Category Archives: Indonesia

Menengok #Merapi Sejenak – Day 1

Jumat, 12 November 2010

Just right in time tiba di Stasiun Gambir. Sigh, telat sedikit lagi bisa ketinggalan kereta tuh. Macica Jakarta!

Saya dan Ibu Wahyu Dilts, Jumat pagi itu menuju Klaten Jogja bersama kereta api Dwipangga. Judulnya sih relawan, tapi tetep manja pake kereta eksekutip :D

Perjalanan 9 jam Jakarta – Jogja sungguh membuang-buang waktu. Itu menurut saya. We had no choice.

Sebelum tiba di stasiun Klaten, saat melewati stasiun Tugu Yogyakarta, disini saya sudah bisa merasakan hawa bencana. Yah, saya memandangi tumpukan dus-dus dan karung-karung yang tidak lain adalah sumbangan dan bantuan untuk korban Merapi. Terlihat meski dari balik jendela kereta, tumpukan bantuan itu memadati jalur-jalur yang biasanya dipenuhi oleh calon penumpang kereta. Tak terlihat manusia di jalur-jalur itu, melainkan gunungan bantuan. Siapa yang bertanggung jawab akan tumpukan ini?

Pukul 5 sore waktu setempat (kayak ada perbedaan waktu aja :p), kami tiba di stasiun Klaten langsung menuju GOR Gelarsena Klaten. Disitulah salah satu dari 2 posko Dilts yang masih aktif. Seharusnya ada 1 posko lagi di Dangean. Tapi posko kami disana sudah dievakuasi dan hancur tersapu hujan abu vulkanik. Satu posko lainnya ada di GOR UNY Yogya. Posko ini lebih ke posko kesehatan. Sedangkan posko di GOR Gelarsena lebih ke children center untuk bermain dan belajar.

Dilts Center

Kesan pertama celingak celinguk GOR Gelarsena Klaten, manuso pating keleleran. Banyak betul pengungsi disini. Tapi eh ternyata baru tahu bahwa pengungsi yang saya lihat itu belum seberapa dibandingkan hari-hari pertama pengungsian. Banyak pengungsi yang sembunyi-sembunyi sudah kembali ke kampungnya. Tapi overview saya, disini memang sudah serba kecukupan. Mulai dari makanan, baju, air, posko kesehatan pemerintah daerah setempat dan posko-posko mandiri dari perusahaan juga lembaga-lembaga lain. Termasuk Posko Dilts Foundation Peduli Merapi yang khusus sebagai tempat bermain dan belajar anak-anak pengungsi.

Ya, disini, di posko ini saya berusaha untuk berbagi ceria bersama anak-anak pengungsi. Pertama bertatap muka dengan anak-anak ini, saya sedikit khawatir karena kendala keterbatasan saya berbahasa Jawa. Untungngya, bahasa Jawa mereka kasar dan sedikit banyak saya mengerti apa yang mereka katakana, asalkan ojo cepet cepet yo dik! Dan saya pasif berbahasa Jawa. Tapi bukan ellie namanya kalo pantang menyerah. Sekuat tenaga dan pikiran, saya mencoba aktif berbahasa Jawa. Entah bisa dimengerti atau tidak :D

Meet the Javanese Kids

Kekhawatiran lainnya, anak-anak ini bukanlah anak-anak yang biasa saya hadapi di Dilts Foundation. Meskipun rupa mereka hampir sama, jelas karakter dan tabiat mereka berbeda. Anak-anak Merapi sedikit kasar dan angel dikandani (baca: susah dibilangin). Tapi jelas terlihat mereka anak-anak yang baik. Hanya saja mereka mungkin tidak terbiasa.

Sedikit berusaha keras, then I can get into them. Meski saya harus ikhlas dipanggil Mbak Cina, it’s ok lah. Ya, mereka memanggil saya Mbak Cina. Saya juga bingung, kenapa bisa begitu? (pertanyaan retoris :D ) Tapi seketika Mbak Cina terkenal lho :p Another thing, ketika saya menjawab nama saya adalah ellie, spontan mereka tertawa. Bagi yang tahu apa arti ellie (Eli) dalam bahasa Jawa, you know lah. Bagi yang belum tahu, eli dalam bahasa Jawa itu artinya “jelek” L Arghhh padahal kan nama Ellie cukup keren diluar sana :D Hahahaha, yasudahlah. You kids can call me Mbak Cina :)   yang cantik.

