Monthly Archives: December 2011
Life is never as flat as flat shoes
When life is never flat, well at least ease your life by wearing flat shoes.
I consider my flat shoes is just as sweet as me. I love myself of being simple. Ibarat kata, look at my shoes, then you know who I am
Saya pengguna flat shoes entah sejak kapan. Mungkin sejak pertama kali saya bisa membeli dan memilih sepatu saya sendiri. Simple answer, sepertinya saya tak sanggup memakai high heels. Hanya dengan menatapnya saja sungguh tak sanggup. Tapi jangan salah, saat ini saya punya 4 pasang high heels. Karena apa? Karena keadaan :p
“Para ahli menyatakan bahwa posisi berjalan yang sehat adalah ketika seluruh beban tubuh ditopang oleh seluruh permukaan telapak kaki dalam massa yang sama rata. Dengan memakai flat shoes hal ini hampir dapat terpenuhi dengan baik.”
In my opinion,
Flat shoes: Enak dilihat. Lebih fleksibel. Liatnya ga bikin ngeri karena takut kesrimpet. Terlihat lebih humble dan membumi. Unselfish apalagi kalau punya pasangan yang pendek, jadi pengguna flat shoes itu sungguh fully understanding akan kekurangan si pasangan. Kemungkinan keselo sangat kecil. Sayangnya membuat kaki terlihat pendek.
High heels: Beberapa memang enak dilihat (kalau pantas dan ga maksa). Kaki tampak elegan dan seksi, ini saya setuju. It helps terutama bagi wanita bertubuh mungil. Jeleknya, susah diajak lari. Tapi kalo lagi kesel sama orang, bisa injek sasaran dengan sepenuh hati atau bisa lempar high heels dan dijamin sasarannya keliyengan. Pengguna high heels dikatakan egois saat si pasangan berpostur tubuh lebih pendek.
Itu tadi menurut saya. Mau tau faktanya yang lebih menarik? Check this out!
Menurut sebuah teori, high heels were created for the purpose of making women more feminine and sexier. Why is that so?
Here is a picture of a woman wearing high heels. Does she look feminine?
And then take a look at the picture below:
Singkat kata, cewe yang pakai flat shoes, terlihat punya pantat dan payudara yang rata. Sedangkan cewe yang pakai high heels, terlihat punya pantat yang bahenol dan payudara yang menonjol. Perbedaan lainnya dari gambar itu adalah si wanita dengan high heels membentuk garis yang bergelombang. Sedangkan wanita dengan flat shoes membentuk garis yang lurus.
Two of the stronger characteristics associated with femininity are big boobs and a big booty. Agree?
So, the only reason that high heels make a woman more feminine is that they force the body of the woman into a wave shape which makes her boobs stick out, and make her booty stick out. * Source: http://www.happehtheory.com
Lalu muncul pertanyaan. Apakah efek high heels tadi berlaku juga untuk pria? Kenapa tidak?
Oh well, I’m not a fashion expert, not even a fashionable person. I don’t know what to wear best for the girls, flat or high. I’m just looking for the most convenience item
Di Belakang Siapa Ada Apa?
“Di belakang pria sukses selalu ada wanita hebat”
Atau bahasa kerennya “Behind Every Successful Man There is a Woman”.
Yup, but the question is… what kind of woman are they?
Ups, sebelum lebih jauh, ini hanya plesetan yaaa… no need to worry, I do understand the essential of the phrase kok
Then, I come up with these cynical thoughts :p
Di belakang pria sukses, selalu ada monyetnya yang ngintilin terus. #damn
Di belakang pria sukses, ada bejibun cewek ngantri. Baca: cewek matre
Di belakang wanita sukses, biasanya ada pria yang sirik.
Di belakang wanita sukses, selalu ada pria yang menyesal.
Di belakang wanita sukses, selalu ada pria yang mundur teratur.
Lalu, what happen when they failed?
Di belakang pria gagal, masih kosong tuh! :))))
Di belakang wanita gagal, pasti ada pria yang ngerecokin tuh! >.<
Anything to add, that I missed out?
So Long Russ Dilts…
There are two ways of spreading light – to be the candle or the mirror that reflects it – Edith Wharton
For me, Om Russ (the way me and Dilts’s volunteers called him) is ‘the candle’ who creates the bright light. On the other hand, the rest of us just try to be ‘the mirror’ to reflect the light.
I’ve been joining Dilts Foundation since 2006 as a volunteer. That was the first time I knew the figure of Russ Dilts, as a founder and initiator of Dilts Foundation. Although I didn’t recognize him personally at that time, I admired him a lot. How can’t I, all I heard about him was inspiring me in so many ways.
