Menengok #Merapi Sejenak – Day 3

Minggu, 14 November 2010

“Semangat pagiiiii… sampun nyarap? kita menggambar yuuuuk!” Dengan semangatnya masing-masing, mereka mengambil meja dan alat pewarna. Surprisingly, tanpa saya membuat tema yang harus digambar, mereka menggambar Gunung Merapi lengkap dengan letusannya. Tampak mereka tidak takut sama sekali bahkan yakin dalam setiap goresan pensilnya. Beberapa cerita dan pengalaman mereka dievakuasii bahkan dikejar-kejar awan panas terangkum dalam benak saya. Sungguh hebat, mereka masih mencintai Gunung Merapi sebesar itu tanpa merasa takut untuk kembali kesana. Anak-anak ini tipikal anak kampung yang tangguh dan berani.

Aku tidak takut Merapi

It’s time for make up class… Eits, don’t get me wrong! Saya bukan mengajarkan mereka tentang make up lho. Lha wong saya sendiri ndak bisa make up kok :p Mari lucu-lucuan menggambar wajah mereka. I love it! Saya dan Ibu Wahyu melukis wajah mereka dengan berbagai karakter. Diawal saya sedikit kehabisan ide. Justru anak-anak ini yang memberi saya ide untuk menambahkan ini itu di wajah mereka. Aaah mereka sungguh menyenangkan *peluuuk*

Siang hari, kami kedatangan 2 orang relawan, mahasiswa UGM yang mau berbagi keceriaan dengan anak-anak pengungsi disini. Saya mengenal mereka dari akun twitter @jalinmerapi yang kemarin RT penawaran hiburan nonton bareng dari dua relawan ini. Mereka menawarkan hiburan bagi pengungsi yang ingin nonton bareng. Mereka menyediakan layar, proyektor, dan filmnya. Aha! Kebetulan kah? Dari hari kamis sebelum saya berangkat ke Jogja, saya woro-woro tanya sana tanya sini siapa yang bersedia meminjamkan kami proyektor untuk nonton bareng. Thanks to technology! Saya bisa japri ke salah satu relawan keliling ini dan mereka akan survey tempat sebelum acara nobar dilakukan. This is what I called Connection. Connected. To be connected. *peluk-peluk bb and thanks to twitter*. Mereka setuju untuk mengadakan nobar di posko kami Senin malam dengan film “Garuda di Dadaku”. Ohya, pada kesempatan ini, tak lupa saya menyerahkan beberapa keeping dvd dari @kantongdvd. Karena mereka relawan keliling, pastinya keeping-keping dvd yang dititipkan @kantongdvd kepada saya akan lebih berguna. Ah senangnya bisa jadi jembatan pendistribusian seperti ini. Janga lupa difoto untuk dishare ke @kantongdvd.

Ohya, siang ini juga ada hiburan tari tradisional dari salah satu SMP daerah Klaten. Terlihat mereka berkeliling dari satu posko ke posko lain untuk menghibur para pengungsi.

Menjelang sore saya ke stasiun Klaten bermaksud membeli tiket pulang Jakarta. Teryata yang saya dapat tiket Dwipangga untuk Senin malam. Hmmmm baiklah, saya harus extend disini. Ohya, OOT dari bencana ini, di Klaten saya menemukan tempat makan enak KFC (Klaten Fried Chicken) Ibu Sum. Ayamnya di goreng tepung seperti kebanyakan fried chicken, namun penyajiannya yang berbeda. Selain ayam gorengnya bisa disambel penyet, menu ini disajikan dengan pecel dan juga mie goreng. Rasanya? Sooo yummy…

Malam ini akan menjadi malam minggu paling romantis yang pernah saya lalui😀 *lebay mode on* Malam mingguan di posko pengungsian bencana bersama anak-anak hebat. Malam mingguan bersama Javanese people. Malam mingguan bersama Javanese kids. I just can’t ask for more. Bernyanyi ala kadarnya menggunakan alat musik unik milik Mas Plompong. Main tebak-tebakan. Hingga nge-games tebak gambar. Di pojokan lain, anak-anak remaja mulai tertarik membuat kalung dan gelang dari monte kayu. Kembali kami dihibur Mas Plompong dengan lagu-lagunya yang kocak dan membumi. Coba, kurang romantis apa lagi??

What a Saturday night!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s