Klenteng klenteng klenteng…..

Waktunya makan malam! Yang saya dengar, mereka setiap hari makan mie. Selain ada posko bantuan dari salah satu perusahaan mie, sebut saja SEDAP, yang menyediakan mie masak, juga ada beberapa pihak yang membagikan mie cup siap seduh. Otomatis dalam sehari saya lihat anak-anak dan pengungsi lainnya bisa makan mie 2 – 3 kali. Mekar deh tuh perut.

Meski sudah malam, anak-anak pengungsi tertarik dengan mainan baru yang saya bawa, titipan dari Kepala Sekolah Dilts di Jakarta. Beads or monte-monte untuk dibuat menjadi kalung atau gelang. Mereka terlihat begitu bersemangat. Dan yah, tanpa harus diajari, mereka tahu bagaimana menyusun warna-warna itu supaya jadi menarik.

proses pembuatan kalung dan gelang

Malam sudah larut Bapak Andi, saatnya mereka tidur. Perlu dibunyikan klenteng-klentengmu?

Penasaran dengan lingkungan GOR dan sekitarnya, sedikit saya melongok ke pelataran gedung GOR. Ternyata pelataran GOR dipenuhi oleh pengungsi yang lebih memilih tidur di pelataran daripada di dalam Gedung GOR yang katanya sumpek, saking banyaknya manusia di dalam sana. :’( Bahkan beberapa anak memilih untuk tidur di posko kami. Dengan tidak mengurangi rasa prihatin saya atas saudara-saudara pengungsi, mohon maaf karena saya mendapat tempat tidur yang nyaman, yaitu di rumah Tante Endang, adik kandung Ibu Wahyu yang kebetulan rumahnya dekat dengan GOR sehingga kami jadikan markas.

Saat anak-anak sudah kembali ke GOR, kami kehadiran bintang tamu. Please welcome Mbah Plompong.

The One and Only Mas Plompong

Beliau ini musisi. Seniman sejati. Dari penampilannya yang sungguh nyentrik saja, kita bisa menilai bahwa beliau seniman. Itu baru penampilannya. Coba lihat alat musik yang dibawanya. Berbentuk kotak terbuat dari kayu dengan batang-batang bambu yang dimainkan dengan cara dipetik. Suara musik yang keluar tipikal musik pengamen nan sederhana namun yang kali ini baru saya dengar. Saat saya bertanya alat musik apa itu, beliau menjawab, “karepmu waelah. Mau dibilang apa” -_-! Padahal saya tanya serius. Jangan dulu menilai apapun tentang seniman ini sebelum mendengar suara dan lagu-lagunya. Lagu-lagu dengan lirik bahasa Jawa yang sungguh sederhana dan terkesan nyeleneh. Bertemakan isu sehari-hari, lagu-laguya mampu menghipnotis semua yang mendengarnya. Bagi saya yang pertama kali mendengar beliau beraksi, sungguh saya terpana. Yang lain mendengarkan diiringi tawa karena memang lagu-lagunya mengundang tawa. Kekurangannya, bagi kita yang ndak mengerti bahasa Jawa yah cuma bisa plengak plengok. Untung saya sedikit-sedikit ngerti. Dari sekian lagu yang dibawakan, ada satu lagu yang khusus dinyanyikan untuk saya. apa coba judul lagunya? “Ling Ling Seng”. Terima kasiiiiih :D Satu hal yang menjadi ciri khasnya, yaitu teriakan “Honda” di tengah-tengah lagunya. Hmmmm untuk yang satu itu, saya coba cari tahu yaaa. Memang motornya sih Honda, tapi dia tidak disponsori oleh Honda kok :p

Cheers!

