Category Archives: Dilts Foundation
So Long Russ Dilts…
There are two ways of spreading light – to be the candle or the mirror that reflects it – Edith Wharton
For me, Om Russ (the way me and Dilts’s volunteers called him) is ‘the candle’ who creates the bright light. On the other hand, the rest of us just try to be ‘the mirror’ to reflect the light.
I’ve been joining Dilts Foundation since 2006 as a volunteer. That was the first time I knew the figure of Russ Dilts, as a founder and initiator of Dilts Foundation. Although I didn’t recognize him personally at that time, I admired him a lot. How can’t I, all I heard about him was inspiring me in so many ways.
One of things that no one can deny is his sincere hospitality to anyone, indiscriminately. Anyone, no exception, can feel his sincerity that is coming right from his heart. And one thing for sure, he always keeps the doors open for everyone to visit his place.
I was wondering. Why can foreigners who were not born in Indonesia be that caring about the environment in this country more than its own citizens? Why can foreigners who don’t have the blood of Indonesia concern about the future of Indonesian children, more than those of us who were born and raised here? It will not be easy, unless for the noble-hearted man like Om Russ. He’s such an angel sent from heaven.
His sudden passing was met with shock and sadness by those who knew him, as well as the volunteers. He is such an inspirational figure who never runs out of energy to continue doing something for others. A man as humble and loving as Om Russ will always be remembered by those of us who knew him and love him. It won’t be enough for us to admire him. It won’t be enough for us to thank him. And it won’t be enough for us to return his kindness. God must have prepared the most beautiful place in heaven for him.
We promise that we will continue what he has started. We know we’ll be filling huge shoes but with everyone’s help we think we can do it. Let’s just remember everything that he shared with us.
Ellie – Volunteer of Dilts Foundation
*Russ Dilts passed away on Oct 15, 2011 in Aceh. I’m writing this to commemorate the 100th day of his passing that will be on Jan 22, 2012. At the same day, The biography of Russell Dilts will be launched.
A Journey to: 11 Years Journey of Dilts Foundation
11 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi perjalanan sebuah yayasan sosial. Meski saya sendiri pun belum merasakan perjalanan sepanjang itu, namun 5 tahun yang saya lalui bersama yayasan ini cukup memberikan gambaran keenam tahun lainnya. Tidak mudah, memang. Berat, pastinya. Namun rasa puas dan bangga akan pencapaian kami melebihi rasa apapun yang kami lalui. Singkat kata, semua terjadi dalam waktu 11 tahun. And we’re heading another 11 years bahkan puluhan tahun lainnya.
11 tahun ibarat anak kelas 6 SD yang sedang bersiap memasuki babak baru yaitu tingkat SMP. Semua usaha dan kerja keras dilakukan untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik di level selanjutnya. Begitupun dengan kami. Moment 11 tahun ini ibarat pencapaian setelah 11 tahun sebelumnya kami berdiri dan berusaha untuk menginjakkan kaki dengan kokoh. Saat kami sudah kokoh berdiri, justru perjalanan panjang lainnya menanti di depan mata. Bagaimana kami harus bertahan bahkan mengembangkan sayap di dunia sosial. The journey just begun.
What so special about 11 Years Journey?
It has to be special. Itulah mengapa dengan segala keterbatasan kami, kami berusaha untuk melakukan sesuatu untuk selalu diingat. Let’s call it a celebration. Ya, bagi kami ini sebuah perayaan mengingat tahun-tahun sebelumnya kami mensyukuri usia kami dalam kesederhanaan. Jangan dibandingkan dengan perayaan ulang tahun anak kecil umur 11 tahun yang mungkin jauh lebih meriah dan mewah. Namun bagi kami, perayaan 11 Years Journey ini cukup meriah.
Berawal dari sebuah ide yang datang justru karena kecemburuan akan apa yang dilakukan oleh pihak lain, kami merasa mampu dan sanggup melakukan hal yang sama dengan dukungan network yang kami miliki. Alhasil, dengan konsep yang berbeda, kami 100% yakin untuk memulai kegiatan ini.
Saat approval sudah ditangan, kami mulai menyusun rencana dan bersiap dalam waktu kurang dari 2 bulan. Waktu 2 bulan itu pun hanya maksimal saat weekend. Maklum buruh pabrik. Dengan bantuan dan dukungan dari teman-teman relawan, we planned it pretty well.
Sabtu, 7 Mei 2011 di D’Nanta Cafe, siang hari, masing-masing dari kami sibuk mengurusi ini itu. Persiapan belum 100%. Dengan semua peluh dan kepanikan melanda, tak terasa waktu sudah semakin mendekat. Performers belum datang, MC belum nampak, anak-anak belum 100% siap, technical masih berantakan, and bla bla bla. What a day. Saat tamu mulai berdatangan dan jarum jam menunjukkan pukul 7.30, mau tidak mau, siap tidak siap, acara dimulai. Dengan brief singkat, MC membuka acara. Dalam hati saya: “Que serra serra, whatever will be will be”. But it ran well! Alhamdulillah kami mendapat banyak feedback positif dari semua yang hadir. Well done!
Atas nama pribadi dan Dilts Foundation, would like to thank you all:
Terima kasih kepada Tuhan YME atas berkah dan anugerah-Mu bagi kami hingga acara ini berjalan lancar.
