Spirit of Traveling from Solo, The Spirit of Java

(22-23 December 2009)

Akhirnyaaaa… setelah perjalanan super puanjang melintas antar propinsi, dengan emosi yang naik turun bak roller coaster, Tuhan masih menyelamatkan kami untuk bisa melanjutkan perjalanan panjang ini. Sampailah kami di kota Solo, The Spirit of Java. Kota dengan segudang budaya dan terkenal dengan budi halus penduduknya. Tata kotanya pun terbilang cukup rapi dengan jalan utama Dr. Slamet Riyadi yang terbentang panjang membelah kota Solo menjadi dua. Yaaah… lumayan rapi meski ditengah jalan raya terpatri rel kereta. Rel untuk kereta wisata keliling kota Solo. Terdengar kabar sih harga tiketnya lumayan mahal yakni Rp50,000 per orang dengan model kereta api biasa, bukan kereta lokomotif antik seperti yang diharapkan. Rel kereta ini pun melintasi Jl Slamet Riyadi. Di jalan inilah lokasi Hotel Kota tempat kami menginap. Sungguh not recommended, agak spooky dan tak terlalu bersih. Puuuifh… mau bagaimana lagi. Inilah resiko booking hotel tanpa punya pengalaman sebelumnya menginap di hotel itu. You never know what tomorrow brings.

Look at the bright sight! Setelah melalui perjalanan panjang penuh emosi, pastinya kami ingin beristirahat dengan tenang dan nyaman. Namun apa daya, hotelnya sungguh tak nyaman untuk ditinggali lama-lama. Solusinya adalah we go out and spend more time out there. Minimalisasi waktu di dalam kamar. Alhasil, kami banyak mengunjungi tempat di Solo. Here they are:
Serabi Notosuman, yang terkenal itu lho. Berada di Jalan Notosuman, ternyata ada banyak serabi notosuman. Tapi supir taksi kami merekomendasikan serabi notosuman yang paling terkenal dan sudah sejak lama berdiri. Jamu kaliiii… dan memang benar, rasanya wuenak tenan. Ada 2 rasa, yaitu cokelat dan original. Dua-duanya mantabh. Sambil menikmati serabi uenak, taksi meluncur menuju….

Kampung Batik Laweyan. Solo memang terkenal dengan batik-batik indahnya. Perajin batiknya asli wong Solo. Salah satu kampung batik yang terkenal yaaa kampung batik Laweyan. Sayangnya kami tiba disana sore hari. Banyak dari rumah-rumah batik yang sudah tutup. Alhasil kami hanya bisa mampir ke 3 rumah batik dan membeli sedikit batik untuk oleh oleh. Batik-batik yang ada di sini tergolong mahal. Apalagi kalo mau beli banyak untuk oleh-oleh orang sekampung, jangan deh bisa bangkrut. Setelah kembali ke hotel hanya untuk bersiap kelayapan lagi, lokasi selanjutnya untuk menghabiskan malam di kota Solo adalah…

Map of Kampung Batik Laweyan

Sebelum ke lokasi makan malam, dalam perjalanan kami melewati kerumunan orang yang sedang asyik menonton sesuatu dan tertawa.

Kauman Fair 2009

Curigation mode on. Ada apa sih? Nimbrunglah kami di kerumunan itu. Oh ternyata sedang ada pementasan drama kecil-kecilan oleh siswa SD setempat. Kauman Fair 2009 sedang digelar oleh Karang Taruna Kampung Kauman. Tak hanya panggung kecil sederhana tempat berbagai macam pertunjukan mulai dari drama, musik dan puisi digelar, namun juga stan-stan bazaar berbaris rapi siap menggoda siapapun yang melewatinya. Termasuk kami yang tak tertahan untuk pilah pilih batik khas Solo lalu menukarnya dengan sejumlah uang. Okay, time for dinner, dan kami melanjutkan langkah kami menuju…

GLADAG Langen Bogan alias Galabo Solo, tempat makan favorit di Solo yang hadir hanya di malam hari. Berlokasi di sepanjang Jl. Slamet Riyadi tepatnya di belakang patung Dr Slamet Riyadi, jalanan sepanjang kurang lebih 200 meter yang saat pagi siang sore merupakan jalan raya itu dipenuhi dengan gerobak beragam menu masakan yang berjajar rapi. Cahaya remang-remang dan konsep lesehan di trotoar jalan menambah kesan santai dan nyaman.

