Surabaya: Kotanya Para Pahlawan hingga Bebek pun jadi Pahlawan

(19-20 December 2009)

Surabaya… Surabaya… Oh Surabaya…

Kota besar di bagian timur Pulau Jawa ini memang cukup menarik perhatian. Karenanya Surabaya menjadi tujuan pertama perjalanan kami keliling Jawa. Pukul 07.10 WIB kereta Sembrani memasuki tujuan akhir Stasiun Pasar Turi, tepat waktu seperti yang dijadwalkan.

Hotel Widodaren @ Jl Widodaren

Di Surabaya, kami sudah memiliki patokan tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi. Setelah beristirahat sejenak di Hotel Widodaren yang berada di Jalan Widodaren (quite recommended), kami siap bertualang. Hmmm… memberi label diri sebagai “backpacker” belum tentu menjalaninya sebagaimana layaknya backpacker lhoo. Tak apa jika belum siap lahir batin. Namanya juga masih dalam tahap belajar. Jadi, berdasarkan rekomendasi beberapa orang yang dapat dipercaya, dari satu tempat ke tempat lain di Surabaya, kami menggunakan jasa supir taksi. “Burung Biru” tentunya recommended.
Saatnya mengeluarkan kitab suci dan peta! Hasil diskusi dengan mas-mas resepsionis sebagai berikut:

Jembatan Merah & Pusat Kya Kya Kembang Jepun
Well, nama tempat ini kami dapat dari beberapa situs dan juga atas rekomendasi seseorang. Okay, we’ll see. And here we go… Yang kami lihat hanyalah jembatan kecil dengan cat warna merah. Nothing special at all. Bahkan jembatan merah yang ada di Bogor terlihat lebih besar dan ramai. Begitu pun dengan Pusat Kya Kya Kembang Jepun yang memang sudah kami ketahui defunc. Ok, tujuan pertama gagal. Total. Next destination…

House of Sampoerna
Mencoba menjadi sebetul-betulnya backpacker, kami berjalan kaki dari jembatan merah (lebih tepatnya Plaza Jembatan Merah) ke House of Sampoerna. Puuiifhh… tenyata jauh juga yah. Kalo boleh kasih rekomendasi sih, better take becak deh. Cukup dengan 5ribu tanpa harus menambah montok betis dan menghitamkan kulit yang sudah hitam. Sesampainya… Thank God tak mengecewakan.

House of Sampoerna

“Dari luar terlihat memukau, begitu masuk…
woooww… dahsyat aroma tembakau….”
Terletak di Surabaya lama, kompleks bangunan megah bergaya kolonial Belanda ini dibangun pada tahun 1862. Tempat ini dijadikan situs bersejarah yang dilestarikan. Dulunya, tempat ini dijadikan panti asuhan putra yang dikelola oleh pemerintahan Belanda. Kemudian kompleks ini dibeli oleh Liem Seeng Tee pada tahun 1932, seorang pendiri Sampoerna.

Museum ini menawarkan sebuah pengalaman unik. Mulai dari cerita tentang keluarga pendiri Sampoerna (bahkan dipajang silsilah keluarganya lho) hingga pengalaman melihat dari dekat proses pembuatan rokok linting tangan dan berakhir dengan pengalaman tak terlupakan melinting rokok kretek dengan alat tradisional. Pengunjung dapat bergabung dengan 3,000 wanita di pabrik ini yang sungguh memiliki kemampuan luar biasa melinting lebih dari 325 batang per jam. Entahlah, sepertinya memang jumlah itu dijadikan target. Saking mereka terbiasa dengan pekerjaan melinting rokok, mereka terlihat bergerak berirama. Salut to these women.

Di lantai bawah, pengunjung dapat dengan leluasa mengambil gambar. Di bagian depan, lebih banyak foto-foto yang dipajang. Di bagian belakang, dipamerkan benda-benda bersejarah. Juga tersedia tv dengan video performance marching band Sampoerna yang terkenal itu, baik pertunjukan di dalam maupun di luar negeri.

Melangkah menaiki tangga ke lantai 2, kamera sudah tak diperkenankan lagi. Dari lantai 2, pengunjung dapat melihat secara langsung proses melinting rokok yang dilakukan pekerja wanita. Di lantai ini pula, dijual berbagai merchandise Sampoerna. Jangan lupa meluangkan sedikit waktu untuk menulis satu dua patah kata di buku tamu, seperti: “ellie was here”. Sebagai bukti keeksisan pastinya.

