Let’s MOVE ON!

PicsArt_1385022492463

Advertisements

38 Days in Jogja

Ketika ibukota dirasa begitu sombong dan angkuh, menjauh sejenak bukanlah ide yang buruk. Setidaknya bagi seorang pendatang seperti saya, yang sedang mengalami sirkus emosi dan krisis kepercayaan diri. (juga krisis kepercayaan pada orang lain).

Mencari keramahan yang semakin mahal harganya, saya mengumpulkan apapun yang tersisa untuk mendapatkan itu. Berbekal keberanian seadanya dan keraguan yang mengganggu, saya putuskan untuk berjalan sendiri dan menukarkan semua yang saya miliki dengan keramahan yang saya impikan.

Jogja, saya rasa memiliki apa yang saya butuhkan. Kota bukan kota, desa juga bukan desa. Ramah dan bersahaja. Dan “Istimewa” jika harus dalam satu kata.

BXGyBt5CAAEWTCw

Continue reading

Karena cerita #kaburcantik nggak akan seindah ini tanpa kalian

38 hari yang lalu saya menginjakkan kaki di Jogja tanpa kenal siapapun. I repeat, siapapun. Malam ini saat meninggalkan Jogja, beberapa orang ingin sekali saya pamiti. And that’s the best feeling! :”)

Terima kasih buat #mbaktika & kedua anaknya, Fia & Anan, yang sudah menjadi keluarga saya di Jogja. Antar jemput, eksplor sana sini, teman nginep, kirim-kirim makanan, teman ngobrol, dll. #mbaktika pun berucap “Kalo ada apa2, ke sini aja. Tinggalkan gundahmu di Jogja” :’)

Terima kasih @jogjapetualang buat semuanya. Jagongan meriah ngalor ngidul, wisata kuliner, berburu spot #nyusucantik, eksplor Merapi, trekking Gunung Api Purba, sampai wisata rohani di malam terakhir. Entah bagaimana cerita #kaburcantik tanpa jogjapetualang :’)

Terima kasih @Ardhisanasini buat ngobrol serunya, #nyusucantik lewat tengah malam, dan blusukan ke jalanan kota Jogja lengkap dengan cerita-cerita dibalik itu semua.

Terima kasih mas @aryagede & teman-teman dari @PagiBerbagi #Jogja atas kesempatannya berbagi cerita dan pengalamannya.

Terima kasih teman-teman dari Smile for Children @SFCjogja Mas Zaki @fanny_il Presiden Agit & semua tim atas kehangatan dan cerita-cerita serunya.

Terima kasih @RahadyanChandra buat ngobrol serunya di Raminten. Sayang yah nggak kesampean gowes bareng.

Terima kasih @sndsondy dan @DRMDerma atas keseruannya turun bareng di tengah kegelapan dan dibawah hujan Gunung Api Purba saat itu. Sayangnya kita kenal sedikit terlambat ya dan belum sempat jalan lagi. Senang jumpa kalian di atas sana 😉 Terima kasih juga @Esthefan7 dan rombongannya, teman berteduh saat secara tak terduga Gunung Api Purba memberikan hujannya.

Terima kasih @InfoTitik_0km sudah banyak berbagi foto-foto hasil jepretan ala kadarnya dari @travellie_ Terima kasih juga akun-akun publik Jogja lainnya yang sudi meneruskan informasi dan foto-foto travellie_ I am so honored :’) Dan saya akan sangat merasa kehilangan saat nanti tidak bisa lagi berbagi foto juga update event.

Terima kasih Mbak Inu & Mbak Melly dari Si Woles, tempat sewa #siCempe yang pada akhirnya justru jadi teman diskusi seru tiap kali bertemu 😉

Terima kasih untuk tim @BlakraxTrip yang sudah bersedia menampung saya di tengah jalan untuk trip telusur Goa Si Oyot dan caving Kali Si Oyo.

Terima kasih Mbak Grace dari Nitiprayan Homestay atas kemurahan hatinya saat saya harus extend seminggu lagi di sana.

Terima kasih Mbak Sekar untuk diskusi singkatnya tentang dunia 1 dimensi, 2 dimensi dan 3 dimensi. Terima kasih juga atas inspirasi dari buku kumpulan puisi cantikmu 🙂

Terima kasih untuk sahabat-sahabat dari ibukota yang juga menemani #kaburcantik saya :’) @sya_sya22 @dewi_n See u soon in Jakarta!

Dan terima kasih untuk Pak Syaiful atas siraman rohaninya. You don’t know how it means so much to me :’)

Hampir lupa! Teman-teman baru yang membuat satu hari saya di Jogja sangat memorable dan mengharu biru, teman-teman di SLB Giwangan. Saya sangat sangat sangat beruntung berkesempatan mengenal kalian dan berbagi setengah hari bersama kalian. Semoga umur saya panjang dan bisa bertemu kalian lagi lain waktu :’)

Last but not least. Terima kasih untuk semua random people yang saya temui di Jogja selama 38 hari. Kalian sungguh mewarnai hari-hari #kaburcantik :’)

Dan iya, Sang Pemilik Skenario Alam Semesta ini menuntun saya bertemu kalian untuk sebuah alasan.

