Menengok #Merapi Sejenak – Day 1

Jumat, 12 November 2010

Just right in time tiba di Stasiun Gambir. Sigh, telat sedikit lagi bisa ketinggalan kereta tuh. Macica Jakarta!

Saya dan Ibu Wahyu Dilts, Jumat pagi itu menuju Klaten Jogja bersama kereta api Dwipangga. Judulnya sih relawan, tapi tetep manja pake kereta eksekutip😀

Perjalanan 9 jam Jakarta – Jogja sungguh membuang-buang waktu. Itu menurut saya. We had no choice.

Sebelum tiba di stasiun Klaten, saat melewati stasiun Tugu Yogyakarta, disini saya sudah bisa merasakan hawa bencana. Yah, saya memandangi tumpukan dus-dus dan karung-karung yang tidak lain adalah sumbangan dan bantuan untuk korban Merapi. Terlihat meski dari balik jendela kereta, tumpukan bantuan itu memadati jalur-jalur yang biasanya dipenuhi oleh calon penumpang kereta. Tak terlihat manusia di jalur-jalur itu, melainkan gunungan bantuan. Siapa yang bertanggung jawab akan tumpukan ini?

Pukul 5 sore waktu setempat (kayak ada perbedaan waktu aja :p), kami tiba di stasiun Klaten langsung menuju GOR Gelarsena Klaten. Disitulah salah satu dari 2 posko Dilts yang masih aktif. Seharusnya ada 1 posko lagi di Dangean. Tapi posko kami disana sudah dievakuasi dan hancur tersapu hujan abu vulkanik. Satu posko lainnya ada di GOR UNY Yogya. Posko ini lebih ke posko kesehatan. Sedangkan posko di GOR Gelarsena lebih ke children center untuk bermain dan belajar.

Dilts Center

Kesan pertama celingak celinguk GOR Gelarsena Klaten, manuso pating keleleran. Banyak betul pengungsi disini. Tapi eh ternyata baru tahu bahwa pengungsi yang saya lihat itu belum seberapa dibandingkan hari-hari pertama pengungsian. Banyak pengungsi yang sembunyi-sembunyi sudah kembali ke kampungnya. Tapi overview saya, disini memang sudah serba kecukupan. Mulai dari makanan, baju, air, posko kesehatan pemerintah daerah setempat dan posko-posko mandiri dari perusahaan juga lembaga-lembaga lain. Termasuk Posko Dilts Foundation Peduli Merapi yang khusus sebagai tempat bermain dan belajar anak-anak pengungsi.

Ya, disini, di posko ini saya berusaha untuk berbagi ceria bersama anak-anak pengungsi. Pertama bertatap muka dengan anak-anak ini, saya sedikit khawatir karena kendala keterbatasan saya berbahasa Jawa. Untungngya, bahasa Jawa mereka kasar dan sedikit banyak saya mengerti apa yang mereka katakana, asalkan ojo cepet cepet yo dik! Dan saya pasif berbahasa Jawa. Tapi bukan ellie namanya kalo pantang menyerah. Sekuat tenaga dan pikiran, saya mencoba aktif berbahasa Jawa. Entah bisa dimengerti atau tidak😀

Meet the Javanese Kids

Kekhawatiran lainnya, anak-anak ini bukanlah anak-anak yang biasa saya hadapi di Dilts Foundation. Meskipun rupa mereka hampir sama, jelas karakter dan tabiat mereka berbeda. Anak-anak Merapi sedikit kasar dan angel dikandani (baca: susah dibilangin). Tapi jelas terlihat mereka anak-anak yang baik. Hanya saja mereka mungkin tidak terbiasa.

Sedikit berusaha keras, then I can get into them. Meski saya harus ikhlas dipanggil Mbak Cina, it’s ok lah. Ya, mereka memanggil saya Mbak Cina. Saya juga bingung, kenapa bisa begitu? (pertanyaan retoris :D) Tapi seketika Mbak Cina terkenal lho :p Another thing, ketika saya menjawab nama saya adalah ellie, spontan mereka tertawa. Bagi yang tahu apa arti ellie (Eli) dalam bahasa Jawa, you know lah. Bagi yang belum tahu, eli dalam bahasa Jawa itu artinya “jelek” L Arghhh padahal kan nama Ellie cukup keren diluar sana😀 Hahahaha, yasudahlah. You kids can call me Mbak Cina :)  yang cantik.

