Hai, Nama Saya Abu

Hai, nama saya Abu. Saya berasal dari daerah kecil di Tegal, Jawa Tengah. Masa anak-anak saya tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain layaknya anak kampung dengan keterbatasan ekonomi. Hingga semuanya menjadi lebih buruk saat orang tua saya harus bercerai. Mereka berpisah dan saya diasuh oleh kakek saya seorang diri. Ibu pergi merantau ke Jakarta, dan ayah entah kemana. Setelah lulus SD, saya memutuskan untuk menyusul ibu ke Jakarta. Saya tidak langsung melanjutkan pendidikan ke SMP karena keterbatasan biaya. Tinggal di sebuah kontarakan kecil bersama ibu dan adik saya, yang juga tidak bersekolah, perekonomian keluarga semakin buruk. Disaat anak-anak lain memakai seragam putih biru dengan rapi dan belajar di sekolah, saya hanya bisa terdiam tanpa melakukan apa-apa.

Sampai pada akhirnya ibu menyarankan saya untuk bergabung dengan Dilts Foundation. Di sana,saya mengenal seorang teman bernama Asep. Ia penyanyi jalanan alias pengamen. Bersamanya, saya mengawali karir saya sebagai penyanyi jalanan di ibukota Jakarta. Dari bus ke bus, warung tenda satu ke warung tenda lainnya. Pasar Minggu – Blok M – Kuningan jadi makanan saya sehari-hari. Saya dan Asep menjadi dua sahabat yang kompak. Bedanya, Asep masih bisa pergi ke sekolah di pagi harinya. Siang harinya kami belajar di rumah singgah dan sore harinya kami menjadi penyanyi jalanan. Saya juga sempat merasakan uang hasil kerja di cuci steam. Uang yang saya dapatkan dari mengamen dan cuci steam lumayan untuk saya dan adik saya jajan juga sedikit membantu ibu.

Kegiatan-kegiatan Dilts Foundation mengurangi waktu saya di jalanan. Tidak terbayangkan sejak dulu bahwa Dilts Foundation akan membawa saya ke masa depan yang jauh lebih baik. Selama setahun saya tidak bersekolah namun pelajaran akademis sekolah saya dapatkan di rumah singgah Dilts Foundation. Setidaknya otak saya tidak kosong dan masih terisi ilmu-ilmu sekolah. Begitu masuk tahun ajaran baru, saya mendapatkan kesempatan untuk kembali ke sekolah dari Dilts Foundation. Ya, saya mendapat beasiswa dan mulai bersekolah di SMP. Saya juga tinggal di sekretariat Dilts Foundation.

Kehidupan saya jauh lebih baik setelah saya mengenal Dilts Foundation. Dengan saya tinggal di yayasan, saya mengurangi beban ibu. Banyak kesempatan yang saya dapat di Dilts Foundation yang menjadikakn saya jauh lebih berkembang. Di Dilts pula saya memiliki keluarga besar baru yang begitu akrab, menggantikan keluarga saya yang berantakan. Teman-teman, adik-adik, kakak-kakak yang begitu mendukung dan menyayangi saya.

Abu anak kampung yang bukan siapa-siapa, sekarang berubah jadi Abu dengan segudang ilmu dan pengalaman berharga. Abu yang dulu mengekspresikan bakat dan talentanya di jalanan, tidak lagi berpanggung di bus kota. Tampil bernyanyi dan bermain teater dengan artis-artis ibukota menjadikan saya jauh lebih percaya diri dan yakin akan kemampuan saya.

Beberapa panggung yang jauh lebih bergengsi dan megah, juga pastinya lebih dingin karena ber-AC dibandingkan Kopaja, diantaranya: Gedung Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki; Cilandak Town Square; Hotel Arya Duta; Hotel Shangrila; Hotel Millenium; Hotel  Sahid; Pondok Indah Mall; FE UI

Ketertarikan saya akan seni musik muncul sejak saya melihat gitar untuk pertama kalinya di Dilts tahun 2004. Saya belajar otodidak bersama partner bernyanyi saya Asep. Beruntung, Dilts sangat mendukung dan banyak memberi saya kesempatan untuk mengembangkannya. Jadilah saya seperti sekarang ini. Saya dengan teman-teman di sekolah membentuk sebuah band dengan nama LIBBRA, stands for Lima Sahabat Bersatu Raih Impian. Ya, kami hanyalah 5 remaja yang sedang bermimpi setinggi langit dan berusaha keras untuk meraihnya. Mendapat inspirasi dari orang-orang di sekeliling saya, 10 lagu sudah tercipta. Beberapa festival musik sudah kami ikuti. Bahkan kami berhasil masuk 10 besar untuk Festival Kreasi Musik se-Jakarta di GOR Soemantri Brodjonegoro Jakarta tahun 2009.

Dari semua yang sudah saya lakukan dan berhasil saya capai, saya senang dan bangga bisa menginspirasi teman-teman di sekeliling saya, baik teman-teman di Dilts maupun teman-teman sekolah. Tidak hanya menginspirasi, secara otomatis juga memotivasi teman-teman untuk selalu bertekad kuat meraih apa yang dicita-citakan. Tahun 2010,saya baru saja ditinggalkan oleh ibu saya. Hal itu sempat membuat saya jatuh karena berarti saya tidak memiliki orang tua. Adik saya kembali ke kampung dan saya bertahan di Jakarta tanpa keluarga. Tapi saya tidak merasa sendiri karena saya memiliki keluarga besar Dilts Foundation.

Bagi saya, Dilts Foundation sudah mengubah hidup saya. Sayangnya, satu Dilts Foundation saja tidak mampu menampung semua permasalahan anak Indonesia. Saya hanyalah satu dari sedikit anak Indonesia yang cukup beruntung, dengan latar belakang serba terbatas tapi saya bisa melewati batas itu dan mulai mengepakkan sayap.

Bagi saya, berada dibawah pengawasan yayasan jauh lebih baik, karena:

  1. Masih bisa bebas berekspresi. Berekspresi yang bertanggung jawab itu lebih nyaman rasanya.
  2. Tidak lagi di jalanan membuat saya merasa jauh lebih aman.
  3. Banyak kesempatan yang membesarkan dan mengembangkan saya
  4. Saya bisa lebih fokus untuk belajar

Dengan tidak mengurangi rasa syukur saya akan indahnya hidup yang sudah diberikan Tuhan, saya hanya ingin berbagi rasa atas semua keterbatasan saya untuk hidup sebagai anak Indonesia.

  1. Ekonomi keluarga yang terdesak berdampak bagi pendidikan anak
  2. Identitas diri yang sulit didapat. Meski saya lahir dan besar di Indonesia, negara ini masih saja meragukan eksistensi saya sebagai warga negara
  3. Pergaulan di kalangan remaja yang rentan dengan kekerasan dan juga obat-obat terlarang

Know me better:

Hai, nama saya Abu

 

 

 

Name: Abu Sholeh

Date of Birth: Tegal, 24 April 1993

Email: abbuloseh@yahoo.com

Facebook: Aboe Libbra

Future Goals: Musician and Director

 

 

 

 

“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi syarat keberangkatan Abu mewakili anak-anak Indonesia di Regional Workshop to Promote and Support Children and Young People’s Participation in ASEAN yang berlangsung tanggal 18 – 23 Oktober 2010 di Manila, Philippines”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s