M not for Money, M for Milk

What does M stand for? Money? No longer that way. For us, M now is standing for Milk. #MforMilk

Masih ingat kampanye “Stop Beri Uang,Beri Kami Kesempatan”? Nice campaign, isn’t it? Sayang sudah lama tak terdengar😦

Berawal dari sebuah kampanye…

Correct me if I’m wrong, kampanye ini dimulai tahun 2004 lalu oleh United Nations Volunteer (UNV) -PBB dalam menyikapi Hari Volunteer Sedunia pada tanggal 5 Desember yang selanjutnya diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Volunteer Sedunia. Dalam rangka memperingati Hari Volunteer Sedunia, UNV melakukan kampanye sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap anak-anak jalanan, yaitu dengan program “Stop Beri Uang, Beri Kami Kesempatan”. Harapan dari gerakan ini adalah untuk mengubah paradigma masyarakat yang merasa kasihan atas nasib anak-anak jalanan dan seringkali memberikan uang kepada anak-anak ini. Pandangan seperti ini tentu saja salah besar karena  memberikan uang kepada anak-anak jalanan bukanlah jalan keluar yang terbaik bagi mereka sekaligus tidak mendidik. Gerakan ini juga bermaksud untuk menggalang banyak dukungan dari masyarakat luas.

Kenapa kita harus stop beri mereka uang?

Salah satu penyebab semakin meningkatnya jumlah anak jalanan memang karena kondisi perekonomian yang tidak stabil, terlebih saat krisis moneter dengan dahsyatnya melanda Indonesia beberapa tahun lalu. Memang benar, tahun itu jumlah anak jalanan menignkat tajam. Tapi setelah itu? Tetap saja banyak anak jalanan yang tidak terurus berkeliaran di jalan, meski sudah banyak yayasan-yayasan sosial berdiri, rumah singgah beroperasi, program beasiswa digalakkan, dan program-program bantuan lainnya yang dijalankan. Mengapa demikian? Karena anak-anak betah dan memutuskan untuk tetap berada di jalan dengan penghasilan per-hari yang mencapai 30ribu – 50ribu. Uang siapakah itu? Tentu saja uang teman-teman semua. Dengan alasan kasihan dan prihatin, teman-teman memberi mereka uang sebagai imbalan kecrek-kecrek mereka itu. Yang lebih membuat miris adalah, tidak 100% uang yang mereka dapatkan bisa mereka nikmati sendiri. Sebagian besarnya disetor kepada mafia-mafia jalanan alias coordinator pengamen dan anak-anak jalanan yang stand by dibeberapa titik tempat anak-anak ini mengais rejeki.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Stop beri uang, beri mereka sekotak susu. Yuk mulai aware akan keadaan ini. Mulailah hanya dengan membawa 2 kotak susu setiap hari untuk perjalanan pergi dan pulang kantor. Coba hitung, bagi teman-teman yang membawa kendaraan pribadi ke kantor, berapa titik lampu merah yang dilewati setiap harinya? Setiap lampu merah, perkirakan 2 anak-anak mengamen meminta belas kasih melalui kaca jendela mobil. Jadi, berapa total anak jalanan yang teman-teman temui setiap harinya? Bagi teman-teman yang menggunakan transportasi umum, berapa kali dalam sehari melihat anak-anak ini mengamen di dalam angkutan tersebut?

Kenapa susu?

Anak-anak di jalanan itu adalah anak-anak dengan usia dimana sedang terjadi pertumbuhan. Gizi mereka harus baik dan cukup untuk mendukung pertumbuhan sebagaimana mestinya. Membiasakan anak minum susu juga sangat baik hingga anak-anak ini bisa hidup lebih sehat. Disamping itu, bagi para mafia anak-anak jalanan, tidaklah penting sekotak susu. Sepengetahuan saya, preman-preman ini tidak minum susu. Kecuali preman-preman yang juga masih dalam masa pertumbuhan :p

So good people, let’s join the cause. M isn’t for Money! M for Milk, Milk for Kids, Kids for the future😉 #MforMilk

M for Milk

Cheers! @MforMilk @DiltsFound @m_montino @dewi_n @imaasir @Missellieneous

6 thoughts on “M not for Money, M for Milk

  1. Hallo,

    Salam Kenal, aku Dita.. Hum, langsung aja nih.. Dulu tahun 2009 sempat ada gerakan “Sekotak Susu untuk Anak Jalanan” yang diusung oleh Mahasiswi2 di Bandung. Namun skr gak terdengar lagi kabarnya.

    Maksudku, apa kamu *maaf aku gak tau mau panggil apa* juga masuk ke dalam kegiatan itu?, kalo iya.. Domisili kamu di Jakarta bukan?.. Soalnya aku mau ikut gerakan “Sekotak Susu untuk Anak Jalanan”

    Please info ya say..

    Salam, (^_^)

    • Hi Dita,

      Nice to know you. Sebenernya saya bukan bagian dari gerakan di Bandung itu. gerakan ini lebih ke gerakan swadaya dari kami teman2 relawan di Dilts Foundation. Saya seorang relawan di Dilts Foundation sejak 2006. kami based di Jakarta. Agak redup juga sekarang, tapi saya akan senang untuk kembali menggiatkannya lagi. kalau kamu tertarik, boleh kapan2 main ke rumah singgah kami. cek http://www.diltsfoundation.org

      Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s