When the Sun Rises, So Does the Beauty of Bromo

(20-21 December 2009)

Bromo tak mungkin terlewatkan saat kami menyusun rencana perjalanan panjang keliling Jawa. Bromo yang indah, Bromo yang dingin, dan Bromo yang tak ada duanya. Semua orang berpikir hal yang sama saat ditanya tentang Bromo. Entah berdasarkan pengalaman langsung menyambangi Bromo, membaca buku dan situs sana sini atau hanya curi-curi dengar cerita orang lain. Itulah mengapa kami ingin membuktikannya sendiri. Banyak turis asing yang berhasil memandangi keindahan Bromo secara langsung, masa iya kita kita penduduk Indonesia belum bisa menikmatinya? Malu toh…
Bromo menjadi salah satu tujuan utama perjalanan ini. Persiapan pun harus lebih matang. Jaket tebal, checked. Kupluk, checked. Gloves, checked. Kaos kaki, checked. Perfecto!

Ada banyak jalan menuju Bromo. Kami putuskan untuk lewat Probolinggo. Bus tujuan Probolinggo meluncur dari terminal Bungur Asih Surabaya dengan tarif Rp23,000. It took less than 2 hours karena tidak ada kemacetan. Sebelum memasuki terminal Bayuangga, kami diturunkan karena di luar terminal sudah berjejer mobil-mobil elf yang siap mengantar tetamu Bromo seperti kami. Dahsyat, calo-calonya do speak English. Tuntutan peran kali yah, secara banyak turis asing.

Elf jurusan Probolinggo - Cemoro Lawang

Kami bersama dua orang turis asal Estonia. Dari penampilannya, dapat dipastikan merekalah truly backpacker. 10 menit berlalu. 20 menit berlalu. 30 menit berlalu. Dan begitu seterusnya namun kendaraan harapan kami satu-satunya ini tak kunjung bergerak. Yah, mungkin menunggu penuh. Tapi sampai kapan? Dari 30 menit yang lalu, hanya ada kami bertiga dan 2 turis asing itu. Ggrrr… it’s been 1 hour and we don’t move even an inch. Judulnya Mati Gaya. Meski mas-mas pemilik elf tahu betul bagaimana cara memperlakukan penumpang layaknya pelanggan, yaitu dengan memutar lagu dangdut sekeras-kerasnya as if kami kami ini tuli. Lima menit lagi kami terkungkung di dalam kubik sumpek dengan suara penyanyi dan musik dangdut yang memekakkan telinga, we’re death.

Situasi genting di dalam Elf

Untunglah Tuhan masih memberi kami kesempatan hidup. Perjalanan seru dengan jalan berliku-liku menuju Cemoro Lawang memakan waktu 1 jam 20 menit. Kelebihan elf ini memang selain satu-satunya transportasi yang menjangkau Bromo, penumpangnya pun akan diantar sampai tujuan, bahkan sampai depan hotel. Hohoho…

Sore itu, sesampainya di Cemoro Lawang, kabut tebal dan udara super dingin menyambut kami. Bbbrrr… this is what we’re talking about. Sejuuukk cenderung duingin abiiss… Bromo Permai menjadi pilihan untuk menginap. Rate-nya lumayan mahal, mungkin karena daerah wisata. Padahal kan, non-AC. Dimana-mana kamar non-AC lebih murah. Hehe… Coba dong contoh pasangan asal Estonia itu. Mereka cari-cari homestay dengan harga sewa hanya Rp75,000. Mantaaap…

Sore hari, kabut semakin tebal menutupi dan membatasi jarak pandang hanya sejauh 5 meter. Parrrah… Niat hati ingin jalan-jalan sore menikmati pemandangan, tapi daripada nyasar karena tak bisa lihat jalan, nongkrong di warkop aja yuk. Nongkrong di warung kopi pinggir jalan is the best way to warm your body. Trust me. Pesan 1 porsi mie rebus pake cengek dan wedang jahe. Dijamin badan jadi hangat.