Terima kasih kepada Ibu Wahyu Dilts dan Ibu Susi Aditia telah mempercayakannya kepada kami. Kami sungguh belajar menjadi generasi penerusmu J tapi diakui, kami masih butuh bimbinganmu.
Terima kasih kepada anak-anak Dilts yang sudah tampil outstanding dan menghibur. Am so proud of you kids! Tapi disitu saya menyadari betapa kalian sudah tumbuh dewasa
Daniel, you’re the star!
Terima kasih kepada Bayu Dilts for being such a great partner. You’re the best
Masalah ini sudah selesai. Mari kita cari perkara lain ;p
Terima kasih for the great team ever! @dewi_n dan @virtri yang mampu tetap berdiri meski badai menghadang! @dewi_n yang nggak tidur semalaman hanya untuk video yang untungnya bisa disetel pada waktunya
@virtri yang telah menyelamatkan acara malam itu. We can’t do that without you :p Jangan lupa mas-mas D’Nanta dan si Bapak Tua mixer itu yah
)
Terima kasih untuk Ka Anne, Ka Bima, Ka Uthie for your great support! Sayang Ka Uthie ga sempet lihat kehebohan kita malam itu.
Terima kasih the one and only, our gourgeous MC, Ka Gita. I know you’re a little bit dissapointed, but we’re not at all
You did great and thanks for being there.
Terima kasih untuk designer hebat kita Dhimas Satria. Dengan semua revisi dan revisi dan revisi, hasil akhirnya sungguh menakjubkan. Apa kabar kami tanpamu?
Terima kasih untuk fotografer-fotografer handal kita, Firman, Wahyu, Rendra, Dhimas for capturing the best moments. Saya tunggu hasil-hasil fotonya yah
Terima kasih Kak Gilang, Kak Celly, Kak Gina & Kak Tito for being next to the kids
Terima kasih Mba Wati, Mba Shinta,Iva, Susi, Rizka, Desi, and Habibah for being such a great team dengan segala pertiketan dan lain-lainnya.
Thanks Kak Mario for doing your best at the action section. You did it! Semuanya terjual! Yeaay!
Terima kasih untuk all team. Kak Majenk, Dhimas, Udi, dkk. Saya tau kalian sempet bingung harus ngapain. Begitupun dengan saya. Saya pun masih bingung
Terima kasih untuk @twiras for your live tweet
#Dilts11YearsJourney
Terima kasih untuk Kak Agung yang telah melatih anak-anak demi penampilan yang mempesona malam itu.
Terima kasih tak terhingga untuk semua performers. Funkoff Music, Kojekz & Okengja, dan Vanka Stefy. You guys rawk!!! Pastinya dengan style jazz, rap & hiphop, juga traditional music ;p Performer yang nggak kalah pentingnya yang berhasil menghibur kita after the show, Thanks to Mas Plompong! You amazed all of us. Standing ovation!
Dengan semua keterbatasannya, oh well terima kasih untuk D’Nanta Restaurant for helping us
Terima kasih untuk para tamu kehormatan atas waktunya bersama kami. Ibu Mila dari Financial Club, Ibu Sri, Bapak & Ibu perwakilan dari DNIKS.
Terima kasih kepada Mba Elsa dari Johnson&Johnson dan Mba Ira dari Picture Me Indonesia atas dukungannya.
Terima kasih untuk semua tamu yang datang. Rombongan teman-teman dari ICBC dan teman juga sahabat yang tidak bisa disebutkan satu-satu. Terima kasih sudah berbagi malam minggu bersama kami. What a great pleasure having you all that night! You don’t know how much it meant to us *tears are falling*
Tak lupa terima kasih untuk rekan dan sahabat yang tidak sempat hadir. Kami tau kalian ingin sekali hadir jika tak ada halangan. Tapi doa dan dukungan kalian sampai dengan selamat malam itu di D’Nanta.
Thank you doesn’t seem enough to express my gratitude to you all.
In the end, am so proud and happy to have you all here! What a lovely family i couldn’t even ask for more
Love,
Ellie
M not for Money, M for Milk
What does M stand for? Money? No longer that way. For us, M now is standing for Milk. #MforMilk
Masih ingat kampanye “Stop Beri Uang,Beri Kami Kesempatan”? Nice campaign, isn’t it? Sayang sudah lama tak terdengar
Berawal dari sebuah kampanye…
Correct me if I’m wrong, kampanye ini dimulai tahun 2004 lalu oleh United Nations Volunteer (UNV) -PBB dalam menyikapi Hari Volunteer Sedunia pada tanggal 5 Desember yang selanjutnya diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Volunteer Sedunia. Dalam rangka memperingati Hari Volunteer Sedunia, UNV melakukan kampanye sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap anak-anak jalanan, yaitu dengan program “Stop Beri Uang, Beri Kami Kesempatan”. Harapan dari gerakan ini adalah untuk mengubah paradigma masyarakat yang merasa kasihan atas nasib anak-anak jalanan dan seringkali memberikan uang kepada anak-anak ini. Pandangan seperti ini tentu saja salah besar karena memberikan uang kepada anak-anak jalanan bukanlah jalan keluar yang terbaik bagi mereka sekaligus tidak mendidik. Gerakan ini juga bermaksud untuk menggalang banyak dukungan dari masyarakat luas.
