hidungnya. However, kami bersyukur mengenal satu sama lain. Karena perasaan senasib dan sepenanggungan inilah kami jadi akrab. Entah kenapa ikatan itu terjalin begitu saja untuk menjatuhkan pihak yang tak bertanggung jawab. Hehehe…

Untuk menyalurkan rasa ini, saya sudah menyampaikan salam manis saya ke account twitter mereka juga ke web mereka yang terlihat sungguh menjanjikan. Sebelum comment saya di web mereka dihapus, ada baiknya saya capture disini:

Comment Web

In conclusion, hati-hati memilih travel agent yah. Kalo cukup pede, mending atur sendiri deh tripnya. Atau pilihan lain ikutan sharing cost aja yang banyak di forum-forum itu. Mereka ga ambil untung karena mereka cuma cari temen jalan dan temen sharing cost supaya lebih murah. Buat saya, pengalaman ini menjadi pelajaran super menarik. And I Thank God for that. Juga bersyukur atas teman-teman baru yang menyenangkan.

One thought on “Jangan Salah Pilih Pendamping!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s