Karena cerita #kaburcantik nggak akan seindah ini tanpa kalian :’)

– Perjalanan Pulang Ke Ibukota, Kereta Gajayana, 22 Oktober 2013 dini hari – 

Kembali ke Ibukota

I wouldn’t say “Saya pulang ke Jakarta” karena Jakarta bukanlah rumah saya. I would say “kembali ke ibukota”. Entah kenapa Jakarta terdengar terlalu sombong dan angkuh. Setidaknya bagi telinga saya saat ini.

Saya memilih kereta untuk mengantar saya kembali ke ibukota sekaligus mengakhiri #kaburcantik. Dan malam ini, stasiun Tugu Jogja menjadi saksinya :’)

BXGgbN1CAAAUon6

Dramatis, bak cerita FTV katanya *ngikik*. Namun lebih dramatis lagi saat saya dihadapkan pada beberapa pilihan seperti ini. Hidup itu memang penuh pilihan, kawan 🙂 Selamat memilih…

BXG8e9TCcAIlbBE

Dan kereta Gajayana pun bergerak menuju ibukota. Duduk manis di kursi no 13B, window seat dan sendiri!

– Stasiun Tugu, Jogjakarta, 21 Oktober 2013 – 

Last Shot in Jogja

#kaburcantik hari ke-38. Hari terakhir.

Selamat pagi dan selamat hari Senin dari Nitiprayan. Saya dengan pasti akan sangat merindukan pagi-pagi seperti ini :’)

BXERKZqCAAEy1YU

Masih ada waktu beberapa jam saja untuk menikmati Jogja sebelum kembali ke ibukota. Terus bisa apa dalam waktu beberapa jam? Jangan khwatir, berkat #mbaktika, saya masih bisa mampir ke spot-spot menarik, yang katanya pantang pulang sebelum ke tempat ini.

Sekar Kedhaton, restaurant dan boutique yang terletak di Jalan tegal Gendu No 28, Kota Gede. Ada di top list recommendation ala Trip Advisor lho. Arsitekturnya sangat menarik terlebih bagi wisatawan asing yang mencari keotentikan Jogja jaman tempo dulu. Tapi untuk wisatawan lokal dengan budget pas-pasan, Sekar Kedhaton dirasa agak memberatkan kalau hanya untuk berburu Javanese cuisine.  Continue reading

Siraman Rohani Menutup #kaburcantik

Layaknya bunga yang harus disiram secara rutin, rohani kita pun butuh asupan dan siraman. Ini yang sudah lama tidak saya dapatkan. Dan bersyukur sekali di hari terakhir kabur cantik, saya justru diperkenalkan dengan seorang bapak yang dengan ikhlas mau menghabiskan waktu hampir 3 jam hanya untuk mengobrol dengan saya. Ngobrol bukan sembarang ngobrol tapi juga berdiskusi tentang hal-hal menarik lainnya.

Tentang saya. Keluarga saya. Lingkungan saya. Agama saya. Dan Tuhan saya.

Semakin meyakinkan saya, bahwasannya keinginan menjadi saksi #RoyalWedding Keraton bukanlah klimaks yang saya butuhkan saat ini. Kesempatan bertemu dengan Bapak inilah justru yang menjadi puncak sekaligus menutup #kaburcantik :’)

I can’t say thank you enough. Semoga sekembali ke ibukota, saya bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Amin.

– Bantul, Jogjakarta, 20 Oktober 2013 –

 

“Speechless & kepingin nangis karena #kaburcantik malam ini ditutup dengan sesuatu yang menenangkan hati dan pikiran. Klimaks. :’)” , kicauan sebuah account twitter malam ini.

Oleh Oleh Babak Belur dari #kaburcantik

Bisa dibilang peristiwa hari ini adalah kenang-kenangan manis, cenderung sakit, nyeri, perih dan linu dari #kaburcantik.

Selama 27 tahun hidup dan beberapa tahun belakangan ini yang banyak menghabiskan waktu di jalan, baru kali ini saya mengalami kecelakaan lalu lintas. Di Jogja. Saat #kaburcantik. Hari terakhir.

Terseret ke tengah perempatan lampu merah karena diseruduk motor dari belakang hingga terjatuh duduk dan tak bisa bergerak untuk beberapa saat. Selain sakit, pastinya shock. Baru kali ini jadi perhatian orang banyak sampai ditolongin orang untuk minggir.

Yang menarik bukan hanya pengalaman pertama saya terkapar di tengah jalan raya, tapi juga pengalaman bagaimana dealing dengan kasus seperti ini, di Jogja. Di ibukota sudah bisa dipastikan akan ada adu argumen. Malah seringkali yang salah akan marah terlebih dahulu sebelum si korban. Namun di kasus saya ini, tidak ada namanya adu argumen apalagi saling menyalahkan. Kami hanya duduk berdampingan dan terdiam di pinggir lampu merah nan terik sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Yang kemudian pada akhirnya awkward moment itu diakhiri dengan salaman dan kata maaf dari mas-mas pengendara vixion.

And I was just wondering,  is that all? Kemudian terdengar samar-samar, “Ini Jogja lie”.

Dan niatan gowes malam di malam terakhir #kaburcantik pun pupus sudah.

– Lampu Merah, Jogjakarta, 20 Oktober 2013