Kenapa kita harus stop beri mereka uang?
Salah satu penyebab semakin meningkatnya jumlah anak jalanan memang karena kondisi perekonomian yang tidak stabil, terlebih saat krisis moneter dengan dahsyatnya melanda Indonesia beberapa tahun lalu. Memang benar, tahun itu jumlah anak jalanan menignkat tajam. Tapi setelah itu? Tetap saja banyak anak jalanan yang tidak terurus berkeliaran di jalan, meski sudah banyak yayasan-yayasan sosial berdiri, rumah singgah beroperasi, program beasiswa digalakkan, dan program-program bantuan lainnya yang dijalankan. Mengapa demikian? Karena anak-anak betah dan memutuskan untuk tetap berada di jalan dengan penghasilan per-hari yang mencapai 30ribu – 50ribu. Uang siapakah itu? Tentu saja uang teman-teman semua. Dengan alasan kasihan dan prihatin, teman-teman memberi mereka uang sebagai imbalan kecrek-kecrek mereka itu. Yang lebih membuat miris adalah, tidak 100% uang yang mereka dapatkan bisa mereka nikmati sendiri. Sebagian besarnya disetor kepada mafia-mafia jalanan alias coordinator pengamen dan anak-anak jalanan yang stand by dibeberapa titik tempat anak-anak ini mengais rejeki.
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Stop beri uang, beri mereka sekotak susu. Yuk mulai aware akan keadaan ini. Mulailah hanya dengan membawa 2 kotak susu setiap hari untuk perjalanan pergi dan pulang kantor. Coba hitung, bagi teman-teman yang membawa kendaraan pribadi ke kantor, berapa titik lampu merah yang dilewati setiap harinya? Setiap lampu merah, perkirakan 2 anak-anak mengamen meminta belas kasih melalui kaca jendela mobil. Jadi, berapa total anak jalanan yang teman-teman temui setiap harinya? Bagi teman-teman yang menggunakan transportasi umum, berapa kali dalam sehari melihat anak-anak ini mengamen di dalam angkutan tersebut?
Kenapa susu?
Anak-anak di jalanan itu adalah anak-anak dengan usia dimana sedang terjadi pertumbuhan. Gizi mereka harus baik dan cukup untuk mendukung pertumbuhan sebagaimana mestinya. Membiasakan anak minum susu juga sangat baik hingga anak-anak ini bisa hidup lebih sehat. Disamping itu, bagi para mafia anak-anak jalanan, tidaklah penting sekotak susu. Sepengetahuan saya, preman-preman ini tidak minum susu. Kecuali preman-preman yang juga masih dalam masa pertumbuhan :p
So good people, let’s join the cause. M isn’t for Money! M for Milk, Milk for Kids, Kids for the future
#MforMilk
Cheers! @MforMilk @DiltsFound @m_montino @dewi_n @imaasir @Missellieneous
Tawa Itu Mahal Harganya!
Tawa itu mahal harganya bung! Seorang milyarder sekalipun belum tentu sanggup memberikan tawa yang sesungguhnya kepada orang lain di sekitarnya.
Namun tawa itu dengan mudah diberikan oleh sekelompok remaja asal Aceh kepada anak-anak Dilts Foundation. Dan saya pun bahkan terpingkal-pingkal
Sabtu, 20 November 2010 – Rumah Singgah Dilts Foundation kedatangan kakak-kakak berkaos kuning bertuliskan Hidung Merah Circus. Mereka adalah interns dari Yayasan Hidung Merah (Red Nose Foundation).
Seketika kami membuka pagar lebar-lebar, menyusun lantai puzzle di teras, dan berkeliling kampung untuk “menculik” anak-anak agar bergabung bersama kami menyaksikan pertunjukan badut dan sirkus dari Hidung Merah. Bagi penonton, dibagikan hidung merah. Dipakai yaaa…
Siang itu, Hidung Merah interns berhasil membawa canda tawa di rumah singgah dan sekitarnya. Dengan disaksikan langsung oleh The Director of Red Nose Foundation, Dan Roberts, anak-anak interns asal Aceh ini sukses menyuguhkan sebuah pertunjukan yang sangat sangat sangat menghibur. Tidak hanya anak-anak, kami yang sudah dewasa pun tak mungkin untuk tidak tertawa.
Lihat tawa anak-anak ini…
Hidung Circus tampil dalam 3 segmen dengan cerita yang berbeda-beda. Lucu sudah pasti. Orisinil, tentu saja! Sepertinya mereka sendiri yang menciptakan ceritanya. Kalo kata Ryanti Cartwright “I like it!”. Oh no, I love it! I really love it!
Dengan kostum sederhana, mereka tampil tidak sederhana. Dengan logat Aceh Melayu yang kental, mereka berdialog. Serasa nonton Upin&Ipin
Tak heran, semakin banyak anak-anak yang berdatangan untuk dapat menonton pertunjukan ini.
Peluh terlihat menetes dari setiap mereka. I can see they’re so tired, but at the same time, I can feel their spirit. Mereka tampil all out demi melihat dan mendengar tawa anak-anak yang menyaksikannya. And they just did it!
