The Social Network – Story Behind Facebook

Hey net geners (Thank God I’m one of you).
The Social Network movie is presented to you. A movie for digital generation today. Yes! It’s you, you, and you! And you also! Hey you at the corner, this movie also for you lah.

Kenapa saya yakin film ini untuk kita-kita? Saat ini siapa sih yang ga punya Facebook? Memang benar, masih ada segelintir orang yang ga punya Facebook. Tapi itu bukan karena mereka gaptek. Facebook itu user friendly. Tapi lebih kepada mereka yang berprinsip teguh untuk tidak tersentuh Facebook dengan alasan ini dan itu.

Ah yasudahlah, lupakan itu karena kita akan membahas The Social Network, the facebook itself. Sebuah film yang menceritakan kisah  Mark Zuckerberg, si pendiri Facebook. “The Youngest Billionaire in the world”. ~mimisan~ Coba tengok cerita di belakang suksesnya jejaring sosial terbesar dan paling fenomenal.  FYI, Indonesia bukan lagi pengguna Facebook terbesar tingkat tiga dunia, melainkan naik kelas jadi peringkat kedua. Confirmed!
Disutradarai oleh David Fincher, film ini based upon the book The Accidental Billionaires’ by Ben Mezrich. Sayangnya, saya belum baca buku ini. Dilihat dari judulnya,  sangat menarik. Jadi milyarder secara ga sengaja. Siapa coba yang ga mau?


Mark Zuckerberg diperankan oleh Jesse Eisenberg, layaknya geeks kebanyakan. Harvard’s student. Otak cemerlang dan brilian. Namun disfungsional secara social. Ya, anti-sosial. Kecepatan berpikrinya jauh melampaui kecepatan bicaranya. He doesn’t even have 500 friends at the beginning. Tapi ternyata orang yang anti social ini justru membuat banyak orang di seluruh dunia memiliki teman lebih dari 500 orang. What a brilliant, isn’t he?

Berawal dari rasa sakit hati karena penolakan teman wanitanya, Erica Albright…


Erica Albright: “You’re going to be successful, and rich. But you’re going to go through life thinking that girls don’t like you because you’re a geek. And I want you to know, from the bottom of my heart, that that won’t be true. It’ll be because you’re an asshole”

Ouch! That must be hurt! But that’s where the story begins. It makes Mark do something big. Kecewa dan marah besar. Ia memanfaatkan keahliannya dengan membuat Facemash. Secara illegal, Mark masuk ke situs-situs dan jaringan resmi universitas lalu mencuri foto dan profil wanita-wanita yang kemudian akan dibandingkan, siapa yang paling seksi dan siapa yang paling menarik. Inilah kekuatan internet. Mark berhasil mencuri perhatian banyak orang hanya dalam waktu 2 jam.

 

Marylin Delpy: The site got 2200 hits within 2 hours?
Mark Zuckerberg: Thousand.
Marylin Delpy: I’m sorry?
Mark Zuckerberg: Twenty-two *thousand*

Ya, Mark juga mendapat perhatian besar dari para pejabat universitas karena telah melanggar peraturan jaringan IT. Semua orang membicarakannya. Hingga kabar ini sampai di telinga ketiga mahasiswa seniornya. Si kembar Cameron dan Tyler Winklevoss (keduanya diperankan oleh Armie Hammer) dan Divya Narendra. Mereka bertiga mengundang Mark untuk bergabung dalam proyek terbengkalai mereka, called HarvardConnection (ConnectU).

Winklevoss: “because we are the gentlemen of Harvard”

 

It’s a YES from Mark.