House of Sampoerna juga memberikan fasilitas istimewa yaitu Surabaya Heritage Track, a free city sightseeing bus in Surabaya. Program ini menawarkan tur keliling kota Surabaya bagian utara. Dengan menggunakan bus berdesain seperti trem yang pernah beroperasi dan mengelilingi seluruh kota Surabaya di masa lalu, para pemburu sejarah dapat menikmati dan mengenal bangunan-bangunan dan sejarah Surabaya, yang dikenal sebagai kota sejarah, mempelajari “Babad Surabaya” atau legenda surabaya, budaya Surabaya yang kaya dan memperoleh informasi tentang tempat-tempat lain untuk dikunjungi.

Surabaya Heritage Track

Satu pesan penting, jangan sampai ketinggalan bus ini. Hmmm… biar tak ketinggalan, take a look at this Surabaya Heritage Track schedule: (updated December 2009)
Short Tour
From Tuesday to Thursday
1.    10.00 – 11.30
2.    13.00 – 14.30
3.    15.00 – 16.30
Long Tour
From Friday to Sunday
1.    09.00 – 11.00
2.    13.00 – 14.30
3.    15.00 – 17.00
Tracker Information Center (TIC)
Tuesday – Sunday
09.00 – 16.00
More info:
House of Sampoerna
Taman Sampoerna 6, Surabaya 60163 Indonesia
Telp: +62 31 353-9000  Fax: +62 31 353-9009
http://www.houseofsampoerna.museum
E: hos.surabaya@sampoerna.com

I am not a smoker and I hate smoke. But I love its smell. House of Sampoerna is a tobacco heaven. Next destination…

Masjid Sunan Ampel

Dari HoS, kami bertolak ke kawasan religi Sunan Ampel dengan menggunakan jasa betis tukang becak. It cost only Rp10,000. No more berlagak seperti backpacker karena ternyata cukup jauh. Mengharapkan wisata religi yang didapat dari kunjungan ini, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kami memasuki kawasan bagi manusia yang cukup beriman dan bertakwa untuk menutup aurat. Well, it’s not written like that sih. Yang pasti di depan gerbang, tertulis himbauan untuk mengenakan pakaian muslim. Ooooopss!!! We wore a short at that time. Mundur teratur lah kami lalu balik kanaaaan grakk! Okay, sebelum kami panas terbakar didalam sana, kami putuskan untuk mengundurkan diri. Pantas saja, saat memasuki gang yang dipenuhi oleh pedagang-pedagang penjual berbagai kebutuhan muslimin dan muslimat dan tak ketinggalan bau khas aki-aki yang baru pulang haji, ada perasaan tak enak di dalam hati. Ternyata oh ternyata… kehadiran kami tidak diharapkan. So, we left with nothing kecuali pelajaran berharga, yaitu arti sebenarnya dari “dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak”, yang bermakna pake baju sopan ya kalo mau ke mesjid :p
Next destination…

Mesjid Chengho


Sebuah mesjid dengan arsitektur Cina yang indah. Itu kata Om Google. Nyatanya… tak seindah dan tak semegah yang dibayangkan. Mesjid Cina ini tak terlalu besar. Berdasarkan pengalaman berkunjung ke mesjid sebelumnya, kami tak berani masuk ke dalam mesjid. Alhasil, kami hanya berfoto dari luar. Not bad… okay, next destination…

Budha Four Faces Statue
Patung Budha berkepala empat ini terletak di kawasan pantai Kenjeran, kawasan wisatanya dikenal dengan sebutan KenPark. Berhubung kami adalah orang asing yang tidak tahu keadaan setempat, tanpa beban apapun kami menuju kawasan KenPark. Baru diketahui kemudian, ternyata kawasan ini memiliki image yang negatif. Bisa dibilang tempat mesum. Tak heran, sepanjang jalan kami memasuki kawasan ini, banyak pasangan-pasangan entah tua atau muda yang sedang memadu kasih. Who cares?!


Sesampainya di pintu gerbang…. Wooooww… this is what we were talking about. Ini baru layak dikunjungi. Besar. Megah. Indah. Tepat untuk jadi objek foto. Tempat ini pun masih digunakan sebagai tempat beribadah lho. Bau dupa tercium di setiap sudut. Rasanya seperti di Thailand. Lumayanlah latihan sebelum benar-benar berkunjung ke negeri gajah itu. Next destination…



