Berganti Tahun di Pulau Tak Berpenghuni, Pulau Sempu #balsemtrip

Pulau Sempu memang pulau tak berpenghuni (no man’s island). Wisata cagar alam. Aseli. Masih dibiarkan perawan tanpa sentuhan para investor berkepentingan. Setidaknya belum, sampai saya & 2 travelmate saya menginjakkan kaki di pulau itu.

 
Tak berpenghuni, memang. Tapi malam tahun baru kemarin Pulau Sempu berubah jadi Pulau-Berpengunjung-Sangat-Banyak. Saking banyaknya, kita-kita ini udah layaknya cendol -_-

This might not be the review that you’re looking for. Absolutely not! Karena saya akan bercerita apa adanya berdasarkan pandangan mata secara langsung di TKP. But, in the end of the article, I will share the details how to get there😉 Stay tune, pemirsah!😀

 
Beruntung saya touchdown di Segara Anakan dengan waktu tempuh trekking selama 2 jam. Dalam kondisi becyek & ga ada ojyek seperti saat itu, banyak yang menghabiskan waktu trekking selama 4 sampai 8 jam. Beberapa pelancong bahkan memutuskan untuk balik arah & mengurungkan niatnya mencari Segara Anakan. Menyerah tapi sudah berjuang. Bahkan ada yang sampai terpaksa camping di dalam hutan karena tak kunjung menemukan Segara Anakan saat sudah lewat tengah malam.

 
Kami bukan traveler ecek ecek. We do browsing sebelum memulai perjalanan. Banyak foto-foto yang menampilkan betapa indahnya pulau tak berpenghuni ini. Dari browsing itu pun kami tahu bahwa kami harus melalui rute trekking yang tidak pendek & mudah, terlebih di musim hujan. Di beberapa artikel bahkan waktu tempuh di kala musim hujan, standarnya adalah 4 jam. When we say ‘yes, we’re going to Pulau Sempu’, that means we are ready for any conditions.

 
Perjalanan 2 jam dari Teluk Semut mencari Segara Anakan memang tidak mudah. Tapi beruntung ada guide bersama kami. Jadi kami tidak buang-buang waktu hanya untuk tebak-tebakan jalur mana yang benar. Hmmm, bukan beruntung juga sih namanya, kami bayar guide & ga mau repot :p

 
Hujan yang saban hari mengguyur Malang, Batu & sekitarnya, pasti juga sampai di Pulau Sempu. Becek & berlumpur. Tidak mempermudah perjalanan. Apalagi 2 dari kami adalah newbie untuk urusan hiking di alam lepas seperti ini. Yang mempermudah adalah kami beruntung di hari kami pergi ke Sempu, untuk pertama kalinya kami melihat matahari bersinar. Jadi kami hanya mendapat bekas-bekas becek tanpa hujan mengguyur kami.

 
15 menit perjalanan sudah cukup membuat baju ini basah kuyup karena keringat. Nafas pendek kami terdengar. This is a breathtaking experience, literaly. Jatuh terpeleset karena tanah yang licin. Jatuh tersungkur karena tersandung akar pohon. Membenamkan kaki selutut di genangan lumpur karena tak ada jalan lain. Mengusap keringat di wajah dengan tanganmu yang penuh lumpur. Merasakan basah tenggorokanmu saat meneguk air yang sudah sedikit terkontaminasi. Mendengar suara hewan & menyaksikan secara langsung monyet-monyet yang bergelantungan bebas. Bertegur sapa sesama pelancong hanya untuk tahu berapa lama lagi kami sampai di tujuan masing-masing. Kami yang menuju Segara Anakan, mereka yang mencari jalan keluar. Berbagi air minum & berbagi semangat kepada sesama pelancong. What more can you say? This is an adventure.

 
TETAPI kenikmatan itu semua berbanding terbalik dengan pemandangan sampah yang kamu lewati. Botol air minum plastik, bungkus roti, bungkus biskuit, bungkus snack. Apapun, you name it, you will find it. Ini yang saya bahas di Penikmat Alam Yang Bukan Pecinta Alam. Menyedihkan. Pathetic!

 
Well, saya pikir gaya mereka yang layaknya pecinta alam sudah membuktikan bahwa mereka mencintai alam ini. Tapi ternyata tidak. Mungkin harapan saya tak akan sama terhadap pelancong Pulau Sempu yang berpakaian seperti layaknya mereka mau hangout ke mall dengan rok mini, menjinjing hand bag, wearing tight jeans, dsb. You have to know that they do exist di Pulau Sempu. Bukannya saya meremehkan mereka, tapi saya yakin bahwa sampah-sampah yang saya lihat berasal dari hampir semua pelancong, baik yang berpenampilan pecinta alam maupun tidak.

 

Tenang. Ini baru perjalanan dari Teluk Semut menuju Segara Anakan.
*2 jam berlalu dengan peluh yang tak berhenti menetes*
Tepat jam 12 siang. Akhirnya kami melihat penampakan genangan air berwarna hijau yang menyejukkan. “Hey, finally we’re here!”

 

Begitu menginjakkan kaki di pasir putihnya, wajah saya pasti seperti ini -__- As seen on the internet, I knew that this is Segara Anakan. Dengan pantai yang tidak luas memang. Tapi tidak juga penuh dengan orang-orang seperti ini, yang sibuk berlalu lalang. Sibuk mendirikan tenda. Sibuk masak. Sibuk menceburkan diri di air. Sibuk ini, sibuk itu. Aaargh as seen in bumi perkemahan Cibubur ini mah.

