The Girl Who Won the Bouquet

Are you one of those girls yang ga pernah absen baris di depan pelaminan dengan posisi siap banget sikut-sikutan buat ngerebutin bunga yang dilempar si pengantin wanita?

Jujur, I have experienced those moments several time sih. Not always dan ga segitunya. Wanita yang memegang teguh prinsip “Nothing Can Stop Me” ini ternyata ga seberani itu juga. Masih pilih-pilih tempat dan kondisi untuk jadi brutal. Dari sekian banyak wedding reception yang saya hadiri, bahkan ga sampe setengahnya juga saya ikut-ikutan berbaris bareng para single ladies yang berharap banget ini.

Dan akhirnya, Sabtu malam, 1 Desember 2012, langit malam di Bantul Jogjakarta pun menjadi saksi dimana for the first and might be the last time, I was the lucky girl who won the bouquet. Ga ketangkep sih, rebutan ngambil di lantai. But I am the one who got it! Excited? So pasti! Salah tingkah? Iya banget. “It’s a SIGN! It’s a SIGN”, teriak rombongan saya.

wedding flower-tile 02

Kenapa musti excited? Karena konon, inti dari tradisi lempar bunga ini adalah siapapun yang berhasil dapetin rangkaian bunga yang dilempar, akan segera menyusul si pengantin duduk di pelaminan. Ah, dari dulu saya ndak terlalu suka kata “menyusul” dalam hal nikah-nikahan ini. Dikira balapan lari apa? -_- Jadi maksudnya, yang berhasil menangkap bunga ini dipercaya will be the next bride. Oh yeah? Siapa yang ga mau coba? Selanjutnya bisa dilihat dari barisan (yang kebanyakan) wanita single dengan muka “mupeng” itu, terjawablah bahwa memang wanita-wanita yang sudah cukup berumur lah yang paling semangat 45 singsingkan lengan baju demi sebuket bunga.

Lalu kenapa salah tingkah? Yaaa malu lah jadi pusat perhatian semua tamu undangan. Kan jadi ketauan banget masih single & ngarep kawin. Dan alasan lainnya, saat itu saya datang jauh-jauh ke Jogja untuk menghadiri resepsi 2 sahabat kami ini bersama rombongan sirkus dari Jakarta. Jadi, habislah saya dijadikan bahan bulan-bulanan perihal bunga, pacar, calon suami, pernikahan, dan kawan-kawannya. Which I believe akan terus jadi bahan renungan dan candaan for at least the next few months atau bisa jadi sampai saya betul-betul menikah.

Well, sebenernya tradisi lempar bunga ini adalah adopted tradition dari luar. Dan beberapa orang yakin tradisi ini nggak Indonesia banget. Ada juga yang bilang haram. Entah haram di bagian mananya. Ini buat seru-seruan aja kok. Kalo percaya bakal jadi the next bride, yah yakin aja. Siapa tau bisa bikin tambah semangat cari jodoh kan?  Don’t take it too serious lah. Kalo ga percaya juga tak apa. Lumayan hadiah tambahannya berupa voucher belanja di Carrefour senilai Rp 100,000. Iya, modelnya sekarang adalah, selain bunga, ada hadiah tambahan untuk siapapun yang berhasil dapetin bunganya. Masalah haram ga haram, hmmm masih mending lempar bunga kali yah daripada lempar batu sembunyi tangan. Iya toh?

In the end, saya memang berharap bakal jadi the next bride. Tapi nggak juga harus right after this wedding sih, one day lah when the groom arrives and ready #halah. Sementara itu, saya pulang dulu ke Jakarta dengan menjinjing buket bunga ini dan berharap akan ada saatnya nanti ketika saya yang akan melemparkan buket bunga macam ini. Siapapun yang akan menangkapnya nanti, bisa dipastikan saya mengerti sensasi rasa bahagianya😀

photo (6)-tile

One thought on “The Girl Who Won the Bouquet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s