Mau itu makan malam atau hanya nongkrong bareng teman-teman, tempat ini oke banget karena dihibur dengan musik live karaoke. Jangan malu untuk ikut menyumbangkan suara emasmu. Pasti banyak yang dengerin deh, dengan 2 kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu tepuk tangan gemuruh atau bahkan lemparan botol Aqua. Ups, just kidding. Warga Solo itu baik-baik dan suka menghargai kerja keras orang lain. Harga makanan disini pun sangat terjangkau. Dijamin, kenyangnya dapet, santainya juga dapet. Oohh… tempat makan yang memorable. Saatnya kembali ke hotel dengan berjalan kaki dibawah sinar bulan kota Solo. perfect…

Esok paginya, 3 gelas teh hangat, setangkup roti isi coklat meses dan sebutir telur ayam rebus telah tersedia di meja depan kamar. Whatever, lahap saja apa yang ada. Hari ini kami sudah menjadwalkan untuk mengunjungi beberapa tempat, yaitu…

Barang antik @ Pasar Windujenar

Pasar Windujenar, pasar yang menjual barang-barang antik. Unique, sudah pasti. Semua barang yang dijual disini pun unik dan antik. Bagi siapapun yang hobi koleksi barang-barang antik, disinilah tempatnya. Sayang sekali kami tiba terlalu pagi sehingga banyak toko yang masih belum buka. Pejalan kaki berlanjut menuju…

Pura Mangkunegaran, yang terletak di pusat kota Solo dan diantara Jalan Ranggowarsito, kartini, Siswa dan Teuku Umar, juga tak jauh dari pasar Windujenar, so please… on your feet. Sedikit bingung di awal harus masuk lewat mana karena tak ada sign “Entry”, “welcome” or anything else yang mengindikasikan pintu masuk. Setelah menemukannya, let’s say lobby, petugas setempat menyambut kami dengan sapaan khas wong Solo, sangat lembut. Siapkan dana untuk tiket masuk sebesar Rp2,500 per orang untuk turis lokal dan Rp10,000 per orang untuk turis asing. Belum termasuk tip untuk tour guide-nya. Seikhlasnya laah…

Banyak hal menarik yang dapat ditemukan di kompleks Mangkunegaran Solo. Cerita-cerita seputar kemangkunegaranan dan sejarah masa lampau, mengingatkan kita pada masa-masa sekolah dulu. Dibangun pada tahun 1757, Pura Mangkunegaran adalah tempat tinggal Raja Mangkunegoro. Menggunakan konstruksi rumah Joglo yang khas arsitektur Jawa. Di pendopo, lantai yang dingin membuat nyaman kaki yang telanjang, karena memang pengunjung diharuskan melepas alas kaki. Itulah sebabnya di awal beli tiket, kami dibekali kantong plastik hitam untuk membungkus alas kaki. Di pendopo inilah tempat dimana pertunjukan seni musik dan tari khas Solo digelar. Setiap harinya mulai pukul 10.00, di pendopo Mangkunegaran digelar persembahan musik dan tari untuk menghibur para pengunjung. Dari pendopo, tour guide akan mengajak tamunya menuju bagian dalam. Sebelum masuk ke ruangan dimana “taking picture is not allowed”, kami disambut dengan beberapa lukisan besar keluarga Mangkunegaran dan keturunannya yang dipajang dibagian depan. Lukisan indah yang akan menatap balik siapapun yang memperhatikannya. Memasuki ruangan dalam, tersusun rapi semua asesoris dan juga barang-barang antik peninggalan kerajaan. Mulai dari koleksi topeng penari, kostum wayang orang, wayang kulit, jewelry, dan masih banyak barang antik lainnya.  Singgasana raja yang menawan dengan segala keperluannya. Souvenir-souvenir pemberian sahabat dari berbagai negara, seperti Inggris, Jepang, Belanda, dll pun terpajang rapi disesuaikan dengan jenis barangnya. Berbagai macam pedang, lencana, hingga kitchen set dari belahan negara lain ini merupakan hasil tukar menukar dengan barang-barang yang dimiliki Mangkunegaran.