Klenteng klenteng klenteng…..

Waktunya makan malam! Yang saya dengar, mereka setiap hari makan mie. Selain ada posko bantuan dari salah satu perusahaan mie, sebut saja SEDAP, yang menyediakan mie masak, juga ada beberapa pihak yang membagikan mie cup siap seduh. Otomatis dalam sehari saya lihat anak-anak dan pengungsi lainnya bisa makan mie 2 – 3 kali. Mekar deh tuh perut.

Meski sudah malam, anak-anak pengungsi tertarik dengan mainan baru yang saya bawa, titipan dari Kepala Sekolah Dilts di Jakarta. Beads or monte-monte untuk dibuat menjadi kalung atau gelang. Mereka terlihat begitu bersemangat. Dan yah, tanpa harus diajari, mereka tahu bagaimana menyusun warna-warna itu supaya jadi menarik.

proses pembuatan kalung dan gelang

Malam sudah larut Bapak Andi, saatnya mereka tidur. Perlu dibunyikan klenteng-klentengmu?

Penasaran dengan lingkungan GOR dan sekitarnya, sedikit saya melongok ke pelataran gedung GOR. Ternyata pelataran GOR dipenuhi oleh pengungsi yang lebih memilih tidur di pelataran daripada di dalam Gedung GOR yang katanya sumpek, saking banyaknya manusia di dalam sana.😥 Bahkan beberapa anak memilih untuk tidur di posko kami. Dengan tidak mengurangi rasa prihatin saya atas saudara-saudara pengungsi, mohon maaf karena saya mendapat tempat tidur yang nyaman, yaitu di rumah Tante Endang, adik kandung Ibu Wahyu yang kebetulan rumahnya dekat dengan GOR sehingga kami jadikan markas.

Saat anak-anak sudah kembali ke GOR, kami kehadiran bintang tamu. Please welcome Mbah Plompong.

The One and Only Mas Plompong

Beliau ini musisi. Seniman sejati. Dari penampilannya yang sungguh nyentrik saja, kita bisa menilai bahwa beliau seniman. Itu baru penampilannya. Coba lihat alat musik yang dibawanya. Berbentuk kotak terbuat dari kayu dengan batang-batang bambu yang dimainkan dengan cara dipetik. Suara musik yang keluar tipikal musik pengamen nan sederhana namun yang kali ini baru saya dengar. Saat saya bertanya alat musik apa itu, beliau menjawab, “karepmu waelah. Mau dibilang apa” -_-! Padahal saya tanya serius. Jangan dulu menilai apapun tentang seniman ini sebelum mendengar suara dan lagu-lagunya. Lagu-lagu dengan lirik bahasa Jawa yang sungguh sederhana dan terkesan nyeleneh. Bertemakan isu sehari-hari, lagu-laguya mampu menghipnotis semua yang mendengarnya. Bagi saya yang pertama kali mendengar beliau beraksi, sungguh saya terpana. Yang lain mendengarkan diiringi tawa karena memang lagu-lagunya mengundang tawa. Kekurangannya, bagi kita yang ndak mengerti bahasa Jawa yah cuma bisa plengak plengok. Untung saya sedikit-sedikit ngerti. Dari sekian lagu yang dibawakan, ada satu lagu yang khusus dinyanyikan untuk saya. apa coba judul lagunya? “Ling Ling Seng”. Terima kasiiiiih😀 Satu hal yang menjadi ciri khasnya, yaitu teriakan “Honda” di tengah-tengah lagunya. Hmmmm untuk yang satu itu, saya coba cari tahu yaaa. Memang motornya sih Honda, tapi dia tidak disponsori oleh Honda kok :p

Cheers!

One thought on “Menengok #Merapi Sejenak – Day 1

  1. Pingback: I’m Not Going Back To 2010 « Missellieneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s