Menengok #Merapi Sejenak – Day 2

Sabtu, 13 November 2010

Entah mengapa, saya yang sangat hobi tidur dan punya masalah dengan bangun pagi, justru pagi ini bangun lebih awal dari teman-teman relawan lain. Semalaman, saya tidur cukup nyaman. Hanya saja beberapa kali terbangun karena saya merasa waktu tidur malam itu kok lama sekali. Tumben kan?:D Ternyata waktu tidur saya masih bisa di customized sesuai dengan sikon. Good for me and others :D

Jam 6 pagi di Klaten, sungguh cerah cenderung tampak seperti jam 9an di Jakarta. Kota ini terlalu bersemangat meyambut hari. Saya harus ikuti itu!

Berjalan kaki menuju GOR Gelarsena dihiasi pemandangan pagi anak-anak SMK yang berangkat sekolah mengendarai sepeda dan motor. Sesampainya di Posko Dilts, ehbuset jam segini anak-anak udah nangkring di posko kami dan mulai berantak sana berantak sini.

“Semangat Pagiiiiiiiii….”

Langsung mereka melanjutkan membuat kalung dan gelang dari monte-monte kayu. Satu anak sudah berhasil membuat lebih dari 3 gelang. Tiba-tiba muncul ide dari mereka sendiri untuk menjual hasil karya mereka. “Duit’e kanggo jajan mbak’e. oleh yo?” Hmmm… khawatir diawal karena takutnya ada pikiran dari orang-orang bahwa kita memanfaatkan mereka atau bahkan mengajarkan hal yang tidak benar. Pikir punya pikir, kenapa tidak? Toh anak-anak ini membuat karyanya sendiri, dan kalau memang ada orang lain yang mau menghargai hasil karya mereka, kenapa tidak? Toh uangnya bisa mereka gunakan untuk jajan, mengingat mereka sudah lama tidak bisa jajan.

Baiklah, approval sudah keluar bagi mereka untuk menjual hasil karyanya. Tapi dengan catatan. Pertama, jual hanya kepada relawan-relawan, jangan sesama pengungsi. Kedua, jangan bawa-bawa peduli merapi karena uang ini semuanya hanya untuk jajan anak-anak yang sudah bersusah payah berkreasi. Mereka begitu bersemangat. Tidak mudah memang, namun mereka berhasil menjualnya. Good job!

Merasa ada waktu kosong di pagi hari, saya sempatkan berjalan-jalan mengelilingi GOR. Banyak hal yang saya lihat. Pemandangan pagi itu, pengungsi mengantri untuk mendapatkan sarapan pagi.

 

Klenteng klenteng! sarapan!

ibu-ibu mencuci baju di dua spot yang dijadikan tempat mencuci dengan keran air berjejer.

oops! unsencored!

ibu-ibu menjemur pakaian di manapun mereka bisa meletakkan pakaian mereka dibawah sinar matahari. Dan lapangan tennis pun dipenuhi dengan jemuran.

 

Alih fungsi lap tenis

Tumpukan pakaian sumbangan layak pakai yang menggunung dimana satu dua masih pengungsi berusaha menggali tumpukan itu berharap mendapatkan pakaian sesuai selera mereka.

 

menumpuk...

Tim dapur umum PMI yang bekerja menyiapkan makanan bagi pengungsi. Jompo-jompo yang terlihat lelah sekali dan minta dipijat oleh anak atau cucunya. Dua spot MCK darurat berjejer. Oh, bau pesingnya tercium dari jarak 5 meter.

Salah satu spot MCK darurat

Dan banyak pemandangan lainnya yang menyita perhatian. GOR Gelarsena termasuk posko pengungsian yang cukup, apa kabar posko lainnya yang belum tersentuh bantuan? Ini gambar bagian dalam GOR Gelarsena setelah sebagian kembali ke kampungnya masing-masing secara diam-diam.

pengungsi dalam satu atap

Di siang hari, saya mencoba mendapatkan gambar Gunung Merapi dari atap gedung GOR. Dengan susah payah melompati jendela GOR, akhirnya saya bisa menjangkau atap. Dan yup, dari atas sini Gunung Merapi tampak jelas dengan kepulan asapnya. Sungguh cantik namun bahaya.

