Pandji: Merdesa!

Album Merdesa adalah Album terbaru dari Pandji Pragiwaksono. Album ketiga setelah sukses dengan album pertama berjudul Provocative Proactive (2008) dan You’ll Never Know When Someone Comes In and Press Play on Your Paused Life (2009).

Merdesa sendiri adalah sebuah kata dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang artinya beradab. Sesuai dengan namanya, album MERDESA yang berisikan 14 lagu terasa lebih edukatif, dibandingkan dua album sebelumnya, dimana album pertama terasa provokatif dan di album ke-2 lebih inspiratif.

Album Merdesa juga menampilkan Matthew Sayers, The Saba (Carlo, Marthen, Denny, Ivan), Putu Sutha, Gamila Arief, Pangeran, dan DYZTRK.

Sebelum diluncurkan secara digital, album Merdesa sudah diperkenalkan terlebih dahulu ke ratusan penikmat music Pandji. Ratusan yang terpilih berkesempatan mendengarkan ke-14 lagu baru Pandji secara GRATIS hanya dengan 1 syarat yaitu bersedia ngetweet saat mendengarkan ke-14 lagu tersebut. Layaknya public screening untuk film-film baru di bioskop, public hearing ini untuk mendengarkan lagu-lagu terbaru Pandji. Public hearing album Merdesa dilakukan di 3 kota, yaitu Jakarta (24 Oktober 2010, Blitz Megaplex Pacific Place) , Bandung (17 OKTOBER 2010, Blitz Megaplex PVJ), Medan(20 Oktober 2010, Entrance the Music Temple). Coba bayangkan, duduk di dalam studio bioskop bersama ratusan penikmat musik lainnya, sambil menatap layar besar bisokop seraya mendengarkan lagu-lagu dari album Merdesa, sounds cool.

Album Merdesa menjadi album yang tidak biasa karena untuk pertama kalinya disiapkan dalam bentuk digital dan diberikan secara gratis kepada penikmat music Pandji.  Album Merdesa berbasis digital dengan menggunakan social media sebagai medium utamanya, sudah dipasarkan melalui internet dan dapat diunduh secara GRATIS pada tanggal 1 November 2010 di http://merdesa.pandji.com 100 % free download.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, Merdesa berarti layak, patut, beradab. Pandji merasa bahwa bangsa ini sudah merdeka tetapi belum sepenuhnya merasa merdesa. Dari situlah Pandji berangkat dengan membawa sebuah misi untuk memberikan kehidupan layak kepada musisi melalui sebuah metode pemasaran baru, yaitu Free Lunch Method. Ya, berbeda dengan kebanyakan musisi lainnya, Pandji cukup percaya diri dalam menjalankan strategi bisnis barunya ini dalam industri musik yang dijelaskan lebih gambling pada tanggal 30 November 2010 (hari ini), satu bulan setelah peluncuran digital album Merdesa.

Berawal dari penemuan masalah klasik, yaitu uang dan juga pembajakan. Pandji pernah merilis e-book Menghargai Gratisan lalu dilanjutkan dengan Nasional.Is.Me dimana nyatanya banyak yang tertarik dan mengunduhnya. Pandji berpendapat bahwa kita hanya bisa mengalahkan pembajakan dan tidak mungkin menghilangkannya. Pertanyaannya adalah how we deal with it?

In Amerika: There is no such thing like free lunch.


Free Lunch Method adalah sebuah metode pemasaran dimana ketiga pihak yang terlibat diuntungkan. Dalam industry music, musisi senang karena materi dan karyanya bisa beredar di publik secara luas yang juga bisa menjangkau pasar baru dan mendapat pemasukan dari klien yang mendukungnya. Supporting klien senang karena bisa mengafiliasi brand-nya kepada musisi. It’s like having brand ambassador tanpa harus membayar brand ambassador. Yang harus ditekankan disini adalah adanya hubungan dan juga kesesuaian antara brand dengan si musisi. Karakteristik dan personality antara brand dan musisi haruslah sejalan. Selain itu klien mendapatkan traffic yang diinginkannya. Sedangkan bagi penikmat music, mereka mendapatkan akses ke music tanpa harus merasa bersalah ataupun berdosa karena mereka tidak membajak atau membeli barang bajakan, melainkan mereka mendapatkan musik langsung dari musisinya.

 

“Metode ini bukanlah metode terbaik tapi bisa menjadi salah satu metode yang bisa dipakai” – Pandji.


Free Lunch Method hadir sebagai solusi dari pembajakan. Awalnya penikmat music akan mendapat lagu-lagu yang diinginkannya secara gratis. Apa yang terjadi setelah itu, mereka akan mengejar valuedan collect cd-nya. Inilah yang disebut Freemium. CD akan menjadi barang Freemium. (disini, correct me if I’m wrong). Sebagai contoh perusahaan Sony Music Indonesia yang sudah tidak lagi memproduksi kaset walkman. Bukan tidak mungkin nantinya produksi CD pun akan terhenti. Saat inilah CD menjadi produk Freemium.

for details, please check interview Abang Edwin SA dengan Pandji di sini.

One thought on “Pandji: Merdesa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s