Obrolan Terang Saat Listrik Padam

One night, me and friends had a great time together. Bukan karena tempat nongkrong yang ok. Bukan pula karena makanan dan minuman mahal yang menemani kami. Hujan deras di luar sana dan gelap yang hanya terbantu oleh sinar 2 batang lilin menciptakan ruang tamu sederhana menjadi sebuah tempat yang paling nyaman. Bersama 4 orang sahabat yang lama tak jumpa, kami menghabiskan waktu berjam-jam dalam keadaan dingin luar biasa. Jelaslah dinginnya menusuk tulang, karena sebelum sampai di rumah tersebut, kami basah kuyup kehujanan. Teh dan kopi panas dirasa cukup. Namun kebersamaanlah yang menghangatkan kami semua.

candle light

Obrolan ringan di awal. Seperti biasa, update tentang diri kami masing-masing dan teman-teman sekitar. Entah apa dan siapa yang memulai, obrolan beralih ke saya. Hmmm…here we go again. This is not for the first time mereka manghakimi saya tentang apa, siapa, dan bagaimana saya. Kekeliruan-kekeliruan dan prinsip-prinsip yang dirasa melenceng. Seperti tameng yang selalu saya bawa kemana-mana dan siap dikeluarkan kapan saja, dengan mudah saya menjawab dan menangkis penilaian-penilaian mereka. Terlintas rasa bangga karena meski 4 lawan 1, the singlefighter inilah yang tak terbantahkan.

Lelah membahas wanita yang keras kepala ini, obrolan beralih ke topik lain seputar kehidupan teman-teman seangkatan. Bahasan-bahasan klise tiap kali bertemu. Siapa jadian dengan siapa. Siapa putus dari siapa. Siapa akan menikah dengan siapa. Siapa naksir siapa. Siapa bersitegang dengan siapa. Nyaman sekali berdiskusi ringan dengan teman-teman seperti ini. Rasanya sudah lama saya tidak bersosialisasi dengan cara tradisional alias tatap muka. Terlalu sibuk update facebook, twitter, dan jejaring social lanilla. Lama berkutat dengan deadline, deadline, dan deadline. Bersyukur saya masih diberi kesempatan sesederhana ini di tempat yang sederhana, dengan orang-orang yang sederhana pula. Thank God I have you all…

Tak ingin rasanya mengakhiri kenyamanan seperti ini. Namun malam semakin larut dan hujan pun berhenti. Saatnya kami pulang.
Entah kenapa…obrolan-obrolan tadi mengusik. Kembali berulang dan berulang di dalam otak. Rasanya ada sesuatu. Dan betul… semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa saya membenarkan beberapa hal yang baru saja saya tampik. Beberapa hal mengenai diri saya. Damn… I hate when it happens to me. Baiklah, akan saya simpan dan pikirkan lebih dalam saran-saran kalian. Thanks for the great time we had 

Lilin, terima kasih telah menerangi kegelapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s