Dangerously beautiful

Sore hari, anak-anak pengungsi diajak bermain di lapangan tennis oleh kakak-kakak dari salah satu universitas. Maaf saya lupa tanya. Saya mengamati dan memotret mereka. Ternyata sedikit kesulitan yang saya awali di awal perjumpaan dengan anak-anak ini bukanlah salah saya yang kurang bersahabat dengan anak-anak. Kakak-kakak ini pun mengalami hal yang sama kok. Bahkan mungkin lebih parah. Terlihat mereka sungguh kelimpungan karena anak-anak ini susah diatur dan cenderung melawan. Oke, dari sini saya belajar bagaimana cara menggaet anak-anak.

Malam hari, ada kelas digital buat Jono, Jiono, Slamet, dan Anwar. Memanfaatkan Ipad milik Ibu Wahyu dan juga netbook HP milik Kak Bima, terlihat mereka sungguh tertarik dengan hal-hal baru seputar dunia digital ini. Saya mengerti akan hal itu karena mereka masih termasuk net geners. Rasa keingintahuan mereka sungguh sangat besar, namun kesempatan dan fasilitas bagi mereka sungguh sangat kecil. Melalui Ipad dan netbook ini, mereka menulis pesan di facebook Dilts Foundation. Let the whole world knows that they’re exist, anak-anak lereng Merapi. Mereka juga mengirim senyum dan salam kenal untuk teman-teman di Dilts Foundation Jakarta. Ini yang saya sebut Sahabat Pena turns into Sahabat Digital :p

Anak Merapi Go Digital

Saya capture foto anak-anak ini dengan Ipad-nya dan saya share di Twitter dan di RT oleh @jalinmerapi. Dari situ cukup banyak comment dan feedback dari tweeps yang saya sendiri tidak kenal. Senangnya memperkenalkan anak-anak ini ke masyarakat Twitterland :)

Whaday!

Menengok #Merapi Sejenak – Day 3

Minggu, 14 November 2010

“Semangat pagiiiii… sampun nyarap? kita menggambar yuuuuk!” Dengan semangatnya masing-masing, mereka mengambil meja dan alat pewarna. Surprisingly, tanpa saya membuat tema yang harus digambar, mereka menggambar Gunung Merapi lengkap dengan letusannya. Tampak mereka tidak takut sama sekali bahkan yakin dalam setiap goresan pensilnya. Beberapa cerita dan pengalaman mereka dievakuasii bahkan dikejar-kejar awan panas terangkum dalam benak saya. Sungguh hebat, mereka masih mencintai Gunung Merapi sebesar itu tanpa merasa takut untuk kembali kesana. Anak-anak ini tipikal anak kampung yang tangguh dan berani.

Aku tidak takut Merapi

It’s time for make up class… Eits, don’t get me wrong! Saya bukan mengajarkan mereka tentang make up lho. Lha wong saya sendiri ndak bisa make up kok :p Mari lucu-lucuan menggambar wajah mereka. I love it! Saya dan Ibu Wahyu melukis wajah mereka dengan berbagai karakter. Diawal saya sedikit kehabisan ide. Justru anak-anak ini yang memberi saya ide untuk menambahkan ini itu di wajah mereka. Aaah mereka sungguh menyenangkan *peluuuk*

Siang hari, kami kedatangan 2 orang relawan, mahasiswa UGM yang mau berbagi keceriaan dengan anak-anak pengungsi disini. Saya mengenal mereka dari akun twitter @jalinmerapi yang kemarin RT penawaran hiburan nonton bareng dari dua relawan ini. Mereka menawarkan hiburan bagi pengungsi yang ingin nonton bareng. Mereka menyediakan layar, proyektor, dan filmnya. Aha! Kebetulan kah? Dari hari kamis sebelum saya berangkat ke Jogja, saya woro-woro tanya sana tanya sini siapa yang bersedia meminjamkan kami proyektor untuk nonton bareng. Thanks to technology! Saya bisa japri ke salah satu relawan keliling ini dan mereka akan survey tempat sebelum acara nobar dilakukan. This is what I called Connection. Connected. To be connected. *peluk-peluk bb and thanks to twitter*. Mereka setuju untuk mengadakan nobar di posko kami Senin malam dengan film “Garuda di Dadaku”. Ohya, pada kesempatan ini, tak lupa saya menyerahkan beberapa keeping dvd dari @kantongdvd. Karena mereka relawan keliling, pastinya keeping-keping dvd yang dititipkan @kantongdvd kepada saya akan lebih berguna. Ah senangnya bisa jadi jembatan pendistribusian seperti ini. Janga lupa difoto untuk dishare ke @kantongdvd.