Saking dinginnya, you better stay in your room saat malam tiba. Habiskan waktu menonton TV saja dan istirahat cukup karena besoknya harus bangun subuh menuju Penanjakan, itupun kalo ga mau ketinggalan matahari terbit. Oh ya, dari supir elf yang tadi, kita juga bisa sekalian pesan jeep untuk naik ke Penanjakan besok paginya. Per orang dikenai tariff Rp100,000. Selain jeep, ditawarkan juga fasilitas sewa kuda untuk ditunggangi di sekitar kawah, dengan harga sewa Rp100,000 per kuda. Kalo boleh saran sih, you better not deh. Mending jalan kaki, lebih sehat. Sehat di badan sehat juga di kantong!
Semakin malam, dingin semakin menusuk tulang. Bbbbbrrr…. Another advice, ga usah deh nambah extra bed daripada mubazir. Karena berdasarkan pengalaman, meski berempat, satu kasur saja cukup kok. Semakin lengket semakin hangat. Indahnya kebersamaan…

Pasang alarm jangan sampai lupa karena jeep akan menjemput pukul 04.00 pagi, menghindari kejar-kejaran dengan matahari yang besok pagi harus terbit tepat waktu. Udara subuh jauuuuh lebih dingin. Tapi kami harus bergerak. Cuci muka cukup, dan jangan lupa persenjatai dengan peralatan perang yang lengkap.

Jeep datang tepat waktu dan tanpa menunggu lama bapak supir membawa jeep merah itu membelah kegelapan menuju puncak Penanjakan melalui hamparan luas padang pasir dan jalan-jalan menanjak. Perjalanan ke Penanjakan memakan waktu 1 jam. Sepanjang jalan kami agak was was karena langit mulai berubah warna menjadi merah. Oh matahari yang cantik, tunggulah kami…

Jeep Merah kami

Turun dari jeep, kami masih harus berjalan menaiki tangga menuju view point. Woooww… so many people yang sedang menanti datangnya sang mentari. Terlalu penuh hingga sulit mendapatkan spot yang tepat untuk mengambil gambar. Hal yang tak mungkin juga untuk memotret diri tanpa ada figuran dalam frame. Tak lama, ini dia yang ditunggu… the sun rises and bring out its beauty. Awesome… jeprat jepret! Jeprat jepret! Semua orang tak mau ketinggalan mengabadikan lukisan Tuhan yang dahsyat ini. hmmm… sedikit iri dengan SLR-SLR mereka. Hiks…

Setelah puas mengabadikan sang matahari terbit, next destination adalah kawah Bromo. (masih dalam paket sewa jeep). Tapi naik ke puncak yang dingin belum lengkap tanpa makan jagung bakar. “Jagung bakar pedas manisnya 4 mas’e!” Jagung bakar lezat dengan harga Rp5,000 cukup untuk sikat gigi di pagi hari. Meski bunga abadi dilarang keras untuk dipetik dan diperjualbelikan, kami melanggarnya dan membeli satu buket bunga abadi.

Jeep merah menuju kawah Bromo. Letaknya tak terlalu jauh dari Penanjakan melewati hamparan padang pasir yang luas. Setibanya di halaman parkir, kami disambut dengan banyak kuda yang siap ditunggangi dengan tariff beragam, mulai dari Rp100,000. Berhubung kami adalah cewe-cewe tangguh, jalan kaki will be fun and easier. Let’s do walk, don’t be spoil! Dari jauh tampak kepulan asap. Kesanalah kami menuju, kawah Bromo. Setiap langkah kami menuju kawah, setiap saat juga para pemilik kuda memberikan tawaran. Semakin jauh kami telah melangkah, semakin turun tariff sewanya.
“Mbak, naek kuda biar ndak capek. 70ribu sampai sana”
“Ayo mbak, naek kuda saja mbak. Jalannya masih jauh lho, nanti capek. 50ribu saja mba sampai tangga sana!”
“Mbak naek kuda saja mbak. 30ribu saja”
“Simpan tenaganya Mbak buat naik tangga.  250 anak tangga lho. Naik kuda saja, 20ribu”
Sampai akhirnya penawaran terendah hanya Rp10,000. Itupun anak tangga sudah tinggal beberapa meter di depan mata. Hahaha…


Dengan susah payah dan sempat berhenti di 3 titik pit stop karena kelelahan, we made it. Kami sampai di depan anak tangga. Puuifhh… akhirnya sampai sini juga. Oops, it’s not over yet. Masih ada 250 anak tangga yang harus dilalui. Huaaa… Konon, bagi siapapun yang berhasil menghitung dengan tepat jumlah anak tangga saat menaikinya menuju kawah, akan mendapat kebaikan. Itu mitos. Boleh percaya boleh juga tidak.

