Nothing Compare to the One and Only Yogyakarta

(23 – 25 December 2009)

I just knew why there are so many people fell in love with Jogja. It is loveable. Itu juga sebabnya, film televisi yang belakangan sering tayang di salah satu TV swasta semakin sering mengangkat Jogja sebagai latarnya sesering Bali. Dengan keindahan budaya, tradisi, sejarah serta penduduknya, Jogja telah menjadi pilihan lokasi liburan kedua setelah Bali. Tak ayal, mencari hotel mulai dari melati hingga berbintang, sangat sulit disaat-saat high season seperti libur natal dan tahun baru.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan 1 jam lebih dengan Prameks, kami menginjakkan kaki di stasiun Tugu Yogyakarta. Here we come, Yogyakarta, kota gudeg dan kota pelajar. No surprise, ketika keluar dari stasiun, kami disambut dengan banyak calo mulai dari tukang becak hingga supir taksi. No probs, we can handle it. We took becak to Jalan Dagen tempat hotel Christina yang sudah kami booking beberapa hari yang lalu. Dengan tarif Rp10,000 per becak, sepertinya kelewat mahal. Mungkin memang bisa lebih murah. You know what you have to do lah, bargain!

Hotel Christina
, not really bad. Tapi masih banyak hotel lain yang lebih recommended. Berhubung high season, dapat 1 kamar pun sudah bersyukur. Lokasi Jalan Dagen sangat strategis karena berdekatan dengan Malioboro. Kapanpun mau ke Malioboro, just walk! Jalan-jalan sore di Malioboro and then dinner bersama sambil merayakan someone’s birthday cukup menutup hari itu. Better take some rest karena jadwal esok hari mengeksplor Jogjakarta telah direncanakan dengan cukup matang.
Pagi yang indah di Jogjakarta bertepatan dengan hari raya Natal. But there was no Christmas gift. Hohoho… Perjalanan panjang hari ini, kami mulai dengan…

Candi Borobudur
, one of 7 wonders in the world and listed as a UNESCO World Heritage Site. Sepertinya orang asli Indonesia wajib mendatangi situs peninggalan yang sangat bersejarah ini. Bahkan turis asing tak mungkin melewatkan Candi Borobudur saat mereka berkunjung ke Jogjakarta. Tak heran juga, karena kehebatan dan misteri seputar candi yang merupakan candi terbesar di dunia ini, banyak orang dari berbagai penjuru dunia yang memasukkan Candi Borobudur ke dalam list “must visit place” mereka. Lokasinya memang agak jauh dari pusat kota Jogja. Terletak di sebelah barat laut kota Yogyakarta, sejauh kurang lebih 40 kilometer ke arah Magelang. Dengan kendaraan pribadi, it took an hour. Harga tiketnya sedikit mahal karena tempat ini telah menjadi tujuan wisata favorit bagi turis lokal maupun turis asing, yaitu Rp22,500 plus tiket ijin kamera Rp1,000.


Memiliki 2,672  relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya, Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 dengan kerja keras, keyakinan, dan keteguhan para pekerja dengan hasil yang mengagumkan dan merupakan representasi kebesaran kekuasaan Cailendra. Better ask Uncle Google or Wikipedia to find out more. Sejarah seputar Candi Borobudur dan candi-candi lain sangat menarik untuk disimak.

Pagi menjelang siang hari itu, Candi Borobudur terlihat padat pengunjung. Bahkan kami tak bisa menemukan spot berfoto tanpa ada figuran di belakang kami. Crowded, berisik, dan banyak pengunjung lokal yang tak menaati peraturan yang diberlakukan. Dimana harus masuk dan dimana harus keluar sehingga bentrok sana sini. For me personally, Candi Borobudur memang ajaib. How come manusia jaman dulu bisa membuat bangunan sebesar ini tanpa peralatan modern seperti yang kita miliki sekarang. Indonesian rocks! Setelah puas berfoto meski dengan usaha super keras agar tak perlu pemeran pendukung di frame kami, kami berencana meninggalkan tempat ini menuju destinasi selanjutnya. Oh ya, jalan keluar dari candi mau tidak mau, suka tidak suka, diarahkan ke lokasi penjualan pernak-pernik dan souvenir khas Borobudur dan Jogja. Jadi semua pengunjung harus melewati lapak-lapak yang kebanyakan memaksa kami yang lewat untuk mampir sejenak bahkan membeli. But we made it through… and next kami menuju…

Candi Prambanan
, the largest Hindu temple in Indonesia and also listed as UNESCO World Heritage Site. It is one of the largest Hindu temples in south-east Asia. Keren kaaan, Indonesia memiliki begitu banyak warisan budaya yang diakui dunia. Harga tiket masuknya sedikit lebih murah dengan Candi Borobudur yaitu Rp20,000 plus ijin kamera Rp1,000. Ssttt… pakai tiket ijin kamera dari Borobudur pun tak apa kok, karena tiketnya sama saja.
Candi Prambanan yang terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, dibangun pada abad ke-10 dan menjulang tinggi setinggi 47 meter, 5 meter lebih tinggi dibandingkan Candi Borobudur.