Ohya, siang ini juga ada hiburan tari tradisional dari salah satu SMP daerah Klaten. Terlihat mereka berkeliling dari satu posko ke posko lain untuk menghibur para pengungsi.

Menjelang sore saya ke stasiun Klaten bermaksud membeli tiket pulang Jakarta. Teryata yang saya dapat tiket Dwipangga untuk Senin malam. Hmmmm baiklah, saya harus extend disini. Ohya, OOT dari bencana ini, di Klaten saya menemukan tempat makan enak KFC (Klaten Fried Chicken) Ibu Sum. Ayamnya di goreng tepung seperti kebanyakan fried chicken, namun penyajiannya yang berbeda. Selain ayam gorengnya bisa disambel penyet, menu ini disajikan dengan pecel dan juga mie goreng. Rasanya? Sooo yummy…

Malam ini akan menjadi malam minggu paling romantis yang pernah saya lalui :D *lebay mode on* Malam mingguan di posko pengungsian bencana bersama anak-anak hebat. Malam mingguan bersama Javanese people. Malam mingguan bersama Javanese kids. I just can’t ask for more. Bernyanyi ala kadarnya menggunakan alat musik unik milik Mas Plompong. Main tebak-tebakan. Hingga nge-games tebak gambar. Di pojokan lain, anak-anak remaja mulai tertarik membuat kalung dan gelang dari monte kayu. Kembali kami dihibur Mas Plompong dengan lagu-lagunya yang kocak dan membumi. Coba, kurang romantis apa lagi??

What a Saturday night!

Menengok #Merapi Sejenak – Day 4

Senin, 15 November 2010

“Semangat pagiiii…. Sampun nyarap?”│”Wes mbak” │”Nyarap opo?” │”karo mie mbak’e”

-_-! Tiada hari tanpa mie…

Satu kantong besar mainan titipan ibu bos baru datang. Langsung diserbu anak-anak. Mereka terlihat senang dengan mainan baru. Beberapa ada yang diminta untuk dibawa pulang. Jangan lupa difoto dan dilaporkan via twitter perihal kebahagiaan yang dikirimkan jauh-jauh dari Jakarta ini.

Yuni namanya...

Jam 7 kurang anak-anak sudah banyak yang singgah di posko Dilts. Hmmm baiklah, kita mulai saja deh kelasnya. Mungkin ini bisa jadi kelas terpagi saya :D Mari mewarnai tokoh-tokoh jagoan. Jangan hanya mewarnai yaaa, coba dicarikan nama yang keren buat tokoh-tokoh tersebut. Yang sudah selesai, dapat susu. Bolehlah buat menetralisir mie :D

Menjelang siang, ada siraman rohani dari Ustadz Harry Murti. Sounds familiar, huh? Yaiayalah, beliau kan dulunya arteees. Hmmm penyanyi rock yah kalo saya ndak salah. Angkatan lama sih, jadi saya ndak terlalu kenal :D Tausiah dari beliau menuai kritik dari 2 Ustadz lebih menyampaikan ajaran agama yang tidak boleh seperti ini, tidak boleh seperti itu. Menurut beberapa orang yang kurang setuju akan isi tausiah ini, disaat-saat memprihatinkan dan disaat-saat terpuruk seperti ini, yang pengungsi butuhkan bukanlah larangan-larangan tidak boleh ini itu, tidak boleh begini tidak boleh begitu, melainkan lebih kepada motivasi untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Bagaimana caranya bertahan dan bertawakal. Bagaimana kita harus tetap bersyukur. Bagaimana caranya ikhlas melalui semua cobaan ini. Saya 100% setuju! Tapi niat baik Ustadz Harry patut diteladani. Semoga Allah meridhai. Amin.

