Indonesia VS Oman: Just Another Game, Another Lose

Rabu, 6 Januari 2009 menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh seluruh pecinta sepak bola tanah air. Bertempat di stadion utama Gelora Bung Karno, malam itu akan bertanding tim nasional Indonesia melawan Oman dalam babak kualifkasi Piala Asia 2011. Terlihat puluhan ribu penonton membanjiri GBK Senayan guna mendukung tim Garuda. Pemandangan sebagaimana layaknya timnas akan bertanding, rombongan supporter siap dengan semua atribut dan perlengkapannya, mulai dari spanduk dan bendera kebesaran, seragam timnas, stiker merah putih di wajah, topi merah putih, gendang dan kawan-kawannya guna menyerukan “Garuda di Dadaku”, hingga botol air mineral yang nantinya akan dilempar ke dalam lapangan. Calo tiket pun ga ketinggalan eksis di sekitar stadion.
Ini kali kedua saya menonton pertandingan sepak bola langsung dari stadion. Jangankan di stadion, nonton di TV saja rasanya tak tertarik sama sekali. Tapi belakangan, ini sudah menjadi tuntutan peran, alias bagian dari pekerjaan. Momen ini pun menjadi yang kedua kali bagi Nike mengajak media nonton bareng pertandingan bola. Yang pertama kali adalah pertandingan Indonesia vs Kuwait dengan hasil berimbang 1-1. Dua kali menonton pertandingan bola tingkat nasional sudah membuat saya sedikit tertarik dengan olah raga ini. Tapi ingat, tidak sama sekali untuk supporter bola mana pun yang ada di Inonesia. Jadi teringat kejadian di Surabaya saat kami berada dalam taksi dan rombongan Bonek seenak “udel’e dewe” hampir membantai taksi kami.
Kembali ke pertandingan malam itu, sayang sekali kami tidak mendapatkan tiket VIP seperti saat pertandingan sebelumnya. Kami dapat tiket category 1 yang masuk lewat gate II. Sebelum masuk pun sudah terlihat kekacauan-kekacauan kecil. Entah mengapa gate-nya ditutup. Otomatis penonton kecewa dan terpancing untuk teriak-teriak. Okay, here we go bahkan sebelum pertandingan dimulai. Beberapa kawan media memutuskan untuk ikut antri berdesakan. Saya? Tunggu diluar dulu aja deh, masih ada beberapa media yang belum datang🙂

Entah apakah semua kawan media berhasil masuk atau tidak. I have no idea saking penuh sesak meski di luar stadion. Ada perasaan tak enak karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk media, tapi mau bagaimana lagi.
Pertandingan malam itu memang terlihat penuh sesak oleh penonton. Terdengar kabar juga semua tiket habis terjual. Bahkan calo tiket pun kehabisan tiket. Melihat saya memegang banyak tiket, mereka menawarkan saya untuk menjualnya. Maunya sih, lumayan cukup untuk ongkos taksi pulang :p But I prefer giving away my ticket ke penonton yang terlihat kecewa karena kehabisan tiket. Rombongan anak muda meminta tiket saya. Mereka berniat nonton ber-delapan. Tapi saying hanya dapat 5 tiket. Okay, the angel inside of me whispered: “give it to them!” and I did it. This is what I like, melihat orang lain begitu senangnya.

Pertandingan di dalam mungkin sudah berlangsung 30 menit. Tapi saya masih betah menunggu di luar sampai pintu masuk sepi. Tapi kok, orang-orang yang antri ini tak ada habisnya. Saya putuskan untuk mengambil tempat dalam antrian. Ternyata tak terlalu lama, akhirnya saya bisa masuk. Begitu masuk, kaget karena saya terhenti sebelum sampai di tempat duduk yang semestinya. Oh no, there is no place for me. Tapi saya sudah sejauh ini, I have to move on. I called Andrew, journalist from Bola. Thanks God, he came and saved my life. Sudah tersedia satu seat untuk saya🙂
Jalannya pertandingan malam itu tidak seseru pertandingan Indonesia vs Kuwait dimana terjadi konflik ditengah pertandingan. Saat itulah, pengalaman pertama saya yang benar tak terlupakan. Berada diantara pendukung timnas yang emosi dengan pendukung Kuwait yang meski minoritas namun tak kalah galak. Saya berada di tengah-tengah dimana di atas kepala saya melayang-layang botol air mineral. Wohoooo… this is the real game. Sayang sekali, pertandingan Indonesia vs Oman berlangsung biasa saja. Bahkan, menurut beberapa kawan yang memang mengerti bola, tim Garuda bermain buruk sekali. Tak heran gawang kami kebobolan 2 kali. Seruan penyemangat dan nyanyian Garuda di Dadaku ternyata tak cukup ampuh untuk membuat timnas menang di kandang sendiri.

