Terpesona oleh Semarang, Pesona Asia

(25 – 26 December 2009)

Semarang Pesona Asia, merupakan brand wisata kota Semarang sejak tahun 2007. Yakin akan daerahnya yang memiliki banyak pesona untuk dijadikan tujuan wisata, Semarang semakin percaya diri. Begitupun dengan kami yang yakin dengan menjadikan Semarang sebagai kota ke-enam sekaligus kota terakhir dalam perjalanan panjang kami mengelilingi Jawa.

Tugu Muda Semarang

Dengan memanfaatkan jasa travel shuttle bus Joglo Semar di Jalan Magelang, kami bertolak dari Yogyakarta menuju Semarang. Dengan tarif Rp40,000, travel ini jauh lebih nyaman dibandingkan travel Malang-Solo sebelumnya dan memakan waktu hampir 4 jam perjalanan. Puuiffh… melelahkan memang. Dengan taksi, kami langsung meluncur ke Permata Guest House yang terletak di Jalan Singosari 12. Cukup murah, hanya dengan Rp200,000 kami mendapatkan satu kamar. Tujuan pertama for dinner di Semarang adalah…

Kawasan Pecinan Semarang. Cukup jauh dari Jalan Singosari, we took taksi to get there. Begitu memasuki kawasan ini, wooooww…. Feels like in China. Meski ada satu hal yang agak menggangu, yaitu logat orang-orang ini yang medok abis. Kinda annoying for me. jadi hilanglah semua feels-like-in-China tadi. Based on Om Google search, memang kawasan kuliner Semawis ini patut dikunjungi terlebih untuk kalian yang craving for Chinese food. Dan beruntunglah kami karena malam itu adalah Friday night. Karena kawasan ini hanya buka setiap weekend dan hari-hari libur. God loves us. Okay, start hunting the food. Saking banyaknya pilihan, makanan-makanan itu menggoda dan membuat kami bingung untuk memilih. Labil plus plus. Hmmm… sate babinya terlihat menggiurkan dan memanggil-manggil. Well, not for me.

Dinner @ Pecinan Semawis

Iga bakar will be nice. One of us akhirnya memilih nasi campur. Dan untuk pertama kalinya kami tak bisa berbagi makanan. Dim sum nya okelah. Tempat ini memang pas untuk wisata kuliner. So, kosongkan perut dulu sebelum datang ke Pecinan Semawis ya… Dengan perut super kenyang, kami kembali ke hotel. Meski di awal terlintas keinginan untuk masuk ke Lawang Sewu di malam hari dengan pertimbangan lebih seru dan menegangkan, namun kami terpaksa mengurungkan niat. Sepertinya keselamatan jauh lebih penting. *alias penakut

Klenteng Sam Poo Kong, tujuan pertama wisata religi di pagi yang cerah di Semarang. Berlokasi di Jl. Simongan No. 129, Kelurahan Bongsari, Semarang Selatan, tak terlalu jauh dari Jalan Singosari. Masyarakat lokal sering menyebutnya dengan Gedong Batu. Klenteng ini adalah dulunya tempat pemujaan kepada Laksamana Jendral Cheng Ho, meski dirinya sendiri beragama muslim.  Pertama kali menginjakan kaki di depan pintu gerbang Sam Poo Kong, terlihat klenteng bagian dalam. Woooww… megah nan indah.

Sebelum masuk, kami harus membeli tiket seharga Rp3,000. Ternyata keharusan membeli tiket ini baru saja diberlakukan beberapa minggu sebelumnya. Entah wisatawan maupun masyarakat yang ingin sembahyang, tetap dikenakan biaya Rp3,000. Di dalam klenteng ini, terdapat 1 klenteng besar dan 2 klenteng kecil. Tapi sayang, yang boleh masuk ke kawasan klenteng, hanyalah mereka yang beribadah. Selain itu, hanya diperkenankan mengambil foto dari kawasan luar. Selain tiket masuk, terlihat bahwa klenteng ini semakin sadar akan keberadaannya sebagai tujuan wisata. Disana ada photo session dengan penyewaan kostum kerajaan Cina jaman dahulu seharga Rp70,000. Lumayan mahal, tapi ada untungnya. Karena pengambilan fotonya dilakukan di dalam klenteng. Jadi kami bisa ikut masuk ke dalam klenteng dan berfoto ria.