Siang hari, saya dan Ka Bima coba berkeliling kota Klaten untuk mendapatkan 2 ekor sapi sebagai hewan kurban. Di tengah perjalanan, kami lihat spot persawahan dengan view si cantik Merapi. Let’s take a picture of it! Sayangnya, foto si cantik di dapat, tapi si sapi yang mau dikurbankan tak didapat.

Merapi Siang Itu...

Siang hari di Posko, kembali pengungsi dihibur oleh musik dangdut. Lagi dan lagi. Bosen ga yah mereka? Kok saya sendiri mulai bosen. Tunggu dulu, sumbangan hiburan itu kan dimaksudkan untuk menghibur para pengungsi agar tidak bosan di posko pengungsian. Kenapa saya bosan? Oh, mungkin kalau yang datang menghibur itu GIGI band, saya akan berada di barisan paling depan :D Tapi, pengungsi terlihat terhibur kok. Good job!

Menjelang sore, Ibu Wahyu mengajak saya berkeliling untuk cari tempat yang tepat untuk kami salurkan kurban 1 ekor sapi. Kami menuju Pusdiklat Klaten. Jelas terlihat barak pengungsian disini jauh lebih rapi. Well organized by TNI AD. Jelas! Pengungsi ditempatkan dengan layak dalam ruangan-ruangan yang berjejer. Dapur umum langsung ditangani oleh bapak-bapak berbadan kekar dari TNI AD. Eits jangan sembarangan meremehkan pekerjaan di dapur umum seperti ini yah. Bayangkan saja, si Bapak TNI bilang, untuk sekali makan, mereka menghabiskan 12 ton beras. Itu untuk sekali makan. Untuk sehari makan? Kalikan saja 3. Ckckckck… Saat nasi, sayur, dan lauk-pauknya matang, ibu-ibu pengungsi dan ibu-ibu istri TNI diberdayakan untuk membagi makanan tersebut dalam porsi nasi bungkus. Dalam tenda di pojokan, terlihat stok sayur mayor yang banyak. Ibu-ibu pengungsi kembali diberdayakan membantu relawan untuk mempersiapkan menu selanjutnya. Baguslah, pengungsi disini diasupi sayur mayur, bukan mie instant.

Sore hari, Ibu Wahyu mengajak saya naik ke atas ke arah Deles. Beliau bilang, dari kemarin beliau ingin sekali mendekati Merapi but no one brave enough to get there. Saya? Let’s go, Mam! :D

Dengan mengendarai Xenia berisi barang-barang bantuan, kami berdua menuju Manisrenggo dan Deles. Sempat bingung arah diawal perjalanan. Okay, saya mulai khawatir ini. Takutnya, nyasar dan tiba-tiba sudah di lereng Merapi di titik yang berbahaya. Tenang, hal itu tidak terjadi. Dengan pemandangan rumah-rumah berlapis abu vulkanik, kami sudah sampai di Deles. Sayangnya, belum terlalu dekat dengan Merapi, jalan sudah ditutup. Dan lebih sayangnya lagi, sore itu Merapi tertutup awan. Foto pun tak maksimal.

Cantiknya Merapi tak terlihat

Menginjak jalanan penuh abu dan melihat hutan bambu yang rusak, sungguh membuat saya merinding. Apalagi kalau saya sampai di kampung-kampung yang mati akibat awan panas yah? L Dan kami berbalik arah pulang, meski tidak puas karena Merapi tertutup awan. Ingin berbelok ke arah Muntilan karena Ibu Wahyu ingin menunjukkan kepada saya betapa memprihatinkan disana, namun gagal. Ingat, kereta saya ke Jakarta tinggal beberapa jam lagi. Sedih ndak sempat nengok Muntilan :(

Baiklah, time to go home meski saya ingin tinggal disini lebih lama lagi. Setidaknya sampai Idul Adha. Tapi, beginilah nasib buruh. Unfree! Tidak sempat berpamitan dengan Parjono, Jiono, Slamet, Dzamar, Anwar, Eko 1, Eko 2, dkk, sedihnya meninggalkan posko.