Kekalahan di kandang sendiri

Dari sudut pandang saya pribadi yang tidak mengerti apapun tentang sepak bola, performa timnas malam itu memang sangat buruk. Entah kelelahan, entah tak ada strategi atau mungkin Oman bukan lawan yang seimbang, tapi yang pasti kami kalah di kandang sendiri di depan puluhan ribu pendukung kami sendiri.

Kecewa sudah pasti, apalagi mereka yang penuh perjuangan datang ke Senayan, kehabisan tiket, harus beli tiket yang harganya jauh lebih mahal dari para calo, namun semangat kemenangan tak diraih. Kekecewaan seperti inilah yang dirasakan Hendri Mulyadi, salah seorang penonton asal Bekasi yang usai pertandingan mendadak menjadi pahlawan. Menit-menit terakhir injury time sudah tidak bisa lagi membendung rasa kesal sekaligus kecewa Hendri. Dengan susah payah memanjat pagar yang cukup tinggi, ia berhasil melaluinya dan berlari ke tengah lapangan untuk merebut bola. Ia berhasil merebut bola karena semua pemain hanya bisa terdiam melihat tingkah supporter ini. Lalu dengan penuh percaya diri ia menggiring  bola menuju gawang Oman. Gemuruh suara seisi stadion menyemangati Hendri. Tapi sayang Hendri tak berhasil membobol gawang Al Habsi Ali Abdullah Harib. Hendri dengan segera diamankan pihak kepolisian. Tapi entah kenapa, polisi bertindak lambat hingga Hendri mampu menggiring bola sejauh setengah lapangan hingga mencoba memasukkannya ke gawang. Jika saja pria 20 tahun itu berhasil mencetak gol, mungkin perjuangannya ke tengah lapangan dan menjadi pusat perhatian seluruh penonton di stadion maupun seluruh Indonesia cukup terbayar.

Doc: Detik.com

Perjuangan Hendri tidak sia-sia. Mendadak Hendri menjadi sorotan dimana-mana bahkan menjadi headline di beberapa artikel surat kabar dan media online. Bukan hanya sorotan, ia dijuluki sebagai pahlawan timnas. Hendri dianggap pahlawan yang berani mencurahkan kemarahan dan kekecewaan pecinta bola tanah air atas kegagalan PSSI membawa timnas menjadi ke laga internasional. Berbagai bentuk dukungan pun mengalir kepadanya. Di beberapa forum online, Hendri mendapat dukungan penuh. Begitu pun di jejaring social facebook. Muncul tidak hanya satu atau dua grup dan fan page yang menyerukan dukungan untuk Hendri Mulyadi. Tak tanggung-tangung, dukungan untuk seorang Hendri diantaranya mendukung Hendri untuk menjadi ketua PSSI bahkan menjadi pemain timnas atau striker timnas. Kekalahan, kekesalan, kekecewaan, kericuhan yang terjadi saat ini memang tidak sebanding dengan semangat pecinta bola tanah air yang sedang berusaha merebut tuan ruman Piala Dunia 2022. Seakan berbanding terbalik dengan kenyataan perih dan memalukan akan prestasi timnas yang meredup. Kemanakah PSSI akan membawa dunia persepakbolaan Indonesia? Apapun, Garuda tetap di Dadaku.

Berharap ada kekacauan di luar stadion paska kekalahan timnas, dengan tertib saya bergerak keluar. Demi keamanan, saya tak mau lepas dari Andrew dan Ary. Ternyata situasi aman dan terkendali. Tanpa harus “give them that look”, mereka dengan baik hati mau mengantar saya sampai saya mendapat taksi. Tak terlalu jauh dari pintu keluar, “burung biru” siap mengantar saya pulang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba sadar ada yang tak beres. Damn! The one and only, my blazer is gone! Okay, saya harus membayar kekalahan Indonesia atas Oman 2-1 dengan blazer favorit. What more can I say? Meski demikian, I would love to go for another game🙂

Indonesia VS Oman: Just Another Game, Another Lose

Rabu, 6 Januari 2009 menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh seluruh pecinta sepak bola tanah air. Bertempat di stadion utama Gelora Bung Karno, malam itu akan bertanding tim nasional Indonesia melawan Oman dalam babak kualifkasi Piala Asia 2011. Terlihat puluhan ribu penonton membanjiri GBK Senayan guna mendukung tim Garuda. Pemandangan sebagaimana layaknya timnas akan bertanding, rombongan supporter siap dengan semua atribut dan perlengkapannya, mulai dari spanduk dan bendera kebesaran, seragam timnas, stiker merah putih di wajah, topi merah putih, gendang dan kawan-kawannya guna menyerukan “Garuda di Dadaku”, hingga botol air mineral yang nantinya akan dilempar ke dalam lapangan. Calo tiket pun ga ketinggalan eksis di sekitar stadion.