250 Anak Tangga Menuju Kawah Bromo

Wow, pemandangan dari atas tampak lebih indah. Belum lagi kawah dengan asap yang mengepul tanpa bau belerang yang menyengat. Sudah cukup menikmati pemandangan dari atas dan tenagapun telah terkumpul kembali, kami menuruni tangga dan berjalan menuju tempat parkir. Kali ini perjalanan terasa lebih mudah tanpa harus berhenti di rest area.

Setelah Penanjakan dan Kawah Bromo, sebenarnya masih ada satu tempat yang bisa dikunjungi, yaitu Pasir Berbisik. Sounds familiar, isn’t it? Yup, seperti nama sebuah film layar lebar. Memang benar, hamparan pasir nan luas itu adalah lokasi syuting dari film karya Christine Hakim, Pasir Berbisik. Namun, jika keukeuh ingin ke lokasi ini, kami harus membayar lebih sebesar Rp100,000 untuk satu jeep. Dan menurut pendapat orang-orang, it’s not worthy kok. So, we decided to go back to hotel untuk packing dan segera turun dari Cemoro Lawang sebelum kena charge hotel.

Thank God pagi itu cuaca sangat bersahabat sehingga kami semua para tetamu Bromo dapat dengan mudah menikmati matahari terbit meski konon sehari sebelumnya kabut tebal menyelimuti Bromo. Terima kasih Tuhan, perjalanan jauh kami tak sia-sia. Dan terima kasih Tuhan telah menciptakan alam seindah ini.

Next destination… Malang.

To be concerned:

  1. Persenjatai diri dengan lengkap, diantaranya: jaket tebal, kupluk, gloves, kaus kaki dan syal jika perlu.
  2. Kita bisa sewa jeep ke supir elf yang membawa kita ke Cemoro Lawang.
  3. Wake up on time and don’t be late! Or you will miss a beautiful sunrise of Bromo.
  4. Fisik harus dalam keadaan fit karena dibutuhkan energi lebih untuk berjalan dan naik tangga.
  5. SLR would be better to take the beauty of Bromo
  6. Better walking than riding a horse. Biar lebih terasa. Lagipula, sewa kuda cukup mahal.
  7. Saat ditawari lokasi lainnya seperti Pasir Berbisik, better tak usahlah. Karena tambahan sewanya lumayan mahal dan tidak sesuai dengan ekspektasi di lapangan. Tapi kalau masih penasaran, tak ada salahnya dicoba.

5 thoughts on “When the Sun Rises, So Does the Beauty of Bromo

  1. halo kk, bisa kasih lebih spesifik gambaran mengenai penginapan disana ?

    yang enak dan murah untuk 2 orang 1 kamar atau rumah atau ada yg lain yg lebih menarik ?

    thanks🙂

  2. hai…
    yang aku tau, disana ada banyak penginapan. kebanyakan sih hotel bintang 3. tapi kalo mau murah banget, bisa juga lho home stay. saat aku kesana, home stay cuma seharga 75rb – 100rb per orang. tapi ya pasti fasilitasnya beda sama hotel. kalo cuma berdua sih, mendingan sewa satu kamar hotel daripada sewa rumah.
    Bromo Permai (tempat aku nginap) cukup mahal. berhubung waktu itu lagi musim liburan akhir tahun, jadi agak susah cari2 hotel yang masih available dan bisa pilih harga. coba aja googling daftar hotel bromo dan telp mereka utk tau harganya.
    have a nice trip in Bromo🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s