Dilarang Teriak!

Dilarang Teriak disini!

DSC_1045-tile

Pernah nggak sih kita ngerasa marah, kesel, capek, atau bahkan bahagia banget sampe pingin teriak sekuat tenaga? But at the same time you just can’t express your feeling through words. Atau bisa jadi yang dirasa adalah indescribable feeling? Tapi gimana mau teriak atau mengekspresikan feeling itu tadi? Maunya sih teriak sekenceng-kencengnya, tapi boro-boro teriak, kadang saat kita jadi sedikit lebih diam pun sudah dipertanyakan, “Kenapa? Ada masalah ya? Cerita dong!”. Apalagi kalo kita teriak-teriak, bisa bikin semua orang panik atau worst case-nya bisa disangka stress.

Ada jalan lain untuk bisa teriak sesuka hati tanpa diganggu kekepoan orang-orang sekitar. Pergilah ke Dufan atau tempat-tempat sejenisnya dimana kita bisa teriak sekencang-kencangnya tanpa ada yang peduli. Disini, bukan cuma teriak biasa, tapi juga bisa sekalian misuh-misuh dan sesekali bolehlah kata-kata kotor itu keluar😛 The feeling was absolutely GOOD! It released your tense for a moment. Yah lumayanlah yaa…

It’s been a while dan hari Minggu lalu demi nggak mau merugi atas voucher discount 100rb, pergilah kami ke Dufan. Gile, tiketnya makin meroket naik yah. Harga di hari biasa dibanderol Rp 220,000 dan Rp 250,000 saat weekend juga hari libur. Weks?! Yah selama fasilitasnya ditingkatkan plus wahananya diperbanyak sih okelah ya.

Kunjungan kami hari itu khusus ditujukan untuk wahana-wahana ekstrim yang menuntut nyali  cukup kuat. Sebut saja Kora-Kora, Kicir-Kicir, Tornado, Hysteria, dan Halilintar. Semua wahana itu kami taklukkan, bahkan Kora-Kora ga cukup sekaleee ;D Bener deh, perut sampe kram karena teriak-teriak + ketawa yang nggak ada habisnya.

Ibarat olahraga, perlu ada cooling down-nya juga nih. Carrousel alias komidi putar would be the best option. Apalagi dimalam hari dia tampil lebih cantik karena lampu-lampunya yang menyala. Sesekali nggak dosa kok kembali ke masa kecil dan bertingkah layaknya anak kecil #excuse

Belum afdol meninggalkan Dufan tanpa foto bersama maskot Dufan si bekantan ini.

DSC_1085

Saya dan Bekantan asli Dufan

Tips aja nih, lebih baik berkunjung ke Dufan di hari biasa. Tapi kalo memang cuma punya waktu di akhir pekan, mending datang di agak sore dimana antrian di semua wahana sudah mulai manusiawi. Nggak mau kan buang-buang waktu 1 – 2 jam cuma buat ngantri?

In my opinion, Dufan masih pemain tunggal untuk wisata taman bermain di Indonesia. Bolehlah sekarang sudah ada Trans Studio di Bandung dan Makassar. Tapi pamornya belum bisa ngalahin Dufan. Saya pun belum pernah kesana sih, jadi belum bisa kasih komparasi. Yang saya tau, mereka indoor instead of outdoor. Entah apakah itu menjadi nilai lebih atau justru sebaliknya. Saya pribadi merasa lebih nyaman bermain di outdoor. Well, it’s all coming back to you.

Karena pemain tunggal itulah, penuhnya Dufan bisa bikin senewen. Nggak cuma saat mau naik wahana, mau makan, mau jajan, bahkan mau solat pun ngantri -_-! Yang pasti Dufan harus bisa menaikkan standardnya agar jadi tujuan wisata bukan hanya untuk turis lokal tapi juga turis dari luar. Coba, berapa jumlah pengunjung Universal Studio Singapore yang datang dari Indonesia tiap tahunnya? Banyak yang pasti. Termasuk kamu kan? Dan saya juga😀

Anyway, #ThanksTravelmate!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s