Belum selesai sampai disini! Interns Hidung Merah membuka kesempatan bagi anak-anak untuk bisa belajar circus langsung.
Bagi interns yang baru dilatih selama 5 bulan, menurut saya ini adalah sebuah pencapaian yang patut dikagumi. Menurut Dan Roberts, anak-anak interns-nya ini akan kembali ke Aceh bulan Desember 2010 dan akan mengadakan 75 pertunjukan dalam waktu sebulan. Bravo! Outstanding!
I would like to thank to @HidungMerah Circus, Dan Roberts, Reny Antoni Roberts, all interns for sharing smile and laugh at Rumah Singgah. You guys did it so well. Dan must be proud of you. Hope to see you next time. Good luck!
Ternyata tawa tidak semahal itu, asalkan kita ikhlas untuk menularkannya.
Hai, Nama Saya Abu
Hai, nama saya Abu. Saya berasal dari daerah kecil di Tegal, Jawa Tengah. Masa anak-anak saya tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain layaknya anak kampung dengan keterbatasan ekonomi. Hingga semuanya menjadi lebih buruk saat orang tua saya harus bercerai. Mereka berpisah dan saya diasuh oleh kakek saya seorang diri. Ibu pergi merantau ke Jakarta, dan ayah entah kemana. Setelah lulus SD, saya memutuskan untuk menyusul ibu ke Jakarta. Saya tidak langsung melanjutkan pendidikan ke SMP karena keterbatasan biaya. Tinggal di sebuah kontarakan kecil bersama ibu dan adik saya, yang juga tidak bersekolah, perekonomian keluarga semakin buruk. Disaat anak-anak lain memakai seragam putih biru dengan rapi dan belajar di sekolah, saya hanya bisa terdiam tanpa melakukan apa-apa.
Sampai pada akhirnya ibu menyarankan saya untuk bergabung dengan Dilts Foundation. Di sana,saya mengenal seorang teman bernama Asep. Ia penyanyi jalanan alias pengamen. Bersamanya, saya mengawali karir saya sebagai penyanyi jalanan di ibukota Jakarta. Dari bus ke bus, warung tenda satu ke warung tenda lainnya. Pasar Minggu – Blok M – Kuningan jadi makanan saya sehari-hari. Saya dan Asep menjadi dua sahabat yang kompak. Bedanya, Asep masih bisa pergi ke sekolah di pagi harinya. Siang harinya kami belajar di rumah singgah dan sore harinya kami menjadi penyanyi jalanan. Saya juga sempat merasakan uang hasil kerja di cuci steam. Uang yang saya dapatkan dari mengamen dan cuci steam lumayan untuk saya dan adik saya jajan juga sedikit membantu ibu.
Kegiatan-kegiatan Dilts Foundation mengurangi waktu saya di jalanan. Tidak terbayangkan sejak dulu bahwa Dilts Foundation akan membawa saya ke masa depan yang jauh lebih baik. Selama setahun saya tidak bersekolah namun pelajaran akademis sekolah saya dapatkan di rumah singgah Dilts Foundation. Setidaknya otak saya tidak kosong dan masih terisi ilmu-ilmu sekolah. Begitu masuk tahun ajaran baru, saya mendapatkan kesempatan untuk kembali ke sekolah dari Dilts Foundation. Ya, saya mendapat beasiswa dan mulai bersekolah di SMP. Saya juga tinggal di sekretariat Dilts Foundation.
Kehidupan saya jauh lebih baik setelah saya mengenal Dilts Foundation. Dengan saya tinggal di yayasan, saya mengurangi beban ibu. Banyak kesempatan yang saya dapat di Dilts Foundation yang menjadikakn saya jauh lebih berkembang. Di Dilts pula saya memiliki keluarga besar baru yang begitu akrab, menggantikan keluarga saya yang berantakan. Teman-teman, adik-adik, kakak-kakak yang begitu mendukung dan menyayangi saya.
Abu anak kampung yang bukan siapa-siapa, sekarang berubah jadi Abu dengan segudang ilmu dan pengalaman berharga. Abu yang dulu mengekspresikan bakat dan talentanya di jalanan, tidak lagi berpanggung di bus kota. Tampil bernyanyi dan bermain teater dengan artis-artis ibukota menjadikan saya jauh lebih percaya diri dan yakin akan kemampuan saya.
Beberapa panggung yang jauh lebih bergengsi dan megah, juga pastinya lebih dingin karena ber-AC dibandingkan Kopaja, diantaranya: Gedung Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki; Cilandak Town Square; Hotel Arya Duta; Hotel Shangrila; Hotel Millenium; Hotel Sahid; Pondok Indah Mall; FE UI
Ketertarikan saya akan seni musik muncul sejak saya melihat gitar untuk pertama kalinya di Dilts tahun 2004. Saya belajar otodidak bersama partner bernyanyi saya Asep. Beruntung, Dilts sangat mendukung dan banyak memberi saya kesempatan untuk mengembangkannya. Jadilah saya seperti sekarang ini. Saya dengan teman-teman di sekolah membentuk sebuah band dengan nama LIBBRA, stands for Lima Sahabat Bersatu Raih Impian. Ya, kami hanyalah 5 remaja yang sedang bermimpi setinggi langit dan berusaha keras untuk meraihnya. Mendapat inspirasi dari orang-orang di sekeliling saya, 10 lagu sudah tercipta. Beberapa festival musik sudah kami ikuti. Bahkan kami berhasil masuk 10 besar untuk Festival Kreasi Musik se-Jakarta di GOR Soemantri Brodjonegoro Jakarta tahun 2009.
