Musim skripsi… I’m Jealous

Belakangan ini, saya sering dimintai sedikit bantuan untuk mengisi kuesioner ataupun wawancara guna melengkapi sebuah skripsi. sebenarnya bukan melengkapi juga sih, justru awal mulanya ya dari sini, hingga para pejuang skripsi ini bisa melanjutkan bab-bab berikutnya. dibawah ini salah satu contoh wawancara yang saya jawab untuk mendukung skripsi salah seorang teman yang akan segera mendapatkan gelar Sarjana Sosial dari jurusan Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia. judul skripsi ini, saya pun tak tahu pasti. kalau tidak salah, mahasiswi ini mengangkat tema program pemberian beasiswa pendidikan di sebuah rumah singgah. ga jauh-jauh, rumah singgahnya yaaa Dilts Foundation :p

Relawan Dilts Foundation :
1. Kegiatan apa saja yang dilakukan di rumah singgah DF?
Ellie: sebagai yayasan yang sudah berdiri sejak tahun 2000, sudah banyak yang kami lakukan. Berhubung Dilts Foundation concern di dua bidang, yaitu pendidikan dan kesehatan, di bidang pendidikan, kami mendirikan sebuah rumah singgah yang dijadikan learning center bagi anak-anak binaan kami. Aktifitas di rumah singgah berlangsung 6 hari dalam seminggu, yaitu senin – sabtu. Terdiri dari kelas pagi untuk anak-anak usia dini (PAUD), kelas Paket A, B, dan C, dan kelas siang untuk anak-anak usia SD, SMP, dan SMA. Materi yang diberikan, untuk akademis hampir sama dengan mata pelajaran sekolah. Di rumah singgah kami hanya mengulang dan membantu mengerjakan PR. Untuk non akademis, kami memberikan kelas musik, teater, keterampilan dan kerajinan tangan, dan olah raga (seperti bela diri dan futsal) yang lebih sering dilakukan di luar waktu belajar. Kegiatan di rumah singgah tidak hanya kegiatan yang kami ciptakan sendiri. Seringkali kami mendapat kunjungan baik dari individual maupun organisasi/instansi (perusahaan, kelompok mahasiswa, kelompok pelajar, atau komunitas hobby) yang ingin berbagi dan bermain dengan kami dalam suatu event besar/kecil. Sedangkan bidang kesehatan, bahkan sebelum Dilts Foundation berbendera badan hukum, Ibu Wahyu dan Bapak Russ Dilts sudah melakukan kegiatan kemanusiaan. Mereka membantu pengobatan bagi orang-orang yang tidak mampu yang menderita suatu penyakit dan harus segera dioperasi. Tidak hanya bantuan dana, berhubung Dilts memiliki link ke dokter-dokter dan beberapa rumah sakit seperti RSCM, proses bantuan kesehatan menjadi lebih mudah. Selain itu, Dilts juga mempunyai program rutin bulanan di bidang kesehatan, yaitu pemeriksaan, pengobatan, dan perbaikan gizi balita bagi anak-anak di sekitar rumah singgah. Di bidang kemanusiaan, kami juga turut memberikan bantuan di daerah bencana, seperti tsunami Aceh, gempa Jogja, dan musibah Situ Gintung.
Merealisasikan “Give The Kids A Chance”, kami selalu menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dalam rangka memberikan kesempatan bagi anak-anak binaan kami pada khususnya dan anak-anak Indonesia pada umumnya. Dalam rangka memberikan kesempatan dalam bidang olahraga, kami telah berhasil menyelenggarakan “Kompetisi Mini Soccer Antar Rumah Singgah se Jabodetabek” pada tahun 2005 dan 2007. di bidang seni, kami telah 2 kali menyelenggarakan sandiwara musikan di GBB, TIM. “Ande Ande Lumutan” di tahun 2005 dan “Ronggeng Jalanan” di tahun 2007. kami juga memperingati hari-hari penting, seperti Hari Air Sedunia, Hari Lingkungan Hidup, dll. Beberapa kali kami mengadakan outbond keliling Jakarta bahkan sampai Subang dan Pelabuhan Ratu.
2. Apa saja fungsi dan peran yang relawan lakukan di Rumah Singgah DF?
Banyak yang bilang kami ini pengajar atau guru di rumah singgah. Saya tak terlalu setuju karena lebih tepatnya kami ini kakak-kakak pendamping bagi anak-anak rumah singgah.
Sebagai pendamping, kami mendampingi mereka belajar di rumah singgah, juga memberikan materi setiap harinya. Kami juga harus berperan sebagai role model bagi anak-anak. Oleh karena itu, kami harus memberikan contoh yang baik. Tidak hanya itu, saat anak-anak bermasalah, kami berperan sedikit lebih tegas dalam menyelesaikan masalah. Hal ini dalam rangka pembentukan sikap yang lebih baik agar anak-anak ini lebih bermoral.
3. Apakah ada pedoman yang digunakan untuk mengajar?
Untuk kegiatan belajar mengajar di rumah singgah, kami membuat jadwal pelajaran setiap harinya, juga jadwal relawan yang in charge hari itu. Jadi setiap relawan tahu tugas dan kewajibannya masing-masing. Karena kami hanya mengulang pelajaran di sekolah, kami menggunakan kurikulum yang sama seperti sekolah formal. Kami pun menggunakan buku dan bahan bacaan dari sekolah-sekolah formal yang tak lain sumbangan dari para donatur. Berbeda dengan kelas Paket, relawan yang in charge untuk kelas ini juga berdasarkan kurikulum kelas Paket. Begitu pun dengan kelas pagi (PAUD), kami biasanya ‘mencuri’ ilmu dari playgroup kebanyakan.
4. Perkembangan atau kemajuan apa saja yang dirasakan terjadi dalam diri anak sehubungan dengan pemberian bantuan pendidikan terhadap mereka ?
Satu yang pasti, bagi mereka yang mendapat beasiswa dari Dilts, mereka dapat merasakan sekolah hingga jenjang yang lebih tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan, mereka lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Semangat belajar pun jadi lebih tinggi karena kami mendampingi mereka belajar. Mereka lebih bersemangat untuk bertanya apa yang mereka mau. Dari segi psikologis, mereka menjadi jauh lebih percaya diri dengan banyaknya kesempatan yang datang.
5. Bagaimana pandangan mereka terhadap sukses /tidaknya program DF?
Pandangan gw nih???? Hehehe…
Saya pribadi mendukung program pendidikan di Dilts, termasuk pemberian beasiswa. Sangat membantu anak-anak yang kurang mampu, meski sekolah dasar dan menengah pertama sudah digratiskan oleh pemerintah. Namun masih ada beberapa sekolah yang mengharuskan pembayaran ini itu.
Sembilan tahun Dilts menjalankan program-programnya untuk mencapai visi dan misi, program beasiswa pendidikan salah satunya yang menjadi program utama. Kesuksesan itu terlihat dari jumlah anak binaan kami yang berhasil lulus setiap tahunnya. Data konkretnya, saya kurang tahu yang terupdate.
Saran saya, mungkin pemberian beasiswa harus lebih ditingkatkan lagi ke jenjang lebih tinggi yaitu universitas. Nah, pekerjaan rumah bagi para relawan untuk terus menjaring para calon donatur.

semoga sukses skripsinya. gelar sarjana sudah menunggu… uuu… i am so jealous😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s