GOR Gelarsena Klaten… this is what I called home for Merapi victims. This is what I called a BIG family of Merapi victims. Bersama-sama mereka tinggal diatap yang sama dalam waktu lebih dari 2 minggu. Bersama-sama mereka mencuci baju. Bersama-sama mereka mengantri makan. Bersama-sama mereka berbagi cerita. What a life! Tuhan pasti punya rencana akan hal ini. Bertahanlah saudara-saudara dan adik-adikku. Ini semua akan berakhir dan berubah menjadi lebih indah. #PrayForIndonesia

Untuk anak-anak penghuni posko Dilts, see you in Jakarta! (doakan kami bisa memboyong kalian semua untuk liburan di Jakarta). Salam dari Mbak Cina ini :D

Indonesia Dalam 3 Hari

Selamat pagi manusia digital Indonesia. Saya sampaikan Indonesia 3 hari…

Indonesia belakangan sedang jadi sorotan publik, entah itu bagi penduduknya sendiri atau bahkan dunia internasional. Yes, we are. Sayangnya (lagi-lagi) untuk hal negatif.

 
Senin, 25 Oktober 2010

Foke dan antek-anteknya

Senin,25 Oktober 2010 Jakarta dalam keadaan siaga. Yah, jalanan Jakarta yang sangat tidak karuan. Banjir, eh maksud saya genangan dan kemacetan super duper parah. Chaos! Disinyalir (yang masih disebut) genangan air tersebut adalah yang terparah sepanjang 3 tahun terakhir. Jangan kaget, macet sehari-hari saja sudah mengundang caci maki hina dina warga Jakarta untuk Foke. Apalagi dalam keadaan parah seperti ini. Wah, semua orang menyumpah serapah Foke. Padahal menurut saya yah, kalau saja sumpah serapah itu diganti dengan doa positif, kemungkinan akan dijabah oleh Allah karena saking banyaknya dan disaat yang bersamaan, juga doa dari orang-orang yang sedang menderita. Yasudahlah, bagi banyak orang Jakarta, marah-marah itu baik untuk kesehatan bahkan sudah jadi hobi. artikel lengkapnya bisa dibaca disini.

 

Selasa,26 Oktober 2010

#PrayForIndonesia

Ya,bencana yang bertubi-tubi menghampiri bangsa ini sungguh membuat hati ini miris. Wasior yang belum selesai tertolong,terpaksa harus sedikit terpinggirkan karena bencana lain yang tidak kalah dahsyatnya. Tidak tanggung-tanggung, 2 bencana alam sekaligus dalam 1 hari. Gempa 7.2 SR beserta tsunami di Mentawai dan disusul oleh meletusnya Gunung Merapi secara explosif. Sudah pasti banyak memakan korban jiwa. Ratusan korban tsunami pun sampai hari ini masih dinyatakan hilang.
Muncullah hashtag #PrayForIndonesia yang sempat menjadi Trending Topic. Bahkan tidak mau kalah dengan berita bencananya itu sendiri, seleb dunia sekelas Justin Bieber,Johny Depp, dkk pun jadi bahan berita karena kepeduliannya pada Indonesia (hanya dengan tweet #PrayForIndonesia). Selain itu muncul avatar #PrayForIndonesia yang seketika membuat latah digital people untuk menggunakan avatar tersebut di semua akun jejaring sosialnya termasuk profil pic bb. I did it too. Ada yang mengeluhkan bahwa dengan mengganti avatar, itu tidak menolong sama sekali, please do something real. Bagi saya pribadi, bentuk bantuan dan dukungan bisa berupa apapun, tergantung niatnya. Memang jauh lebih baik untuk bertindak nyata. Tapi detik itu, yang paling bisa dilakukan dengan segera adalah mengganti avatar dan secara tidak langsung menyebarkan semangat bangkit bersama. Bahwa kita ada dalam satu.