Dari semua yang sudah saya lakukan dan berhasil saya capai, saya senang dan bangga bisa menginspirasi teman-teman di sekeliling saya, baik teman-teman di Dilts maupun teman-teman sekolah. Tidak hanya menginspirasi, secara otomatis juga memotivasi teman-teman untuk selalu bertekad kuat meraih apa yang dicita-citakan. Tahun 2010,saya baru saja ditinggalkan oleh ibu saya. Hal itu sempat membuat saya jatuh karena berarti saya tidak memiliki orang tua. Adik saya kembali ke kampung dan saya bertahan di Jakarta tanpa keluarga. Tapi saya tidak merasa sendiri karena saya memiliki keluarga besar Dilts Foundation.
Bagi saya, Dilts Foundation sudah mengubah hidup saya. Sayangnya, satu Dilts Foundation saja tidak mampu menampung semua permasalahan anak Indonesia. Saya hanyalah satu dari sedikit anak Indonesia yang cukup beruntung, dengan latar belakang serba terbatas tapi saya bisa melewati batas itu dan mulai mengepakkan sayap.
Bagi saya, berada dibawah pengawasan yayasan jauh lebih baik, karena:
- Masih bisa bebas berekspresi. Berekspresi yang bertanggung jawab itu lebih nyaman rasanya.
- Tidak lagi di jalanan membuat saya merasa jauh lebih aman.
- Banyak kesempatan yang membesarkan dan mengembangkan saya
- Saya bisa lebih fokus untuk belajar
Dengan tidak mengurangi rasa syukur saya akan indahnya hidup yang sudah diberikan Tuhan, saya hanya ingin berbagi rasa atas semua keterbatasan saya untuk hidup sebagai anak Indonesia.
- Ekonomi keluarga yang terdesak berdampak bagi pendidikan anak
- Identitas diri yang sulit didapat. Meski saya lahir dan besar di Indonesia, negara ini masih saja meragukan eksistensi saya sebagai warga negara
- Pergaulan di kalangan remaja yang rentan dengan kekerasan dan juga obat-obat terlarang
Know me better:
Name: Abu Sholeh
Date of Birth: Tegal, 24 April 1993
Email: abbuloseh@yahoo.com
Facebook: Aboe Libbra
Future Goals: Musician and Director
“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi syarat keberangkatan Abu mewakili anak-anak Indonesia di Regional Workshop to Promote and Support Children and Young People’s Participation in ASEAN yang berlangsung tanggal 18 – 23 Oktober 2010 di Manila, Philippines”
DF Awards dalam rangka Dilts Foundation 9th Anniversary
Jakarta, 7 Mei 2009- Bukan cuma para arteeess terkenal yang sering mejeng di tv aja lho yang berhak dapetin penghargaan alias award. Berdasarkan keragaman karakter, sifat dan sikapnya, anak-anak DF juga berhak dapet penghargaan dan hadiahnya. sayang, belum ada trophy-nya. mudah-mudahan tahun depan ada yang namanya trophy bergengsi milik Dilts Foundation.
Nah, seperti tahun sebelumnya, dalam rangka perayaan ulang tahun Dilts yang tahun ini usianya menginjak 9 tahun, kami pun kembali mengadakan ajang penghargaan bagi seluruh keluarga besar DF. tahun ini lebih serius lho, karena yang menentukan adalah anak-anak DF sendiri. dan pembacaan nominasinya pun ala Grammy Awards atau lokalnya sih AMI Awards.
mau tau hasilnya?? Check this one out!
Kategori Murid Terajin: Amar (pastinyaaa… 24 jam ada di rumah singgah :p)
Kategori Murid Berbakat: Andre (this boy is really good in drawing. tp sebenernya semua anak DF berbakat kok)
Kategori Murid Terbaik: Agung (Yeaah… setujuuu banget… I Love Agung!)
Kategori Murid Terpopuler: Wulan (speechless… she is so popular)
Kategori Murid Terpandai: Daniel alias Ucok (yeah…)
Kategori Murid Terheboh versi SD: Kiki (alrite)
Kategori Murid Terheboh versi SMP: Retno (yaaaaa… no one else gitu loh!)
Naah… itu dia penghargaan buat anak-anak DF.
Berikut adalah penghargaan buat kakak2 relawannya. (duh, jadi deg2an…dapet ga yah?? udah siapin speech nih :p)
Kategori Kakak Terbaik jatuh kepada… Kak Dhimas (yeeeaayyy… He’s so loveable)
Kategori Best Supporting jatuh kepada… kak Agung (yihhiiy… he is so helpfull ditengah kesibukannya yang sedang menempuh UAN)
Ini dia yang ditunggu2… Penghargaan paling bergengsi..
Lifetime Achievement jatuh kepada…. (jeng jeng jeng….)