There is something that I concerned most. Ada sepasang barang peninggalan unik yang konon digunakan oleh sepasang suami istri untuk menjaga pernikahannya. Sang suami memasang benda yang berwarna emas ini di bagian vitalnya, begitupun dengan sang istri, lalu menguncinya. Dengan terkuncinya bagian vital sang suami, dipastikan ia tak akan mungkin berselingkuh dengan wanita lain saat jauh dari istri, yaitu saat perang berlangsung. Sedangkan untuk sang istri, benda ini pun terkunci di bagian kemaluannya dengan jampi-jampi yang hanya bisa dibuka oleh suaminya sendiri. Ini pun untuk menghindari istri berselingkuh saat ditinggal oleh sang suami tercinta ke medan perang. Ooohh… is it possible to do the same thing for now? Hahaha…

Kompleks Mangkunegaran ini cukup besar dengan beberapa bagian. Tempat tinggal keluarga raja pun tinggal di sekitaran komplek ini. Namun sudah pasti tidak dibuka untuk umum. Salah satu yang menarik perhatian adalah tempat terparkirnya beberapa kereta kencana. Ada beberapa kereta kencana mulai dari yang kecil hingga yang besar terparkir di dalam ruangan ini, mulai dari yang masih bisa digunakan hingga yang sudah dimuseumkan. Salah satu kereta kencana yang paling indah adalah kereta kencana yang digunakan saat pernikahan Puteri Mangkunegara IX GRAj Agung Putri Suniwati yang kerap disapa Menur dengan artis Sarwana pada 13 Juni 2008 silam. Wheeeeww… tepat seperti cerita-cerita putri di negeri dongeng. Lovely! A learn from this place is… damn, it’s not easy to be part of this family. Hohoho… next step…

Keraton Kasunanan Solo
Dari Pura Mangkunegaran menuju Keraton Solo, better take becak karena jaraknya lumayan jauh. Harga tiket masuknya jauh lebih mahal dibandingkan Pura Mangkunegaran. Harus rela merogoh kocek sebesar Rp8,000 per orang plus Rp1,000 untuk kamera. Masih, diluar biaya tip untuk guide. Beri saja serelanya asal jangan keterlaluan pelit karena mereka cukup membantu. Guide menuntun kami menyusuri ruangan demi ruangan di gedung tua itu. Dari satu ruangan ke ruangan lainnya terhubung, didalamnya banyak tersimpan barang dan berbagai perlengkapan yang digunakan saat jaman kerajaan dahulu kala. Memasuki keraton bagian dalam, pengunjung diharuskan menanggalkan alas kaki karena halaman keraton bagian dalam adalah kawasan berpasir. Konon, pasir yang terhampar di halaman Keraton itu berasal dari pantai laut selatan dan bermanfaat untuk kesehatan. Selain itu, semua pengunjung yang memasuki kawasan ini diwajibkan mengenakan pakaian sopan. No need to worry, tragedy Sunan Ampel Surabaya tak mungkin terulang. Pihak setempat telah menyediakan kain batik untuk dikenakan. Terlebih banyak turis asing yang dengan santainya mengenakan kaos tak berlengan dan celana super pendek.

Banyak informasi seputar sejarah kerajaan, keluarga raja dan kegiatan keraton juga cerita-cerita mistis yang ada di sekitarnya. Sungguh menarik. Ada satu menara cukup tinggi yang konon merupakan tempat semedi Nyi Roro Kidul. Hiiiii… Seluas halaman berpasir putih itu, tertanam 77 pohon sawo. Entah apakah 77 itu angka keramat or something. Yang pasti, haruslah sebanyak 77 pohon berjajar rapi. Jika ada satu pohon yang mati, harus segera diganti dengan pohon baru. Meski pohon baru ini pastilah akan terlihat jauh lebih kecil dibanding pohon lain dan akan memakan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh besar. Khusus bagian dalam rumah keraton dimana tinggal keluarga raja, pengunjung tidak diperkenankan masuk. But taking picture from the outside is fine. Memasuki kawasan lain, kami kembali ke bangunan tua yang dari ruang ke ruang terhubung satu sama lain. Seperti Mangkunegaran, disini pun terdapat kereta kencana besar yang sudah tua. Dipajang pula mulai dari pernak-pernik, perlengkapan perang hingga perlengkapan makan. It took an hour mengelilingi semua sudut keraton ini. cukup bagi kami. So, next kami melangkah… dengan becak yang kami minta untuk menunggu sejak dari Pura Mangkunegaran, kami kembali ke hotel melewati…

