Menengok #Merapi Sejenak – Day 4

Senin, 15 November 2010

“Semangat pagiiii…. Sampun nyarap?”│”Wes mbak” │”Nyarap opo?” │”karo mie mbak’e”

-_-! Tiada hari tanpa mie…

Satu kantong besar mainan titipan ibu bos baru datang. Langsung diserbu anak-anak. Mereka terlihat senang dengan mainan baru. Beberapa ada yang diminta untuk dibawa pulang. Jangan lupa difoto dan dilaporkan via twitter perihal kebahagiaan yang dikirimkan jauh-jauh dari Jakarta ini.

Yuni namanya...

Jam 7 kurang anak-anak sudah banyak yang singgah di posko Dilts. Hmmm baiklah, kita mulai saja deh kelasnya. Mungkin ini bisa jadi kelas terpagi saya😀 Mari mewarnai tokoh-tokoh jagoan. Jangan hanya mewarnai yaaa, coba dicarikan nama yang keren buat tokoh-tokoh tersebut. Yang sudah selesai, dapat susu. Bolehlah buat menetralisir mie😀

Menjelang siang, ada siraman rohani dari Ustadz Harry Murti. Sounds familiar, huh? Yaiayalah, beliau kan dulunya arteees. Hmmm penyanyi rock yah kalo saya ndak salah. Angkatan lama sih, jadi saya ndak terlalu kenal😀 Tausiah dari beliau menuai kritik dari 2 Ustadz lebih menyampaikan ajaran agama yang tidak boleh seperti ini, tidak boleh seperti itu. Menurut beberapa orang yang kurang setuju akan isi tausiah ini, disaat-saat memprihatinkan dan disaat-saat terpuruk seperti ini, yang pengungsi butuhkan bukanlah larangan-larangan tidak boleh ini itu, tidak boleh begini tidak boleh begitu, melainkan lebih kepada motivasi untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Bagaimana caranya bertahan dan bertawakal. Bagaimana kita harus tetap bersyukur. Bagaimana caranya ikhlas melalui semua cobaan ini. Saya 100% setuju! Tapi niat baik Ustadz Harry patut diteladani. Semoga Allah meridhai. Amin.

Siang hari, saya dan Ka Bima coba berkeliling kota Klaten untuk mendapatkan 2 ekor sapi sebagai hewan kurban. Di tengah perjalanan, kami lihat spot persawahan dengan view si cantik Merapi. Let’s take a picture of it! Sayangnya, foto si cantik di dapat, tapi si sapi yang mau dikurbankan tak didapat.

Merapi Siang Itu...

Siang hari di Posko, kembali pengungsi dihibur oleh musik dangdut. Lagi dan lagi. Bosen ga yah mereka? Kok saya sendiri mulai bosen. Tunggu dulu, sumbangan hiburan itu kan dimaksudkan untuk menghibur para pengungsi agar tidak bosan di posko pengungsian. Kenapa saya bosan? Oh, mungkin kalau yang datang menghibur itu GIGI band, saya akan berada di barisan paling depan😀 Tapi, pengungsi terlihat terhibur kok. Good job!

Menjelang sore, Ibu Wahyu mengajak saya berkeliling untuk cari tempat yang tepat untuk kami salurkan kurban 1 ekor sapi. Kami menuju Pusdiklat Klaten. Jelas terlihat barak pengungsian disini jauh lebih rapi. Well organized by TNI AD. Jelas! Pengungsi ditempatkan dengan layak dalam ruangan-ruangan yang berjejer. Dapur umum langsung ditangani oleh bapak-bapak berbadan kekar dari TNI AD. Eits jangan sembarangan meremehkan pekerjaan di dapur umum seperti ini yah. Bayangkan saja, si Bapak TNI bilang, untuk sekali makan, mereka menghabiskan 12 ton beras. Itu untuk sekali makan. Untuk sehari makan? Kalikan saja 3. Ckckckck… Saat nasi, sayur, dan lauk-pauknya matang, ibu-ibu pengungsi dan ibu-ibu istri TNI diberdayakan untuk membagi makanan tersebut dalam porsi nasi bungkus. Dalam tenda di pojokan, terlihat stok sayur mayor yang banyak. Ibu-ibu pengungsi kembali diberdayakan membantu relawan untuk mempersiapkan menu selanjutnya. Baguslah, pengungsi disini diasupi sayur mayur, bukan mie instant.

Sore hari, Ibu Wahyu mengajak saya naik ke atas ke arah Deles. Beliau bilang, dari kemarin beliau ingin sekali mendekati Merapi but no one brave enough to get there. Saya? Let’s go, Mam!😀

Dengan mengendarai Xenia berisi barang-barang bantuan, kami berdua menuju Manisrenggo dan Deles. Sempat bingung arah diawal perjalanan. Okay, saya mulai khawatir ini. Takutnya, nyasar dan tiba-tiba sudah di lereng Merapi di titik yang berbahaya. Tenang, hal itu tidak terjadi. Dengan pemandangan rumah-rumah berlapis abu vulkanik, kami sudah sampai di Deles. Sayangnya, belum terlalu dekat dengan Merapi, jalan sudah ditutup. Dan lebih sayangnya lagi, sore itu Merapi tertutup awan. Foto pun tak maksimal.

Cantiknya Merapi tak terlihat

Menginjak jalanan penuh abu dan melihat hutan bambu yang rusak, sungguh membuat saya merinding. Apalagi kalau saya sampai di kampung-kampung yang mati akibat awan panas yah? L Dan kami berbalik arah pulang, meski tidak puas karena Merapi tertutup awan. Ingin berbelok ke arah Muntilan karena Ibu Wahyu ingin menunjukkan kepada saya betapa memprihatinkan disana, namun gagal. Ingat, kereta saya ke Jakarta tinggal beberapa jam lagi. Sedih ndak sempat nengok Muntilan😦

Baiklah, time to go home meski saya ingin tinggal disini lebih lama lagi. Setidaknya sampai Idul Adha. Tapi, beginilah nasib buruh. Unfree! Tidak sempat berpamitan dengan Parjono, Jiono, Slamet, Dzamar, Anwar, Eko 1, Eko 2, dkk, sedihnya meninggalkan posko.

GOR Gelarsena Klaten… this is what I called home for Merapi victims. This is what I called a BIG family of Merapi victims. Bersama-sama mereka tinggal diatap yang sama dalam waktu lebih dari 2 minggu. Bersama-sama mereka mencuci baju. Bersama-sama mereka mengantri makan. Bersama-sama mereka berbagi cerita. What a life! Tuhan pasti punya rencana akan hal ini. Bertahanlah saudara-saudara dan adik-adikku. Ini semua akan berakhir dan berubah menjadi lebih indah. #PrayForIndonesia

Untuk anak-anak penghuni posko Dilts, see you in Jakarta! (doakan kami bisa memboyong kalian semua untuk liburan di Jakarta). Salam dari Mbak Cina ini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s