One of things that no one can deny is his sincere hospitality to anyone, indiscriminately. Anyone, no exception, can feel his sincerity that is coming right from his heart. And one thing for sure, he always keeps the doors open for everyone to visit his place.
I was wondering. Why can foreigners who were not born in Indonesia be that caring about the environment in this country more than its own citizens? Why can foreigners who don’t have the blood of Indonesia concern about the future of Indonesian children, more than those of us who were born and raised here? It will not be easy, unless for the noble-hearted man like Om Russ. He’s such an angel sent from heaven.
His sudden passing was met with shock and sadness by those who knew him, as well as the volunteers. He is such an inspirational figure who never runs out of energy to continue doing something for others. A man as humble and loving as Om Russ will always be remembered by those of us who knew him and love him. It won’t be enough for us to admire him. It won’t be enough for us to thank him. And it won’t be enough for us to return his kindness. God must have prepared the most beautiful place in heaven for him.
We promise that we will continue what he has started. We know we’ll be filling huge shoes but with everyone’s help we think we can do it. Let’s just remember everything that he shared with us.
Ellie – Volunteer of Dilts Foundation
*Russ Dilts passed away on Oct 15, 2011 in Aceh. I’m writing this to commemorate the 100th day of his passing that will be on Jan 22, 2012. At the same day, The biography of Russell Dilts will be launched.
Ada Berapa Karangan Bunga di Pesta Pernikahanmu?
Hari pernikahan adalah hari besar dalam hidup. Katanya sih sekali seumur hidup. Ya kalo bener sekali seumur hidup :p Saking pentingnya, siapapun rela menghabiskan budget besar hanya untuk pesta satu hari.
Nah, sebagai pengunjung setia resepsi pernikahan dari skala rumah sampai gedung kelas ballroom hotel bintang 5, ada yang menarik perhatian saya. Pastinya siapapun menyadari hal ini. Betapa tidak, begitu memasuki area resepsi, kita sebagai tamu disambut dengan jejeran rangkaian bunga sebesar itu dengan tulisan jelas siapa pengirimnya.
Sebetulnya, gimana sih dulu sejarah tradisi kirim2 papan bunga kayak gini?
Saya pribadi melihatnya sebagai simbol seberapa penting si mempelai dan keluarganya. Seberapa berkuasa mempelai dan keluarganya. Seberapa terkenal mempelai dan keluarganya. Bukan maksud hati bilang pernikahan tanpa karangan bunga itu tidak penting.
Hanya sajaaaa….
Entah ya, padahal harga papan2 bunga itu kan lumayan mahal. Coba kalo diuangkan. Bisa buat paket bulan madu tuh :p
Tapi yasudahlah, selama menguntungkan bagi para tukang kembang, kenapa tidak?
Foto Prewed, Penting Nggak Penting. Postwed?
Foto diatas, adalah contoh foto prewed yang menarik (in my opinion). buktinya, saya dan 3 teman saya takjub dibuatnya
– Taken from Anka’s wedding
Sebenernya apa sih yang bikin mereka itu mengharuskan foto prewed sebelum hari pernikahan mereka? Jangan tanya saya karena saya ndak tau jawabannya
Meningkatnya kebutuhan akan foto prewed berbanding lurus dengan menjamurnya usaha fotografi. Yah berbanding lurus juga sih sama semakin banyaknya orang yang tertarik sama dunia fotografi ;p Mungkin banyak yang menyadari bahwa hobi fotografi akhirnya menampakkan kuasanya alias menguntungkan.
Sekarang gampang banget deh mau cari tukang poto prewed. Tinggal buka google.com lalu ketik keywords foto prewed atau foto pre wedding. Maka muncullah itu nama-nama penyedia jasa foto prewed dengan penawaran menarik. Gausah deh pake googling segala. Coba tengok kanan kiri kita. Beberapa teman kita malah udah mulai jual diri menawarkan jasa fotonya. Nah kan jadi bingung mau pake jasa temen yang mana.
Sekian banyak foto prewed yang sudah saya lihat, entah itu di acara weddingnya atau dari album foto yang di upload di FB. Some are interesting. Some are so so. Tapi satu hal yang membuat foto-foto itu terlihat sama, yaitu aura bahagia yang tampak di wajah kedua calon mempelai. Yaiyalah wajar lagi bahagia-bahagianyaaa… tunggu aja beberapa bulan lagi :p Mungkin itu sebabnya ga ada foto postwed, karena kemungkinan besar senyumnya tak semerekah saat mereka masih dalam status pacaran #ups
Baiklah, penting nggak penting, sepertinya foto prewed sudah aman tersimpan dalam list-to-do pernikahan seseorang. Mau ga mau, budgetnya sudah bertengger tepat dibawah budget undangan.