Kak Udie…. (tepuk tangan bergemuruh…)
Itu tadi anak-anak dan kakak-kakak terbaik tahun ini. kita akan lihat apakah ada perubahan tahun depan. so pasti DF Awards akan lebih baik lagi tahun depan. apalagi bertepatan dengan perayaan 10 Tahun Dilts Foundation alias 1 dekade. wuuuiifff… kayaknya ga cuma selametan dan pengajian bersama di Sekretariat DF, tapi DF Awards bakal diadain di Balai Sarbini. hehehe….
So,,, Get ready guys…
Cheers,
Ellie melaporkan langsung dari tempat kejadian ^-^
Anak-anak Dilts Foundation Tentang Jakarta
Encang Encing Enyak Babe, Jakarte kite tercinte ulang taun nih.
Tepatnya kemarin 22 Juni 2009, Ibukota Jakarta genap berusia 482 tahun. Wah tua juga yah… Meski banyak yang mencibir Jakarta dengan segala kekurangannya, toh Jakarta masih menjadi pilihan tempat tinggal lebih dari 8 juta jiwa. (ini baru yang terdaftar di kelurahan) Termasuk anak-anak Dilts Foundation beserta keluarganya yang tinggal di sekitar Pasar Minggu. Mereka semua mencintai Jakarta lho. Mereka juga punya harapan-harapan khusus akan kota tercinta mereka ini. Mau tau harapan mereka? Cekidot!
Kelas 2 :
- Amar : saya mau kota jakarta bersih, tidak banyak polusi, dan tidak mau macet, tidak ada yang buang sampah sembarangan.
- Daniel : tidak banjir lagi, tidak macet, kemiskinan dikurangkan, BBM diturunkan walau sudah turun 3 kali, menaati peraturan, dan tidak ada kecelakaan lagi.
- Rafli : aku ingin Jakarta tidak macet, aku ingin Jakarta bahagia, aku ingin Jakarta tidak banjir, aku ingn Jakarta panjang umur, aku ingin Jakarta maju, aku berharap di Jakarta semua harga2 turun.
Kelas 3 :
- Dea : aku ingin Jakarta cepat majunya.
- Anisa : enggak macet lagi, tidak terjadi banjir lagi, tidak terjadi tanah longsor.
- Cindy : Jakarta jangan macet lagi, kalau macet saya susah kalau mau jalan2, polusinya dikurangi.
- Herni : Supaya jangan banjir lagi & jangan ada yang buang sampah sembarangan.
- Rian : saya ingin polusi di jakarta dikurang supaya para makhluk hidup dapat menghirup udara yang sehat.
- Kiki : semoga tidak ada lagi anak putus sekolah, semoga tidak ada lagi koruptor, dan semoga tidak ada kemiskinan serta pengangguran.
Kelas 4 :
- Wulan : semoga di usia ke 482 ini Jakarta bisa lebih baik lagi, semoga tidak banyak polusi, semoga tidak ada bencana seperti banjir, tanah longsor, dll. dah itu aja…….
Kelas 5 :
- Vita : saya tidak ingin ada kemacetan dan berjalan dengan lancar, saya ingin tidak ada banjir ataupun tsunami….
- Ica : warga Jakarta harus membuang sampah pada tempatnya, jangan asal buang.
- Delvi : aku ucapkan semga panjang umur, tetap bersih dan damai.
- Anifah : semoga semakin maju dan pada pemilihan presiden nanti semoga menjadi berubah, AMIN….
Kelas 6 :
- Aminah : Semoga di kota Jakarta tidak ada kecelakaan atau musibah yang memakan korban jiwa manusia.
- Andre : Semoga rakyat lebih cinta lingkungan, semoga menjadi ibukota yang membanggakan negara, Semoga tidak ada lagi pengangguran. pokoknya semua harus dilakukan.
- Danti : harapan saya sebagai warga kota jakarta adalah semoga makin maju lebih baik lagi seperti dulu dan jauh dari bencana apapun, pokoknya jakarta tetap maju terus dan lebih baik lagi.
- Ita : semoga di umur yang ke 482 ini jakarta lebih bagus lagi, lalu harapan saya untuk jakarta jaya selalu dan kejadian2 yg dulu agar tidak terulang lagi.
SMP :
- Dede : semoga di tahun yang ke 482 ini Djakarte semakin maju, nggak ade lagi musibah atawe bencane yang menimpe kote kite yang tercinta ini.
- Dian : di usia yang ke 482 ini semoga jakarta lebih baik lagi dari ibukota2 di negara lain.
- Abu : Mudah2an kota jakarta menjadi lebih bersih, aman dan tertib lagi.
- Ayu : harapanku ke depan agar jakarta tidak ada kemacetan di jalan2, dan pemanasan global. cukup sekian dan terima kasih.
- Mauly : harapan aku ke dpn agar jakarta kota kebanggaanaku terbebas dari polusi dan pencemaran lingkungan.
- Roni : semoga ke depannya jakarta ini tetap bertahan sampai kapanpun. semoga tetap sukses.
- Ulfa : semoga jakarta di tahun 2009 semakin makmur dan semakin damai, semoga tahun ini masyarakat dan pemerintah tetap menjaga kebersihan, dan terus oke.
- Retno : Supaya yang sekolah di swasta bayarannya jangan mahal2 amat, AMIN. dan supaya orang2 Jakartanya jangan pada berbuat dosa.
