Bangku Kosong

Dag dig dug
Dag dig dug

Jantungku berdebar-debar menanti kepastian.

Siapakah yang akan mengisi bangku kosong disampingku ini?

Yang akan menemani perjalanan panjangku melintasi propinsi.

Seorang ibu-ibu menggendong anaknya yang juga rempong menjinjing barang-barang bawaannya celingak celinguk mencocokkan nomor karcisnya. “Waduh bu, not this time yah. Please, saya butuh ketenangan”.

Alhamdulillah beliau lewat begitu saja.

Kembali harap-harap cemas.

Seorang kakek-kakek yang sedikit linglung semakin mendekat. “O ow!” Beliau terhenti di jajaran bangku saya. Masih terlihat linglung. Setelah tanya sana sini, ternyata beliau mendapat kursi tepat di depan saya. “Puuuiifhhh! Masih ada harapan nih. Siapa tau cowok keren :p”

Masih berharap akan keajaiban bertemu seseorang spesial lewat cerita ini.

Bismillah…

“Oh sh*t! Apa salah dan dosaku Tuhan?”

Mas-mas ga banget cengar-cengir berjalan dengan pede-nya mendekati kursi ini.

“Oh no, please! Kalau begini, mending kursi ini dibiarkan kosong aja deh! Sendirian will be much better.”

Tuhan mendengar doa saya. Si mas-mas itu duduk di belakang saya. “Puiiifh!” *menyeka keringat*

Terima kasih Tuhan. Engkau menunjukkan kepada saya betapa saya memang belum siap untuk ditemani siapapun di samping saya. Betapa saya masih sanggup duduk sendiri. Betapa saya masih menikmati kesendirian ini.

You’re the best. You know what I want, but You give me what I need.
Dan yah… Kursi itu kosong. Saya pun tertidur.

3 thoughts on “Bangku Kosong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s