Menengok #Merapi Sejenak – Day 2

Sabtu, 13 November 2010

Entah mengapa, saya yang sangat hobi tidur dan punya masalah dengan bangun pagi, justru pagi ini bangun lebih awal dari teman-teman relawan lain. Semalaman, saya tidur cukup nyaman. Hanya saja beberapa kali terbangun karena saya merasa waktu tidur malam itu kok lama sekali. Tumben kan?:D Ternyata waktu tidur saya masih bisa di customized sesuai dengan sikon. Good for me and others😀

Jam 6 pagi di Klaten, sungguh cerah cenderung tampak seperti jam 9an di Jakarta. Kota ini terlalu bersemangat meyambut hari. Saya harus ikuti itu!

Berjalan kaki menuju GOR Gelarsena dihiasi pemandangan pagi anak-anak SMK yang berangkat sekolah mengendarai sepeda dan motor. Sesampainya di Posko Dilts, ehbuset jam segini anak-anak udah nangkring di posko kami dan mulai berantak sana berantak sini.

“Semangat Pagiiiiiiiii….”

Langsung mereka melanjutkan membuat kalung dan gelang dari monte-monte kayu. Satu anak sudah berhasil membuat lebih dari 3 gelang. Tiba-tiba muncul ide dari mereka sendiri untuk menjual hasil karya mereka. “Duit’e kanggo jajan mbak’e. oleh yo?” Hmmm… khawatir diawal karena takutnya ada pikiran dari orang-orang bahwa kita memanfaatkan mereka atau bahkan mengajarkan hal yang tidak benar. Pikir punya pikir, kenapa tidak? Toh anak-anak ini membuat karyanya sendiri, dan kalau memang ada orang lain yang mau menghargai hasil karya mereka, kenapa tidak? Toh uangnya bisa mereka gunakan untuk jajan, mengingat mereka sudah lama tidak bisa jajan.

Baiklah, approval sudah keluar bagi mereka untuk menjual hasil karyanya. Tapi dengan catatan. Pertama, jual hanya kepada relawan-relawan, jangan sesama pengungsi. Kedua, jangan bawa-bawa peduli merapi karena uang ini semuanya hanya untuk jajan anak-anak yang sudah bersusah payah berkreasi. Mereka begitu bersemangat. Tidak mudah memang, namun mereka berhasil menjualnya. Good job!

Merasa ada waktu kosong di pagi hari, saya sempatkan berjalan-jalan mengelilingi GOR. Banyak hal yang saya lihat. Pemandangan pagi itu, pengungsi mengantri untuk mendapatkan sarapan pagi.

 

Klenteng klenteng! sarapan!

ibu-ibu mencuci baju di dua spot yang dijadikan tempat mencuci dengan keran air berjejer.

oops! unsencored!

ibu-ibu menjemur pakaian di manapun mereka bisa meletakkan pakaian mereka dibawah sinar matahari. Dan lapangan tennis pun dipenuhi dengan jemuran.

 

Alih fungsi lap tenis

Tumpukan pakaian sumbangan layak pakai yang menggunung dimana satu dua masih pengungsi berusaha menggali tumpukan itu berharap mendapatkan pakaian sesuai selera mereka.

 

menumpuk...

Tim dapur umum PMI yang bekerja menyiapkan makanan bagi pengungsi. Jompo-jompo yang terlihat lelah sekali dan minta dipijat oleh anak atau cucunya. Dua spot MCK darurat berjejer. Oh, bau pesingnya tercium dari jarak 5 meter.

Salah satu spot MCK darurat

Dan banyak pemandangan lainnya yang menyita perhatian. GOR Gelarsena termasuk posko pengungsian yang cukup, apa kabar posko lainnya yang belum tersentuh bantuan? Ini gambar bagian dalam GOR Gelarsena setelah sebagian kembali ke kampungnya masing-masing secara diam-diam.

pengungsi dalam satu atap

Di siang hari, saya mencoba mendapatkan gambar Gunung Merapi dari atap gedung GOR. Dengan susah payah melompati jendela GOR, akhirnya saya bisa menjangkau atap. Dan yup, dari atas sini Gunung Merapi tampak jelas dengan kepulan asapnya. Sungguh cantik namun bahaya.

Dangerously beautiful

Sore hari, anak-anak pengungsi diajak bermain di lapangan tennis oleh kakak-kakak dari salah satu universitas. Maaf saya lupa tanya. Saya mengamati dan memotret mereka. Ternyata sedikit kesulitan yang saya awali di awal perjumpaan dengan anak-anak ini bukanlah salah saya yang kurang bersahabat dengan anak-anak. Kakak-kakak ini pun mengalami hal yang sama kok. Bahkan mungkin lebih parah. Terlihat mereka sungguh kelimpungan karena anak-anak ini susah diatur dan cenderung melawan. Oke, dari sini saya belajar bagaimana cara menggaet anak-anak.

Malam hari, ada kelas digital buat Jono, Jiono, Slamet, dan Anwar. Memanfaatkan Ipad milik Ibu Wahyu dan juga netbook HP milik Kak Bima, terlihat mereka sungguh tertarik dengan hal-hal baru seputar dunia digital ini. Saya mengerti akan hal itu karena mereka masih termasuk net geners. Rasa keingintahuan mereka sungguh sangat besar, namun kesempatan dan fasilitas bagi mereka sungguh sangat kecil. Melalui Ipad dan netbook ini, mereka menulis pesan di facebook Dilts Foundation. Let the whole world knows that they’re exist, anak-anak lereng Merapi. Mereka juga mengirim senyum dan salam kenal untuk teman-teman di Dilts Foundation Jakarta. Ini yang saya sebut Sahabat Pena turns into Sahabat Digital :p

Anak Merapi Go Digital

Saya capture foto anak-anak ini dengan Ipad-nya dan saya share di Twitter dan di RT oleh @jalinmerapi. Dari situ cukup banyak comment dan feedback dari tweeps yang saya sendiri tidak kenal. Senangnya memperkenalkan anak-anak ini ke masyarakat Twitterland🙂

Whaday!

One thought on “Menengok #Merapi Sejenak – Day 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s