Pasar Klewer, the famous traditional market in Solo. Di pasar yang cukup besar ini, dijual berbagai macam pakaian batik, asesoris dan makanan khas Solo. Meski diperbolehkan beli satuan, pasar ini juga menerima pembelian grosir pakaian batik dan asesoris, cocok untuk oleh-oleh dalam jumlah banyak. Meski telah menjadi salah satu tujuan berbelanja di Solo karena barang-barangnya yang bagus nan murah meriah, hati-hati saat berbelanja di sini. Banyak copet. Yaaah, tak jauh beda dengan di Jakarta. Copet dimana-mana. Dan ingat, kejahatan terjadi bukan hanya karena niat si pelaku, tapi kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!

Suka atau tidak suka, saatnya meninggalkan Solo dan menuju pemberhentian berikutnya yaitu Jogja. Prambanan Ekspress (Prameks) dirasa cara yang paling tepat untuk sampai di Jogja. Dari depan patung Slamet Riyadi, kami naik bus damri (entah jurusan mana dan nomor berapa) dengan tarif hanya Rp3,000 menuju stasiun Solo Jebres. Keren, bus jarak dekat dengan tarif wajar namun sungguh nyaman karena ber-AC. Tiba di stasiun Solo Jebres, tiket Prambanan Ekspress dibeli dengan harga Rp8,000 non-AC namun ber-kipas angin dan tanpa tempat duduk. Yang aneh, bayar peron di stasiun ini tak masuk akal. Seorangnya dikenai biaya Rp1,000. Hmmm… perasaan dimana-mana paling mahal 200 perak deh. Saran untuk naik Prameks, lebih baik naik dari Stasiun Jebres dibandingkan dari Solo Balapan atau Purwosari. Karena stasiun Jebres adalah stasiun pertama hingga memungkinkan kita dapat tempat duduk. Perjalanan selama 1 jam lebih kami tempuh dengan Prambanan Ekspress menuju… next destination, Yogyakarta.

What we can learn for two days in Solo

  1. Never take any travel services. Menurut sumber terpercaya, semua travel di daerah Jawa TImur dan Jawa Tengah memang modelnya seperti itu. Ugal-ugalan sepanjang jalan. Katanya sih supaya supirnya ndak ngantuk. Iya, supirnya ga ngantuk tapi penumpangnya kena serangan jantung.
  2. Hotel Kota is not recommended, meski lokasinya sangat strategis kemana-mana.
  3. Ternyata kampung batik bukan cuma kampung batik Laweyan yang di sore hari sudah banyak yang tutup warung. Daerah Kauman pun menyebut dirinya kampung batik. Sepertinya batik-batik di daerah ini lebih murah.
  4. Becak Solo bisa ditumpaki 3 penumpang lho, asal tau diri aja. Ndak seperti di Jogja yang becaknya lebih kecil.
  5. Galabo is the best place to have unforgettable dinner. Bahkan lebih oke dibanding Jalan Malioboro Jogja yang notabennya harga jauh lebih mahal.
  6. Wear proper clothes yah jika hendak berkunjung ke Keraton.
  7. Sisakan waktu cukup untuk berkunjung ke Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu. Berhubung lokasinya agak jauh dari pusat kota dan memakan waktu berjam-jam. Sayang sekali we have no opportunity to get there. Maybe next time.

One thought on “Spirit of Traveling from Solo, The Spirit of Java

  1. Pingback: Surat Cinta dari Wordpress: “2010 in review” « Missellieneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s