18-hour Journey to Dieng

Iya, it took 18 hours to get to Dieng, to get these lovely pics.

Ga heran juga sih karena itu malam long weekend, Kamis 25 November 2012. So, it’s like everybody is on the road. Entah mau kemana. Ke Dieng juga mungkin seperti kami.

Apa yang salah selain timing yang kurang tepat? Salahkan bus Dieng Indah yang jalannya lelet. Saran saya sih, bayar sedikit lebih mahal untuk bus Pahala Kencana di harga Rp 130rb tapi jaminan lebih cepat dan jauh lebih nyaman. Dua kali saya naik Pahala Kencana. Cuma di bus itu saya bisa tidur nyenyak sampe mimpi yang aneh-aneh :p

Jumat siang tepat jam 12 siang, Dieng Indah yang berangkat dari terminal Lebak Bulus jam 6 sore baru tiba di terminal Wonosobo. Bokong rasanya mati rasa. Ohya, trip ke Dieng kali ini kami putuskan untuk nggak join travel manapun. Yah, laganya ngerasa cukup mampu untuk jalan sendiri. And we did it! Meski budget yang dihabiskan pun ga terlalu jauh dibanding join rombongan.

Rencana tiba di Wonosobo pagi-pagi sekali supaya bisa ngerasain shalat Ied di dataran tinggi, kandas sudah. We skipped shalat Ied dan juga rencana nengok beberapa spot yang ada. Layaknya horang kaya yang banyak duit, kami pun pilih bayar ojek untuk naik dari Wonosobo ke Dieng dengan harga Rp100rb untuk 2 motor termasuk si tukang ojek yang mau nganter sana sini sampe kita dapet penginapan. Maklum, kami belum reservasi penginapan :p Kalau mau lebih hemat dan ga terlalu capek untuk naek mini bus dan nunggu sedikit lebih lama, naiklah mini bus tujuan Dieng.

Penasaran dengan the famous penginapan Bu Djono yang disebut-sebut di hampir semua blog yang saya baca, akhirnya kami sampai juga disana. Sempet lihat kamarnya, tapi kurang oke buat kita. Kenapa dia begitu terkenal, konon karena dialah penginapan pertama yang ada disana. Berdiri sejak entah tahun kapan. Itulah kenapa kamar-kamarnya pun udah ga bagus lagi. Lalu kami coba cari di beberapa tempat yang lebih layak tapi murah, sampailah kami di Hotel Asri. Namanya sih hotel, tapi itu some kind of homestay kok. Harga per kamar yang kamar mandi diluar dan no hot water cuma 75rb. Ok ambil!

Mandi sore tanpa air panas di Dieng rasanya seperti menyiksa diri sendiri. Airnya sedingin air dari kulkas. Kepala dan badan rasanya mati rasa. Brrrrrr!!

Pupus sudah rencana hari pertama di Dieng, kami ga kemana-mana selain jalan-jalan sore aja cari makan di Warung Mba Yati. Ga banyak pilihan makanan juga disana. Masih sore pun udah banyak yang tutup. Hmmm peluang usaha nih kayaknya :p

Jangan bobo terlalu malam karena besok subuhnya kan kita akan bergabung dengan para pemburu matahari terbit. Okesip. Cukup bersantai sejenak di depan tungku sambil nonton tipi bareng penghuni lainnya.

Sabtu jam 4 subuh, kami sudah bersiap menuju Puncak Sikunir. Konon, disanalah spot terbaik untuk menanti datangnya sang matahari. Pilihan naik motor menuju Puncak Sikunir pagi-pagi buta sungguh keputusan yang sangat berani. Duingiiiiiin cuiiiii! Persenjatai dirilah dengan jaket tebal, kaos kaki dan sarung tangan. It helps😉 Perjalanan dengan motor sekitar 30 menit sampai parkiran sebelum hiking ke puncaknya. Hikingnya sendiri memakan waktu 30 menit lagi. Buat yang ga biasa hiking, semangat yah!

Perkenalkan, para pemburu matahari terbit

Tapi semua cape & dinginnya terbayar dengan pemandangan seperti ini:

Turun dari Puncak Sikunir, surprisingly ketemu best friends yang kebetulan lagi join trip Learn Indonesia. Ah jodoh sekali kami :’) Ngobrol seru-seruan dulu sebelum lanjut perjalanan disambi ngemil sate-satean panas kayak gini.

Perjalanan dilanjutkan ke Telaga Warna. Sayang, lagi kurang bagus karena musim kemarau, jadi airnya surut dan ga ada tuh fenomena warna warni air di telaga itu. Tiket masuk ke Telaga Warna Rp6,000 per orang. Jalan-jalan pagi menyusuri kawasan rindang tersebut lumayan lah.

Destinasi selanjutnya adalah Kawah Sikidang. Tiket masuknya Rp 10,000 per orang termasuk tiket masuk ke komplek Candi Arjuna.

Beginilah penampakan Kawah Sikidang

Last destination, mari ke kawasan Candi Arjuna. Candi-candi kecil tapi tamannya cukup menarik.

So, that’s all we got! Sudah hampir tengah hari, saatnya bebenah dan turun ke Wonosobo karena kita belum punya tiket pulang ke Jakarta. Sewa 1 motor setengah hari termasuk guide yang nganterin kita ke 4 spot tadi plus turun ke terminal Wonosobo dipatok 200rb. Hmmm iya sih, mahal. Tapi yang penting efektif dan efisien lah.

Perjalanan kembali ke Jakarta dengan Pahala Kencana memakan waktu 11 jam saja. Terima kasih Dieng atas keindahan dan kesejukanmu untuk kami🙂

Again. Thanks to my travel mate.

 

*some pictures are taken by my travel mate.

One thought on “18-hour Journey to Dieng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s