Bintang Kecil

Kecil mungil tubuhnya, saat ia pertama kali menatap dunia. Berlumuran darah kotor, ia tetap bersih dari dosa apapun.

Tanpa dosa, ia menikmati setiap hembusan nafasnya. Tanpa beban, ia menangis lepas.

Jeritan tangisnya bukanlah kesedihan. Jeritan tangisnya bukan pula penyesalan. Jeritan tangisnya pun jauh dari ekspresi kekecewaan.

Tidak. Ia tidak pernah kecewa dengan penolakan ini. Ia pun tidak pernah menyesal dilahirkan ke dunia ini. Ia juga tidak sedih akan keadaan ini. Tidak sampai saat ini.

Bintang kecil. Ya, ia masih terlalu kecil untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia masih terlalu muda untuk mengerti keadaannya. Ia pun masih terlalu suci untuk menanggung semua beban hidupnya.

Suatu hari nanti. Ya, suatu saat nanti. Bintang kecil akan bersinar terang. Menyinari segala yang ada di sekitarnya. Mungkin termasuk ayah ibunya, yang tega membuangnya percuma. Bukan. Bukan ayah ibunya. Wanita yang melahirkannya dan pria yang membuahi wanita itu.

<ki-ka> Laras, Sarah, Suta, dan Bintang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s