Candi Prambanan

A story behind Candi Prambanan, nice to know… “legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.” (sumber: http://www.yogyes.com) – pelajaran dari cerita ini: Say YES if you want to, or say NO if you don’t want to. Don’t play a game with somebody’s heart.


Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Sayang sekali, akibat gempa Yogya pada 27 Mei 2006 lalu, beberapa candi masih dalam perbaikan sehingga tidak bisa dikunjungi, hanya bisa dilihat dari luar dengan jarak tertentu akibat pagar yang melintang.
Kurang puas karena tidak bisa memasuki candi-candi di Prambanan, kami memutuskan untuk berwisata keliling kawasan wisata dengan menggunakan kereta mini wisata hanya dengan membayar tiket kereta sebesar Rp5,000. Lumayan berkeliling melihat luasnya kawasan Prambanan sekaligus mampir ke tiga candi lainnya, diantaranya Candi Sewu. Puas dengan foto-foto narsis, enough wisata dari candi ke candi. Time to go.

Sama seperti Candi Borobudur, semua pengunjung yang akan keluar, diarahkan terlebih dahulu ke lokasi penjualan souvenir dan oleh-oleh. Ndak masalah… Lelah dan berkeringat karena siang itu sungguh panas menyengat, kami melanjutkan perjalanan ke…

Alun-Alun Kota Yogjakarta. Alun-alun sore itu sungguh ramai karena ada pasar malam yang baru saja dibuka. Sesungguhnya rencana kami ke alun-alun adalah untuk melihat secara langsung 2 pohon beringin besar yang terkenal dengan nama Beringin Kembar, sekaligus ingin mencoba mitos untuk melewati Beringin Kembar itu. Ternyata, beringin kembar yang kami cari bukan di alun-alun tempat pasar malam itu. sempat beberapa kali get lost dan bertanya tentang lokasi ini, akhirnya kami menemukan yang dicari. Ternyata alun alun kidul. (baru mencari lokasi alun-alunnya aja udah nyasar, apalagi mencoba mitos Beringin Kembar?!?ckckckck…)

Bersepeda sore @Alun Alun Yogyakarta

Alun-alun kidul Yogyakarta terdapat dalam satu kompleks Kraton Ngayogyakarto, selalu ramai pengunjung baik turis lokal maupun asing, terlebih saat akhir pekan. Tak heran, kawasan ini menjadi pilihan santai sore maupun malam hari karena suasananya yang nyaman dan membumi. Selain ramai oleh keluarga dan anak-anak yang bermain, alun-alun kidul juga dipenuhi pedagang kaki lima, sewa sepeda tandem, hingga sewa becak mini. Sewa sepeda tandem hanya dengan Rp5,000, bisa dibawa keliling alun-alun sebanyak 2 putaran. Sedangkan becak mini lebih mahal yaitu dengan harga sewa Rp10,000 dan bisa dibawa keliling alun-alun selama 15 menit. Good ways untuk menghabiskan sore hari di Yogyakarta. Salah satu yang menjadi daya tarik alun-alun kidul Yogyakarta yaitu the famous Beringin Kembar.

Beringin Kembar
, 2 pohon beringin besar berumur sekitar ratusan tahun dan terletak di tengah-tengah alun-alun. Apa yang spesial dari Beringin Kembar? Masagin jawabannya. Masangin stands for Masuk Diantara Dua Beringin. Ramai dikunjungi di sore hingga malam hari. Konon katanya, apabila seseorang dapat dengan mudah melewati antara beringin kembar itu dengan mata tertutup, apa yang menjadi keinginan akan terwujud. Insya Allah. Seems easy to do kan? Eits…jangan salah. Boleh ngomong mudah asalkan dicoba dulu. Jarang-jarang lho ada yang bisa melewati tantangan ini. Seringnya, banyak yang salah arah, berbelok, bahkan menabrak pedagang atau orang di sekitar alun-alun. Bahkan tak sedikit yang hanya berputar-putar di satu titik tanpa melewati 2 beringin tersebut. Biar afdol, ikuti tata cara masangin berikut ini:

  1. berdiri lurus sekitar 25 meter dari beringin kembar
  2. Tutup mata dengan kain slayer, sapu tangan atau apa saja yang dapat menutupi mata. Eits, ternyata ada juga penyewaan kain hitam penutup mata dengan harga sewa Rp3,000 untuk 20 menit.
  3. badan diputar-putar lebih dahulu, 360 derajat berkali-kali.
  4. setelah cukup diputar-putar, arahkan posisi badan lurus ke tengah beringin kembar.
  5. kemudian berjalanlah lurus agar bisa melewati beringin kembar tanpa hambatan apapun.
  6. Jangan biarkan orang lain membantu meski hanya lewat arahan-arahan. Karena katanya, meski berhasil, tidak bisa dianggap berhasil. So, do it yourself with your feeling!