Ini kali kedua saya menonton pertandingan sepak bola langsung dari stadion. Jangankan di stadion, nonton di TV saja rasanya tak tertarik sama sekali. Tapi belakangan, ini sudah menjadi tuntutan peran, alias bagian dari pekerjaan. Momen ini pun menjadi yang kedua kali bagi Nike mengajak media nonton bareng pertandingan bola. Yang pertama kali adalah pertandingan Indonesia vs Kuwait dengan hasil berimbang 1-1. Dua kali menonton pertandingan bola tingkat nasional sudah membuat saya sedikit tertarik dengan olah raga ini. Tapi ingat, tidak sama sekali untuk supporter bola mana pun yang ada di Inonesia. Jadi teringat kejadian di Surabaya saat kami berada dalam taksi dan rombongan Bonek seenak “udel’e dewe” hampir membantai taksi kami.

Kembali ke pertandingan malam itu, sayang sekali kami tidak mendapatkan tiket VIP seperti saat pertandingan sebelumnya. Kami dapat tiket category 1 yang masuk lewat gate II. Sebelum masuk pun sudah terlihat kekacauan-kekacauan kecil. Entah mengapa gate-nya ditutup. Otomatis penonton kecewa dan terpancing untuk teriak-teriak. Okay, here we go bahkan sebelum pertandingan dimulai. Beberapa kawan media memutuskan untuk ikut antri berdesakan. Saya? Tunggu diluar dulu aja deh, masih ada beberapa media yang belum datang J

Entah apakah semua kawan media berhasil masuk atau tidak. I have no idea saking penuh sesak meski di luar stadion. Ada perasaan tak enak karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk media, tapi mau bagaimana lagi.

Pertandingan malam itu memang terlihat penuh sesak oleh penonton. Terdengar kabar juga semua tiket habis terjual. Bahkan calo tiket pun kehabisan tiket. Melihat saya memegang banyak tiket, mereka menawarkan saya untuk menjualnya. Maunya sih, lumayan cukup untuk ongkos taksi pulang :p But I prefer giving away my ticket ke penonton yang terlihat kecewa karena kehabisan tiket. Rombongan anak muda meminta tiket saya. Mereka berniat nonton ber-delapan. Tapi saying hanya dapat 5 tiket. Okay, the angel inside of me whispered: “give it to them!” and I did it. This is what I like, melihat orang lain begitu senangnya.

Pertandingan di dalamnya mungkin sudah berlangsung 30 menit. Tapi saya masih betah menunggu di luar sampai pintu masuk sepi. Tapi kok, orang-orang yang antri ini tak ada habisnya. Saya putuskan untuk mengambil tempat dalam antrian. Ternyata tak terlalu lama, akhirnya saya bisa masuk. Begitu masuk, kaget karena saya terhenti sebelum sampai di tempat duduk yang semestinya. Oh no, there is no place for me. Tapi saya sudah sejauh ini, I have to move on. I called Andrew, journalist from Bola. Thanks God, he came and saved my life. Sudah tersedia satu seat untuk saya J

Jalannya pertandingan malam itu tidak seseru pertandingan Indonesia vs Kuwait dimana terjadi konflik ditengah pertandingan. Saat itulah, pengalaman pertama saya yang benar tak terlupakan. Berada diantara pendukung timnas yang emosi dengan pendukung Kuwait yang meski minoritas namun tak kalah galak. Saya berada di tengah-tengah dimana di atas kepala saya melayang-layang botol air mineral. Wohoooo… this is the real game. Sayang sekali, pertandingan Indonesia vs Oman berlangsung biasa saja. Bahkan, menurut beberapa kawan yang memang mengerti bola, tim Garuda bermain buruk sekali. Tak heran gawang kami kebobolan 2 kali. Seruan penyemangat dan nyanyian Garuda di Dadaku ternyata tak cukup ampuh untuk membuat timnas menang di kandang sendiri.