 

Rabu, 27 Oktober 2010 bertepatan dengan hari blogger nasional

Mbah Maridjan untuk pahlawan nasional


Meletusnya Gunung Merapi juga mengukir berita tersendiri bagi seorang kuncen yang sempat beralih profesi jadi artis dan bintang iklan. Beliaulah the famous Mbah Maridjan. Ditengah-tengah pemberitaan tentang meletusnya Gunung Merapi yang membawa awan panas dan menyebabkan hujan abu, berita tentang kematian Mbah Maridjan jadi headline tersendiri di beberapa media. Satu kabar tentang Mbah Maridjan sendiri bisa jadi 3-4 artikel. Sempat simpang siur berita kepergian Mbah Maridjan. Tapi akhirnya, Mbah Maridjan dipastikan sudah meninggal dalam keadaan sujud di dapur rumahnya, yang terletak tidak jauh dr lereng Gunung Merapi. Jasad Mbah Mariidjan ditemukan bersama beberapa jasad lain yang diduga keluarganya dan juga relawan. Keteguhan Mbah Maridjan untuk tetap bertahan dirumahnya meski sudah diperingatkan banyak pihak untuk segera mengungsi, menarik simpati banyak pihak. Mbah Maridjan sebagai The Last Man Standing. Salut akan kegigihannya. Sosok berprinsip teguh. Dll. Hingga puncaknya saat Tiffatul Sembiring selaku Bapak Menkominfo iseng-iseng (entah iseng entah serius), melemparkan polling di twitter yang isinya: “bagaimana kalau Mbah Maridjan dijadikan pahlawan nasional”. Hmmm… Saya pribadi… Bagaimana yah. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada almarhum, tapi saya pikir itu berlebihan. Saya tidak melihat sesuatu yang Mbah Maridjan lakukan untuk negeri ini, kecuali mungkin untuk warga sekitar Gunung Merapi. But hey! We’re talking about pahlawan nasional untuk Indonesia Raya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Sepertinya masih banyak sosok-sosok diluar sana yang belum terhargai bahkan belum dikenal. Mbah Maridjan biarlah menjadi Mbah Maridjan yang kita kenal sebagai sosok tangguh dan Roso!

 

Mulut Marzuki Alie
Ini lagi muncul seleb online baru yang sedang hot-hotnya digosipin di dunia digital. Dialah Marzuki Alie, ketua DPR RI. Mungkin agak sirik sama Foke yang selalu jadi bahan perbincangan di dunia pertwitteran dan perfacebookan, maka Bapak Juki pun tak mau kalah. Ia hadir dengan mulut harimaunya.

“Mentawai kan jauh. Itu konsekuensi kita tinggal di pulaulah,”

“Siapa pun yang takut kena ombak jangan tinggal di pinggir pantai. Sekarang kalau tinggal di Mentawai ada peringatan dini dua jam sebelumnya, sempat nggak meninggalkan pulau?”

“Kalau tahu berisiko pindah sajalah,” imbuhnya. “Kalau rentan dengan tsunami dicarikanlah tempat. Banyak kok di daratan,”

“Kalau rusak diperbaiki. Kalau hilang dibeli lagi,” tutupnya.

Dang! Buat apa sih mahal-mahal kirim anggota DPR studi banding ke luar negeri. Sekolahin dulu aja kepribadian mereka di John Robert Power. Piye toh pak, lah wong ngomong di depan publik kok ga diayak dulu. Ingat yah, mulutmu adalah harimaumu.

artikel lengkapnya bisa dibaca disini

 

 

@tvOneNews Ngambek
Ini lagi orang pada rame-rame #PrayForIndonesia , stasiun tv yang satu ini malah ngamuk sendiri. Entah kesalahan admin atau apaaa… Akun twitter @tvOneNews mengupdate…

Sebagai salah satu stasiun tv yang sedang naik daun, akun twitter tersebut pastilah banyak followernya. Tapi entah kenapa, mungkin pengaruh cuaca buruk dan juga ekstrim, sosok akun @TVOneNews lose control. Admin juga manusia. Bete kali yah dia di caci maki terus sama followernya. Padahalkan no one knows his/her personal dibalik akun itu. Kenapa musti diambil ke hati? Kerja mah kerja ajalah.

 

Yah begitulah gambaran negeri saya tercinta dalam beberapa hari terakhir.

 

Selamat Hari Blogger Nasional untuk kemarin.

 

Dan Selamat Hari Sumpah Pemuda.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.