Jenderal Cheng Ho

There’s something I want to share. Menurut kabar berita, sejarah berdirinya klenteng Sam Poo Kong adalah karena dahulu kala, tanah ini adalah milik orang kaya Yahudi bernama Yohanes. Ia selalu meminta sejumlah uang kepada orang-orang Cina yang ingin berdoa di klenteng ini. Sampai akhirnya Oei Tjie Sien, seorang hartawan Cina, membeli tanah ini dari Yohanes dengan tujuan orang-orang Cina bisa berdoa dengan gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun. Well, how about right now? Tapi, Rp3,000 bukanlah biaya yang besar untuk menjaga kebersihan dan keindahan klenteng yang memang sudah dijadikan tempat tujuan wisata ini. Karena dulu, klenteng Sam Poo Kong tak seindah dan semegah ini. kami rasa cukup berpanas-panasan di Klentang Sam Poo Kong. Kami melangkah ke…

Lawang Sewu, yang berada tepat di depan Tugu Muda. Lawang Sewu berarti pintu (lawang) seribu karena memang bangunan ini memiliki begitu banyak pintu. Lawang Sewu masih berdiri kokoh dengan kesan angker yang sudah terkenal ke penjuru negeri. Bahkan gedung tua ini dikenal dengan kawasan wisata horror yang menyimpan seribu kekuatan magis. Banyak paranormal yang mendatangi tempat ini untuk memburu hantu dan hal-hal mistis lainnya. Dari catatan sejarah, Lawang Sewu dibangun pertama kali pada tahun 1903 dan diresmikan pengunaannya pada 1 Juli 1907.

Lawang Sewu

Dengan tiket masuk seharga Rp5,000 pengunjung dapat merasakan hawa mistis meski di siang hari bolong. Menurut penuturan seorang petugas yang berkantor di salah satu ruang mengerikan itu, tepat sehari sebelum kami berkunjung, ada seorang gadis yang kesurupan, tepat jam 2 siang. Wanita itu meraung-raung dalam bahasa Belanda dan cukup lama. Jangan khawatir, pihak pengelola sudah pasti siap dengan hal-hal seperti ini. Ada salah satu orang pinter yang memiliki kekuatan khusus untuk membantu mengeluarkan roh jahat dari dalam tubuh manusia. Bukan hanya itu, kami pun mendapat informasi bahwa dalam waktu dekat, kawasan di dalam Lawang Sewu, yaitu halaman dimana terdapat pohon besar, akan dibangun semacam kafe dan sejenisnya. Bisa jadi starbucks atau McD. Wheeewww… nongkrong plus ngopi dengan suasana horror, will be nice option. Dan diyakini, dengan sedikit pemugaran dan perbaikan sana sini, akan semakin banyak pengunjung tertarik untuk masuk ke kawasan Lawang Sewu. Bahkan pengunjung mall disamping Lawang Sewu akan berbelok arah. We’ll see then…  sementara itu, kami berbelok arah menuju…

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk, gereja Kristen tertua di Jawa Tengah dan salah satu yang tertua di Pulau Jawa, dibangun oleh Belanda pada tahun 1753. Blenduk itu sendiri berarti kubah, terletak di Jl. Letjend. Suprapto 32. Dengan arsitektur yang indah dan interior yang unik, gereja ini dijadikan tujuan wisata oleh para wisatawan. Meski demikian, gereja ini masih digunakan untuk beribadah. Time for lunch… based on friend’s recommendation, kami menyeberang jalan. Tepat di seberang Gereja Blenduk, ada sate dan gule kambing 29 yang terkenal. Harganya lumayan mahal, bahkan menu termahal selama perjalanan kami 9 hari. Hehehe.,… tapi rasanya worth it kok.

Okay, time is up.

Saatnya kembali ke Jakarta dan ke kehidupan yang sesungguhnya. Kereta Argo Muria siap mengantar kami kembali ke Jakarta dari stasiun Tawang, Semarang.

“Ellie melaporkan langsung dari Surabaya, Bromo, Malang, Solo, Yogyakarta, dan Semarang”

Ellie is now signing off…

See you next time🙂

One thought on “Terpesona oleh Semarang, Pesona Asia

  1. Pingback: Surat Cinta dari Wordpress: “2010 in review” « Missellieneous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s