Dari sudut pandang saya pribadi yang tidak mengerti apapun tentang sepak bola, performa timnas malam itu memang sangat buruk. Entah kelelahan, entah tak ada strategi atau mungkin Oman bukan lawan yang seimbang, tapi yang pasti kami kalah di kandang sendiri di depan puluhan ribu pendukung kami sendiri.

Kecewa sudah pasti, apalagi mereka yang penuh perjuangan datang ke Senayan, kehabisan tiket, harus beli tiket yang harganya jauh lebih mahal dari para calo, namun semangat kemenangan tak diraih. Kekecewaan seperti inilah yang dirasakan Hendri Mulyadi, salah seorang penonton asal Bekasi yang usai pertandingan mendadak menjadi pahlawan. Menit-menit terakhir injury time sudah tidak bisa lagi membendung rasa kesal sekaligus kecewa Hendri. Dengan susah payah memanjat pagar yang cukup tinggi, ia berhasil melaluinya dan berlari ke tengah lapangan untuk merebut bola. Ia berhasil merebut bola karena semua pemain hanya bisa terdiam melihat tingkah supporter ini. Lalu dengan penuh percaya diri ia menggiring  bola menuju gawang Oman. Gemuruh suara seisi stadion menyemangati Hendri. Tapi sayang Hendri tak berhasil membobol gawang Al Habsi Ali Abdullah Harib. Hendri dengan segera diamankan pihak kepolisian. Tapi entah kenapa, polisi bertindak lambat hingga Hendri mampu menggiring bola sejauh setengah lapangan hingga mencoba memasukkannya ke gawang. Jikalau pria 20 tahun itu berhasil mencetak gol, mungkin perjuangannya ke tengah lapangan dan menjadi pusat perhatian seluruh penonton di stadion maupun seluruh Indonesia cukup terbayar. Namun perjuangan Hendri tidak sia-sia. Mendadak Hendri menjadi sorotan dimana-mana bahkan menjadi headline di beberapa artikel surat kabar dan media online. Bukan hanya sorotan, ia dijuluki sebagai pahlawan timnas. Hendri dianggap pahlawan yang berani mencurahkan kemarahan dan kekecewaan pecinta bola tanah air atas kegagalan PSSI membawa timnas menjadi ke laga internasional. Berbagai bentuk dukungan pun mengalir kepadanya. Di beberapa forum online, Hendri mendapat dukungan penuh. Begitu pun di jejaring social facebook. Muncul tidak hanya satu atau dua grup dan fan page yang menyerukan dukungan untuk Hendri Mulyadi. Tak tanggung-tangung, dukungan untuk seorang Hendri diantaranya mendukung Hendri untuk menjadi ketua PSSI bahkan menjadi pemain timnas atau striker timnas. Kekalahan, kekesalan, kekecewaan, kericuhan yang terjadi saat ini memang tidak sebanding dengan semangat pecinta bola tanah air yang sedang berusaha merebut tuan ruman Piala Dunia 2022. Seakan berbanding terbalik dengan kenyataan perih dan memalukan akan prestasi timnas yang meredup. Kemanakah PSSI akan membawa dunia persepakbolaan Indonesia? Apapun, Garuda tetap di Dadaku.

Berharap ada kekacauan di luar stadion paska kekalahan timnas, dengan tertib saya bergerak keluar. Demi keamanan, saya tak mau lepas dari Andrew dan Ary. Ternyata situasi aman dan terkendali. Tanpa harus “give them that look”, mereka dengan baik hati mau mengantar saya sampai saya mendapat taksi. Tak terlalu jauh dari pintu keluar, “burung biru” siap mengantar saya pulang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba sadar ada yang tak beres. Damn! The one and only, my blazer is gone! Okay, saya harus membayar kekalahan Indonesia atas Oman 2-1 dengan blazer favorit. What more can I say? Meski demikian, I would love to go for another game J

One thought on “Indonesia VS Oman: Just Another Game, Another Lose

  1. Kekalahan yang terus dialami timnas indonesia memang membuat siapapun yang melihatnya merasa kecewa. Apalagi ketika itu terjadi di hadapan public sendiri. Makanya wajar jika terjadi luapan emosi yang berlebihan dari para fans fanatic timnas.

    Hal ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi timnas Indonesia dan pihak-pihak yang terkait. Dimana dari masa ke masa kualitas timnas kita seolah semakin menurun dalam hal kualitas dan prestasi.
    Membuat Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s