Tak mudah memang. Bahkan sebagian besar dari kami tidak berhasil melewatinya meski telah mencobanya beberapa kali. Jika berhasil melewati beringin kembar, Insya Allah keinginan kita akan terkabul. Kata mitos yang beredar lho. Boleh percaya boleh juga ndak. Tertarik? Jangan ragu untuk mencobanya! Hari sudah semakin malam, sebelum cari makan malam, ada satu lokasi lagi yang katanya wajib dikunjungi dan tak jauh dari alun-alun, yaitu…

Taman Sari Yogyakarta, salah satu lokasi wisata Yogyakarta yang banyak direkomendasikan karena nuansa masa lalu yang unik. Berjarak sekitar 0,5 km sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Tamansari adalah situs bekas taman kerajaan atau kebun istana atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya. Saking indahnya, Taman Sari ini sering dimanfaatkan untuk foto pre wedding. Sayang sekali, kami tiba di Taman Sari saat hari sudah malam. Sedangkan Taman Sari hanya buka mulai pukul 9 pagi hingga sore hari. Jadi, oleh petugas setempat, kami disarankan untuk kembali besok paginya. Time to have dinner di…

Kaliurang
, pilihan tepat untuk makan enak tapi murah. Tenda-tenda yang berjajar di sepanjang jalan Kaliurang dengan beragam menu, cukup membuat bingung untuk memutuskan apa yang akan kita santap malam itu. Setelah lama berpikir (heran, mau makan aja pake mikir. Thinking is our hobby), kami memutuskan untuk makan ayam bakar pedas. Wooww… meski beberapa menu sudah ludes (padahal baru jam 9 malam), menu yang tersisa untuk kami cukup memuaskan. Selain enak dan super ekstra pedas, harganya pun sangat terjangkau.  Per porsi kurang dari Rp10,000. Sungguh pilihan tepat dibandingkan dengan tenda-tenda Malioboro yang harganya muahal.

Malioboro Yogyakarta (horse shit anywhere)


Malioboro
. Hari terakhir di Yogyakarta tak mungkin dilewatkan tanpa belanja belanji di Malioboro. Yuhuuuu…. It’s shopping time. Buat diri sendiri dan pastinya oleh-oleh. Mulai dari batik, kaos dagadu, pernak-pernik, asesoris, hingga yang tak boleh ketinggalan makanan khas Jogja yaitu bakpia. Jangan ragu untuk menyusuri setiap jengkal jalan Malioboro or you will be sorry. Lelah tak akan terasa, dijamin! Tapi, kondisikan juga dengan keadaan financial. That’s very important.

Puiiifhh… girls do girl’s thing, which is shopping. Nothing compare to that one. Hahaha… ransel sudah semakin menggembung bahkan tidak muat lagi. Kebalikannya, dompet semakin menipis. Bagaimana ini?? okay, time is up and time to move on… next destination… Semarang.

So, we learned thing or two things here in Jogja:

  1. Jika ingin berlibur ke Jogjakarta pada high season, you better book hotel jauh-jauh hari. Or you won’t get any hotel to stay
  2. Jika ingin wisata ke candi-candi seperti Borobudur dan Prambanan, sebaiknya menggunakan kendaraan sendiri untuk menghemat waktu.
  3. Jika ingin makan di Malioboro, you better ask first about the price. Kalo tidak, harganya akan diketok dan menjadi sangat mahal. Meski beberapa orang bilang itu worthy karena suasana Malioboro yang tiada duanya.
  4. Belanja di Malioboro, harus pinter pinter. Pinter nawar dengan sadisnya. Karena tanpa diduga, harganya bisa jauh lebih murah dari harga awal. Makanya, jangan jauh-jauh dari teman yang jago nawar. Apapun jika beli dengan kuantiti yang lebih banyak, harganya pasti lebih murah. Nah penawaran yang seperti ini nih yang bahaya. Menggugah kita untuk beli lebih banyak demi mendapat harga murah. Padahal setelah dipikir-pikir, untuk apa yah beli segini banyak?? Disinilah dituntut untuk berpikir dan bertindak lebih bijak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s