Penikmat Alam yang bukan Pecinta Alam #balsemtrip

Ternyata, manusia-manusia yang mengaku dirinya sangat suka wisata alam belum tentu mencintai alamnya itu sendiri. Bukti nyatanya saya temukan di perjalanan ke Pulau Sempu di malam tahun baru 2012. Meski dengan tracking route yang sulit karena becyek & ga ada ojyek, terlebih mereka yang berniat camping/bermalam di Segara Anakan yang mengharuskan mereka membawa perbekalan & perlatan camping super heboh, belum jaminan semua perjuangan & pengorbanan itu mereka imbangi dengan tanggung jawab yang sangat mendasar. Sesederhana buang sampah pada tempatnya. Dalam cerita berkemah di Pulau Sempu memang tidak ada yang namanya tempat sampah. Namun saya rasa orang-orang ini cukup pintar untuk bisa membaca & memahami maksud dari surat pernyataan & perijinan yang sudah mereka tanda tangani sebelum mereka memasuki Pulau Sempu. Disana tertulis bahwa pengunjung bersedia untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan wisata cagar alam Pulau Sempu. Yaitu dengan tidak membuang atau meninggalkan sampah di manapun di Pulau Sempu. Kumpulkan semua sampah yang ada lalu membawanya keluar Pulau Sempu. Tapi apa kenyataannya? NIHIL!

 
Sudahlah pengunjungnya banyak, makin banyak juga sampah berserakan disana sini. Di perjalanan menuju Segara Anakan, sampai di Segara Anakan-nya. Ck! Mulai dari sampah botol air minum, bungkus snack, sampai sendal atau sepatu yang sepertinya tak sanggup melalui rute tracking. Eits, barang-barang yang cukup berharga pun banyak yang dibuang disini. Guide kami Mas Eddi berhasil menemukan kompor yang masih dalam keadaan layak pakai. Begitu pun dengan tenda layak pakai. Mungkin si pemilik sudah tak sanggup menentengnya pulang.

 


Itu baru sampah yang sudah berhasil menciptakan pemandangan tersendiri di Pulau Sempu. Mau tau yang lain? Para penikmat alam ini tanpa merasa bersalah atau merasa berdosa, telah mengkontaminasi jernihnya air di Segara Anakan. Mencuci semua yang kotor, termasuk mencuci oily nesting & semua perlatan memasak. Satu lagi, mencuci ikan yang mau dibakar. Gimana ga tuh air yang harusnya bersih & jernih jadi berminyak dan bau amis? Saya prefer untuk tidak menceburkan tubuh saya disana.

 
Sempat saya berpikir seperti ini, orang-orang yang bergaya layaknya seorang pecinta alam sejati ini, menggendong carriel super besar, terampil memasak dengan peralatan masak sederhana, berpenampilan macam anak gunung/anak pantai, tapi kok ga ada rasa kecintaannya pada alam yah? Ternyata mereka bukanlah pecinta alam, mereka hanyalah penikmat alam yang tak bertanggung jawab. Cuma ikut-ikutan arus wisata alam mana yang lagi tren. Having a good time disana, lalu berbagi cerita & foto-foto biar tetap eksis. What the *#?!@

 
Heran, bagaimana mereka mau menikmati alam kalau alamnya sendiri mereka perlakukan tak senonoh seperti itu ya? Apa susahnya sih ngumpulin sampah, terus dibawa pulang?

One thought on “Penikmat Alam yang bukan Pecinta Alam #balsemtrip

  1. saya sependapat dengan anda, banyak yang menyebut dirinya pecinta alam, namun kenyataan dalam menerapkan hal kecil saja seperti membuang sampah pada tempatnya tidak mereka lakukan bahkan cuek bebek dengan hal tersebut, ckckck, apakah ini yang namanya pecinta alam?? mengkin hanya penikmat saja tanpa ada tanggung jawab🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s