- Ella : Di bangun rumah susun utk orang2 yang tidak mempunyai rumah, jalanan yang rusak diperhalus atau di aspal.
- Adjie : Jadi aye pesen niy supaya jakarta bisa di rawat tuh, kurangi pemakaian kendaraan bermotor.
- Agung : Semoga kota jakarta menjadi kota yang maju dari kota2 yang lain, dan juga jakarta menjadi kota yang nyaman, bersih, dan indah.
- No Name : Kota Jakarta tetap sukses selalu dan bebas dari polusi.
SMA :
- Udin : Semoga Jakarta tambah aman, nyaman, bersih dan asri serta tidak kalah dengan kota-kota di dunia.
Itu tadi harapan-harapan simple tapi lucu dari anak-anak Dilts. Adakah yang sama dengan harapan Anda? Well, pastinya harapan kita yang terbaik untuk Jakarta.
Cheers.
Liburan Impian Ala Dilts Foundation
“Libur telah tiba, libur telah tiba. Hore! Hore! Hore!”
Sabtu lalu, 13 Juni 2009, jadwal saya stand by di rumah singgah. sudah pukul 2 siang. Sebuah pelajaran dari Ka Bayu, berapapun anak yang sudah datang, kelas wajib dimulai. mengajarkan disiplin, katanya. jadi, dimulailah kelas siang itu. setelah berdoa, untuk menghabiskan waktu, saya ajak mereka semua ngobrol. ini bagian yang saya suka. setelah lima hari berkutat dengan pekerjaan kantor dan berkomunikasi dengan orang-orang profesional, sabtu lah satu-satunya hari dimana saya bisa lepas “having a chat” yang simple tanpa banyak aturan, tapi tetap sopan yaaa. hari itu, ternyata belum semua anak-anak (yang sekolah tentunya) selesai ujian. well, meski demikian, kok aura-aura liburan sudah terasa ya? dilatarbelakangi oleh hal itu, saya mengajak anak-anak untuk mengungkapkan pendapat dan mengeksplorasi ide-ide kreatif.
Mau tau liburan seperti apa sih yang mereka impikan??? Siapa tau bisa terwujud… kan moto-nya, jangan berhenti bermimpi. Berikut sedikit petikan langsung dari tulisan mereka di selembar kertas yang berhasil saya himpun:
Robert, kelas 8:
Mau nonton MU!!!
Delfi, kelas 5:
Menurut aku sih kita berlibur ke museum aja. Alasannya, supaya kita bisa melihat kebudayaan atau sejarah-sejarah tentang jaman dulu. Bagaimana kita dijajah pada jaman Jepang, Belanda, Inggris. Selain itu, untuk menambah ilmu pengetahuan.
Wulan, kelas 4:
Hari libur aku ingin ke 21. Tujuanku kesana ingin menonton Garuda di Dadaku atau Ketika Cinta Bertasbih.
Dhea, kelas 3:
Aku ingin sekali berbagi kasih kepada Panti Jompo karena mereka membutuhkan kasih sayang dan membutuhkan hiburan. Mungkin aku dan teman-teman bisa sedikit menghibur mereka.
Mauli, kelas 8:
Kalau menurut pendapat saya, pada liburan kali ini saya inginnya yang berhubungan dengan “Global Warming” seperti menanam tumbuhan bakau (mangrove) di rawa-rawa sekitar Jakarta atau penghijauan di daerah gunung yang gundul. Entah di Bogor atau di mana saja. Pokoknya sih, saya ingin liburan yang seperti itu. Alasannya, karena bumi kita sekarang ini mulai rusak karena pemanasan global. Enak juga jalan-jalannya :p Tolong yah wujudkan…
No name:
- TMII, karena kita bisa melihat rumah adat dari seluruh daerah di Indonesia
- Nonton bareng Ketika Cinta Bertasbih, pengen tau aja gimana sih film-nya
- Monas, mau lihat teks proklamasi yang asli yang dibaca oleh Sukarno.
Ita, kelas 5:
Kalau saya ingin ke Panti Asuhan dan saling berbagi cerita serta pengalaman. Serta ingin menghibur mereka dengan cara mengajak mereka bermain.
Isma, kelas 3:
Aku ingin ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dan nengokin pahlawan-pahlawan kita dan sekalian piknik di Taman Makam Pahlawan.
Amar, kelas 2:
Saya ingin nonton bioskop filem horor. Alasannya biar tambah berani
Devi, kelas 5:
Menurut aku sih kita ke Planetarium. Soalnya, jika kita kesana, kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dan mengenal nama-nama planet. Dan kita juga bisa mengetahui rasi-rasi bintang.
Anifah, kelas 5:
Menurut saya sih ke Ragunan, mengelilingi Ragunan. Tujuannya untuk mengetahui asal usul hewan supaya kita tahu. Tapi kalau menurut teman-teman, ga tau deh.
Aminah, kelas 6:
Saya ingin Taman Matahari Mega Mendung karena saya ingin melihat pemandangan yang sangat indah dan saya bisa berenang dan bercanda-canda dengan teman-teman DF. Dan saya ingin melestarikan alam yang sangat indah.