Note: Saya menemukan foto dibawah ini. Nah, mau dong foto seperti ini. Carl & Ellie dari UP movie
Volunteer and Social Worker
Hello volunteers all over the world, this is your moment! Happy International Volunteer Day!
December 5, diperingati sebagai International Volunteer Day. Merasa diri sebagai volunteer, meski belum dedicated 100%, hari ini saya mencatut kata ‘volunteer’ di FB dan Twitter update status. Awalnya cuma ingin spread the news biar orang lain aware bahwa hari ini adalah hari volunteer sedunia. Lalu tiba-tiba kepikiran, pertanyaan yang selama ini muter-muter di benak saya. Apa bedanya social worker dengan volunteer? Dalam konteks Dilts Foundation, saya ini volunteer atau social worker? Jujur, entah kenapa, saya lebih memilih untuk mengakui bahwa saya adalah social worker. Tuh liat di info FB saya. I put myself as a social worker at Dilts Foundation.
Akhirnya, saya lempar penasaran saya saya ini di ranah Twitter dan FB.
“Been wondering. what’s the difference between volunteer and social worker? any thought?”
Here are some answers received:
@ah_meng79 : @Missellieneous Volunteer might not get paid?
@SwinyAdestika @Missellieneous maybe,,volunteer not always works in social area,like volunteer in JavaJazz!social workers always work in social area,,??
@ah_meng79 @Missellieneous Maybe agenda is different too
bit.ly/nMGmAx
@dindit @Missellieneous social workers sounds more permanent, while being a volunteer can take as little or as much of one’s time as one likes.
@fitri4mini @DiltsFound @Missellieneous social workers do social things and get paid for it. Volunteers do anything for free..
@reneeantoni @Missellieneous Volunteer kerja free biasanya ga full time, social worker memang kerja utama social dan biasanya d gaji (volunteer and social worker)
Dan Robert : Social worker get paid?
Hmmm… overall sih jawaban yang didapat adalah social worker get paid, sedangkan volunteer tidak.
Noted, that makes me a volunteer then
Menghadiahi Diri Sendiri
Ga kerasa udah bulan Desember aja. Dalam hitungan minggu, kalender 2012 udah harus diburu. Dalam hitungan hari, kalender 2011 udah harus diganti. Dalam waktu yang sebentar lagi, resolusi harus diperbarui. Nah, yang itu hukumnya ga wajib sih. Tergantung iman dan keyakinan masing-masing. Boleh diganti keseluruhan, boleh diperbarui beberapa, atau boleh dihapuskan dari muka bumi.
Menjelang akhir tahun ini, selain berpikir maju ke depan, apa yang akan kita lakukan dan apa target kita, ada baiknya juga tengok ke belakang. What have you done along this year? Baiknya sih pertanyaannya begini: “what have you done for others so far?” Nah loh, susah kan pertanyaannya?!
Baiklah, mending yang gampang-gampang dulu deh buat start-up.
Pertanyaannya adalah: “Apa yang sudah kamu lakukan untuk dirimu sendiri selama setahun belakangan? Sudahkah kamu menghadiahi dirimu sendiri dengan sesuatu yang sangat kamu dambakan? Cukup senangkah kamu?”
Jika jawabannya “Ya”, bisa dipastikan kamu menyayangi diri kamu sendiri
I posted a tweet today: “Menghadiahi diri sendiri itu sungguh baik adanya. Apa hadiah untuk dirimu sendiri di tahun ini?
“
Beberapa replies masuk. Diantaranya ticket liburan, some gadget stuff, branded clothes, car, & barang2 mewah lainnya. Ada 1 yang menarik. Menghadiahi diri sendiri dengan resign dari tempat kerjanya saat ini. Wow! What a gift!
hadiah yang tak biasa namun berdampak luar biasa
Saya sendiri, cukup puas dengan banyak hadiah yang saya ciptakan untuk diri sendiri. Mulai dari traveling for holiday, traveling for work, 3 stamps on my paspor, pekerjaan baru dengan gaji baru, 2 credit cards (antara hadiah dan musibah) dan little stuffs lainnya, meski bukan branded. Yang 1 ini entah namanya hadiah atau bukan. Menjelang akhir tahun, saya menghadiahi diri saya hutang untuk 5 tahun kedepan -___-! Hutang itu akan terus mengikuti saya hingga 5 tahun. Bayangkan saudara-saudara. Akan lunas saat saya berumur 30 tahun! Oh well, saya ingin melihatnya lebih ke “pengadaan tanggung jawab” sih.
So, how bout you? Kalau dirasa belum sama sekali, sebaiknya buruan deh beli sesuatu sebelum tahun ini berakhir
Cheers,
Ellie