Dalam perjalanannya, Mark tidak tertarik pada HarvardConnection. Mark justru mengajak Eduardo Saverin (diperankan  oleh Andrew Garfield) untuk menjalankan sebuah project dengan menanamkan modal sebesar 1000 USD. It’s also a YES from Eduardo. Saat Mark membangun proyeknya sendiri bersama Eduardo, Mark mengulur-ulur waktu kepada si kembar Winklevoss dan Narendra.
It’s THE FACEBOOK.
Jangan kira semua fitur dan aplikasi yang ada di Facebook saat ini dapat dengan mudah Mark buat. Semuanya fitur butuh waktu dan pemikiran. Juga butuh inspirasi yang didapat dari orang-orang sekitar. Bahkan untuk status relationship, Mark dapatkan saat salah satu temannya yang penasaran akan seorang gadis. Does she have a boyfriend? Single? Looking for a boyfriend?
Mark as a founder The Facebook and Eduardo as the CEO.
Tak disangka, The Facebook become so popular. Everyone is like saying “Facebook Me”. The Facebook semakin menggema di berbagai wilayah hingga terdengar di Sean Parker (diperankan oleh si ganteng Justin Timberlake  ~mimisan lagi~). Sean Parker, the founder of Napster.

Sean Parker: “We lived in farms, then we lived in cities, and now we’re gonna live on the internet!”

Bersama Sean, Mark menemukan kecocokan pandangan akan kesuksesan The Facebook. Sangat berbeda dengan Eduardo yang selalu berusaha untuk menjadikan The Facebook sekomersil mungkin.
Sean Parker: You know what’s cooler than a million dollars?
Eduardo Saverin: You?
Sean Parker: A billion dollars.
Pertemuan The Facebook tim mengawali kerjasama mereka dengan Sean Parker.
Sean Parker: “Drop the “the”. Just “Facebook”. It’s cleaner.”
Now we know it as FACEBOOK.
Beberapa konflik terjadi saat Sean Parker mulai memasuki perusahaan kecil ini. Hubungan yang  tak baik antara Sean dan Eduardo make it worse. Tapi berkat kehandalan Sean, Facebook menjadi perusahaan besar dan semakin berkembang lintas benua.
Mark Zuckerberg: “If you guys were the inventors of Facebook, you’d have invented Facebook”
Kebesaran dan kesukesan dalam waktu singkat ini membuat the Winklevoss dan Narendra tak bisa berdiam diri. Tepat di saat mereka mengetahui kesuksesan Mark, they’re at their lowest point of being loser.  The Winklevoss dan Narendra menuntut Mark atas tuduhan pencurian ide terkait intellectual property. Plagiat katanya.
Marylin Delpy: You must really hate the Winklevosses.
Mark Zuckerberg: I don’t hate anybody. The “Winklevii” aren’t suing me for intellectual property theft. They’re suing me because for the first time in their lives, things didn’t go exactly the way they were supposed to for them.
Di lain pihak, Eduardo juga menuntut Mark karena kepemilikan sahamnya atas Facebook company berkurang.


Gage: Your best friend is suing you for 600 million dollars.
Mark Zuckerberg: [sarcastically] I didn’t know that; tell me more!
Cerita ini berakhir dengan kesepakatan pembagian saham di Facebook Company.
Marylin Delpy: You’re not an asshole, Mark. You’re just trying so hard to be.
Di akhir film, saya melihat konflik lain yang terjadi. Mark Zuckerberg, the founder of the biggest social network called Facebook, justru mengalami kesulitan dalam berteman dengan seseorang. Mark add Erica as a friend and hoping she will confirm him as a friend. He’s waiting and keeps waiting, looking at his screen. He keeps pressing F5.
Mark Zuckerberg asli menganggap film ini hanyalah bualan belaka. Namun, saya percaya, some are fiction and some are real. Which part are fictions and which part are real? You tell me😀
Pelajaran moralnya adalah…
Dengan passion, bahkan saat kita terpuruk pun, itu bisa menjadi jalan menuju sesuatu yang besar.
Keep your eyes on screen. Dialog super cepat, cerita sangat padat. You don’t wanna miss a thing😀
Me waiting for the story of Twitter to be captured🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s