Vita, kelas 5:
Impian untuk berlibur:
- berjelajah ke hutan tropis, agar bisa melihat binatang liar dan agar bisa menikmatinya.
- Berenang ke Jungle, agar bisa menikmati dalamnya air kolam berenang.
- Melihat Extravaganza, karena agar bisa melihat lebih dekat daripada di TV mending melihat langsung.
- Menemui Panti Asuhan, agar bisa menghibur anak-anak disana.
Dian, kelas 7:
Impian untuk berlibur:
- Ragunan dan primata, melihat beraneka ragam monkey
- Kolam renang Snowbey Taman Mini, mau berenang.
- Nonton bareng 21, Ketika Cinta Bertasbih
- Pelabuhan Ratu, mau seneng-seneng aja.
Ica, kelas 5:
Berpetualang ke hutan:
Pada suatu hari aku berpetualang ke hutan gundul. Kami kesana mempunyai tujuan yang jelas. Kita berpetualang sambil menanam pohon-pohon di sana supaya tidak menyebabkan bencana. Contohnya: banjir dan tanah longsor. Tapi itu semua bisa kita cegah.
Dede:
Saya ingin liburan ke alam terbuka yang bisa menenangkan hati seperti puncak. Di situ kita bisa menikmati hidup yang sesungguhnya seperti apa. Asal jangan di Jakarta.
Abu Soleh, kelas 9:
Menurut saya liburan yang paling dahsyat itu ke suatu tempat yang bebas polusi ontohnya seperti alam terbuka/puncak. Agar anak-anak DF dekat dengan alam. Pokoknya jangan di Jakarta karena banyak polusi.
(Agung kelas 8; Danang kelas 7; Roni kelas 9, Danang kelas 8dan Zaka dengan liburan impian yang sama)
Danti, kelas 6:
Kalau saya ingin memberi pengobatan gratis untuk para masyarakat atau warga agar para masyarakat tidak mengeluarkan dana terlalu banyak untuk pergi ke dokter dan saya ingin melihat mereka semua sehat untuk selamanya.
Kiki, kelas 3:
- Saya ingin sekali ke Sea World. Alasannya saya ingin melihat atraksi lumba-lumba dan saya ingin ke tempat-tempat yang ada kudanil dan badak
- Planet aquarium. Alasannya karena disana asyik dan seru
- Futsal. Alasannya karena asyik, seru dan menyerukan loh
- Dufan. Alasannya karena disana banyak permainan dan bisa melihat pantai
- Bioskop. Alasannya disana bisa melihat film Ice Age
(Andre kelas 6; Rafli kelas 3; Daniel kelas 3 dengan liburan impian yang sama)
Wow… great ideas came from their mind. We’ll see mudah-mudahan salah satunya dapat terwujud. Giving them the best holiday ever :p
Cheers.
Happy Birthday Te Cie & Alm. Rahmat
Hari ini, Kamis, 5 Februari 2009 tepat dua orang tersayang kami merayakan hari ulang tahunnya. Ibu Susi, bunda bagi kami semua dan Almarhum Rahmat Hidayat. Well, sebenarnya hari ini hanyalah hari ulang tahun bagi Ibu Susi dan bukan bagi Rahmat karena ia sudah meninggalkan kami semua. Hari ini hanya mengingatkan kami bahwa inilah hari kelahirannya. Jika saja ia masih berada diantara kami saat ini, ia genap berusia 20 tahun. Sayang, Tuhan terlalu menyayanginya hingga ia belum sempat menginjak usia berkepala dua.
Tak terasa sudah hampir 6 bulan ia pergi. Terasa memang tiadanya kehadiran seorang Rahmat yang selalu sibuk dengan apapun. Saya sangat sangat merasa bersalah karena dalam kesadaran saya, belum pernah sekalipun saya kembali ke makamnya walau hanya untuk menjenguk dan mendoakan. Kakak macam apa saya? Bahkan, kasusnya pun masih blur bagi saya. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan kasusnya, apa dakwaan bagi tersangka, sudah selesaikah proses hukumnya, apa hukuman bagi si pembunuh kejam itu. Huh, merasa diri hebat dengan kesibukan.
Di hari kelahiranya ini, saya berdoa supaya ia tenang di alam sana dan mendapat tempat yang paling layak di sisi Allah SWT.
“Dik, Insya Allah Sabtu ini (7 Februari 2009), kami akan mengunjungi makammu dan berdoa untukmu. Semoga kamu tenang. Kami memang sangat kehilanganmu. Kami berat meleaskanmu. Namun, setiap kali kami mengingatmu dan semangatmu, kami sadar bahwa kamu pasti sedih bila melihat kami berlarut-larut. Maka dari itu, kami sudah mulai menjalani semua dan kami lakukan yang terbaik. Tidak hanya bagi kami dan adik-adikmu di Dilts Foundation, tapi untukmu juga. Kami akan selalu menyayangimu.”
Untuk Bunda kami yang sedang merayakan ulang tahunnya, semoga umur yang kian bertambah tidak menjadi hambatan bagi Bunda untuk terus berkarya dan melakukan yang terbaik bagi anak-anakmu. Kami semua sayang padamu dan akan terus bersamamu mencapai mimpi-mimpi kami. Thanks for being our mom.
With Love,
Ellie