Baiklah, yang terpenting kami mendarat tepat waktu. Masih bisa mendirikan tenda di barisan paling depan dengan bibir pantai. Berdoa saja air tak akan pasang di malam hari. Atau kami akan terbawa ke laut pantai selatan saat kami tidur #lebay😀

 
Saya mencoba menikmatinya. Setidaknya ini benar Segara Anakan, as seen on the internet. Cuma dikurangi jumlah orangnya saja :p

 

Tapi ternyata tidak cuma itu. Sampah-sampah disini lebih parah. Entah mengapa mereka tidak mengumpulkan sampah mereka di satu tempat melainkan membiarkannya berserakan. Apa mereka ga bisa baca tulis? Sebelum menginjakkan kaki di Pulau Sempu kan mereka harus menandatangani surat perijinan yang menyatakan janji mereka untuk membawa kembali sampah-sampah mereka. Ah sudahlah, yang bertanda tangan kan hanya satu orang dari setiap grup. Mungkin mereke memang tidak membacanya. Tapi kan ini hal mendasar! Anak SD juga tau! -_-

 
Lupakan. Semakin saya berusaha menikmati, semakin adaaa aja yang bikin keki.
Badan yang super lengket & (sedikit) bau dengan baju yang juga basah kuyup karena keringat, melihat air yang tampak hijau dari kejauhan, rasanya ingin menceburkan diri disana, menenggelamkan diri sesaat lalu muncul dengan mengibas-ngibaskan rambut layaknya di iklan-iklan itu :p Tapi bagaimana mungkin, begitu mendekati bibir pantai, melihat pemandangan sekitar, saya urungkan niat untuk syuting iklan tadi. Saya hanya butuh mencuci kaki dan tangan yang penuh lumpur. Bagaimana tega saya terhadap diri saya. Di sebelah kiri saya lihat orang-orang itu sedang mencuci nesting yang penuh minyak. Di sisi lainnya, orang sedang mencuci & membersihkan ikan mati untuk dibakar. Disisi entah dimana mungkin mereka sedang pipis. Mulai berlebihan kan…😀 Karena Segara Anakan ini kan bukan pantai yang langsung menghadap ke laut. Hanya air laut yang terbendung dari laut selatan karena adanya tebing-tebing tinggi. Makanya airnya pun cenderung tenang, hanya sedikit bergelombang. Itu pun kalau lagi pasang. Kalau lagi surut, seperti danau yang tenang.


Kami menikmati waktu kami sendiri dengan mencoba main masak-masakan :p Dapur umum dibangun disamping tenda. Hasilnya memuaskan. Baru kali ini merasakan kenikmatan sejati dari 2 bungkus Indomie untuk 3 orang dengan tambahan kornet & sosis. Ini ceritaku, apa ceritamu? :p #tulisanberbayar :))

Foto-foto cantik berlatar Segara Anakan yang sudah terbayang sejak trip ini baru terencana pun musnah. Mau foto dari sudut manapun, tak lepas dari peran para figuran.

 
Malam harinya, setelah matahari bersinar sepanjang hari, awan tak mampu lagi membendung hujan. Turunlah rintik-rintik hujan. Saat yang tepat menggalau di dalam tenda masing-masing dengan pemandangan Segara Anakan :p Backsound pun mendukung. Gunjrang ganjreng gitar dari tenda tetangga menambah suasana camping. Kecuali saat tenda yang lain dengan seenaknya pasang lagu dangdut koplo dari minicompo-nya itu. Bukannya mendengar suara alam, malah polusi suara -_-

 
Menjelang detik-detik pergantian tahun, ternyata pesta kembang api di Pulau Sempu ga kalah heboh sama yang di Ancol :p Entah siapa yang niat banget bawa petasan & kembang api sebanyak itu.

“Happy New Year, everyone!”

Begitu terbangun keesokan paginya, di hari pertama di tahun 2012, tak menunggu lebih lama lagi, kami packing untuk meninggalkan Pulau Sempu. The sooner, the better. Sebelum hujan turun dan menyulitkan jalan kami. Apalagi kami tak pakai jasa guide seperti saat kami berangkat. Semoga Tuhan bersama kami. Tapi jangan khawatir, kawan. Kalau jalan kita cepat, kita akan melewati orang-orang yang juga mau pulang. Itu tandanya we’re on the right track. Begitupun kalau kita jalannya lambat, kita akan dilewati mereka yang jalannya lebih cepat :p Kita juga akan berpas-pasan dengan rombongan yang baru memasuki Pulau Sempu. Drop your smile & kasih mereka semangat. Bilang aja, sedikit lagi kok. Meski kenyataannya masih berjam-jam jauhnya😀

 
Well, maybe this is just a matter of time. Timing-nya kurang tepat saat saya kesana. Go find second or even third opinion, then decide to go or not to go😉

For the details how to get to Pulau Sempu, please read Touchdown Pulau Sempu #balsemtrip🙂

PS: Cerita kami sepulang dari Pulau Sempu juga ga kalah serunya lho. Kalau mau tau, silakan klik Modal Jempol #balsemtrip

Tulisan di atas adalah sebagian besar yang tak tertangkap kamera. Apa yang tertangkap kamera dari #balsemtrip (Batu-Malang-Sempu Trip, 27 Dec 2011 – 2 Jan 2012) dapat dilihat di http://on.fb.me/xWp3Bk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s