Tunjungan Plaza

Anak mall will be anak mall. Ga jauh-jauh deh, ujung-ujungnya nge-mall juga. Tapi kali ini memang mau ga mau, harus ke Tunjungan Plaza karena kami janji bertemu teman lama disini. Wooow… mall-nya guede banget. Bisa nyasar dan baru ketemu 4 hari kemudian nih. Dari Pizza Hut, XXI sampai Gramedia sudah disapa. Setelah bertemu dengan teman lama, ini dia saatnya makan malam. Di itinerary, pilihan makan malam adalah Rawon Setan di depan Hotel JW Marriott atau bebek Tugu Pahlawan. So, next destination…

Bebek Pahlawan
Setelah seharian berkelana ala orang kebanyakan duit alias naik taksi, kali ini berhubung bersama orang Surabaya, kami memilih naik angkot. Ups, angkot di Surabaya disebut bemo. Hanya dengan Rp2,500 per orang, sampailah kami di sekitaran Tugu Pahlawan. Tumben, pusat kota saat itu sepi dan lengang. Entah apa karena hujan deras di sore hari atau orang-orang Surabaya yang sedang berlibur ke luar kota.


Surabaya kota pahlawan. Bahkan bebeknya pun jadi sosok pahlawan bagi kami yang starving to death malam itu. Bebek ini sudah terkenal kemana-mana, lokasinya pun sangat strategis di depan Tugu Pahlawan. Tempatnya sangat sederhana cenderung kumuh. Pelayanan seadanya bahkan cenderung cuek. Siapa yang mau makan, harus berusaha sendiri, ngantri, langsung bayar dan jangan harap dilayani dengan excellent service. No no no… tapi setelah menikmati bebek bakarnya, now we know… memang ajib abeeess… bahkan teman yang awalnya tak terlalu suka bebek pun, kalap melahap bebek yang tersedia tanpa ragu. Highly recommended! Next destination… hoaaammm…alam kapuk!

Hari ketiga, kami bertolak dari Surabaya menuju Terminal Bayuangga, Probolinggo hanya untuk transit to next destination…  Bromo.

Pelajaran moral dari Surabaya:

  1. Berhubung angkutan umum entah itu bus, bemo atau becak melewati jalur yang sulit, jadi lebih baik gunakan taksi untuk menghemat waktu. “Burung Biru” is still the best meski ada taksi dengan tarih dibawa Burung Biru. Tapi meski demikian, argonya berjalan lebih cepat.
  2. Hati-hati saat tiba di Stasiun Pasar Turi. Berasa artis yang dikerubutin wartawan dan fans. Raise your hand and say no. mereka bisa jadi mengikuti kemana pun kita pergi jika kita masih terlihat linglung. So, pasang tampang paling sok tau dan sekali lagi tekankan, talk to my hand.
  3. Awas hitam dan hindari berjalan di bawah sinar matahari langsung siang bolong. Better take becak untuk jarak pendek.
  4. Sadar diri and be smart. Ke tempat suci harap mengenakan proper clothes. Daripada jadi pusat perhatian orang. I tell you this, ditatap orang-orang itu rasanya seperti ditelanjangi.
  5. Harus tahu tempat-tempat yang tak layak dikunjungi dan yang punya image negatif.

5 thoughts on “Surabaya: Kotanya Para Pahlawan hingga Bebek pun jadi Pahlawan

  1. hoho..
    pertama kali di surabaya tho..

    surabaya yang jadi andalan ya cuma misuh sama boneknya doang..
    hha..

    emang belum dikelola dengan baik mbak pariwisatanya..
    angkutan paling murah ya masih bemo yang luambat dan pengap banget..
    nggak ada namanya ojek, busway atau bustrans..
    tapi kalo di surabaya wajib nyoba angguna (angkutan serbaguna) mumpung belum punah..

    monumen, kebun binatang, dan pantai masih belum dapat perhatian..
    padahal potensinya bagus tuh..
    sekarang malah meresmikan 2 mall, 2 taman kota dan 1 stadion sepakbola dalam setahun..

    tapi lumayan tahun depan mau dikembangin transportasi jalur air (baca:sungai)
    sama pariwisata arsitektur..
    terus ada tempat wisata baru di surabaya, namanya hutan mangrove (masih perawan)..
    ada ekosistem kera, rusa & burung yang migrasi dari australi..
    wajib coba!

    jadi kangen surabaya..
    halaah..

  2. sebenernya jaman sd dulu pernah sih ke surabaya. tapi ga inget apa2😀

    Huaaaa… ternyata cukup pesat perkembangannya. turut berbahagia.

    Dan ternyata banyak yang belum dicoba. mungkin next time kita kesana lagi, lebih well prepared kali yah😀

    btw, thanks for info mas🙂

  3. Pingback: Surat Cinta dari Wordpress: “2010 in review” « Missellieneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s