The Luckiest Indonesian to Travel #Sydney
Ini kali pertama business trip saya ke luar negeri. Ga tanggung-tanggung, langsung nyebrang benua ke Australia. Sydney lebih tepatnya. Disanalah lokasi regional office tempat saya bekerja saat ini.
Offsite team meeting yang (sepertinya) sengaja diadakan di hari Kamis & Jumat, bikin niat extend business trip irresistible!
“You’re the luckiest Indonesian to travel” seperti itu kira-kira celetukan salah satu rekan kerja satu tim dari Thailand. Kenapa begitu? Rekan saya satu-satunya dari Indonesia terpaksa harus tinggal karena ada urusan yang tak kalah penting. Sebelumnya entah tahun berapa, konsultan dari Indonesia berhasil touchdown di Sydney. Tapi apa yang terjadi? He got a chicken pox! Ouch, poor him. He made it all the way from Jakarta to Sydney cuma buat ngerasain cacar air ala Aussie
(Selalu) Butuh Persetujuan Pihak Lain
Saya bertanya dalam hati, kenapa?
Saya, wanita, 25th sudah, boleh dibilang cukup dewasa, single, belum menikah. Dengan rejeki yang ada, saya berpikir untuk kredit satu barang yang cukup menguras habis tabungan sekaligus membuka buku hutang untuk 3 tahun ke depan.
Meski saya sudah menyanggupi beban kredit itu, tanda tangan orang tua diharuskan ada dalam kontrak. Karena saya masih single katanya. Mungkin kata single bisa diartikan masih dalam pengawasan orang tua. Meski sudah lebih dari 6 tahun ini saya tinggal sendiri, terpisah dari orang tua. Udah kayak raport anak SD yang harus ditanda tangan orang tua.
Baiklah, tak masalah kok. Toh orang tua saya selalu mendukung keputusan saya, apapun itu selama yang baik-baik.
Lalu saya berpikir, oh mungkin saat nanti saya sudah menikah, tanda tangan orang tua sudah tak diperlukan lagi. Tapi tunggu! Kata siapa? Enak aja kamu! Begitu kamu menikah, pihak pemberi kredit mengharuskan adanya persetujuan & tanda tangan sang suami.
What the…. Apa maksudnya yah? Apa karena begitu lepas dari tanggung jawab orang tua, kami kaum wanita menjadi tanggung jawab suami? Betul memang. Tapi saya pikir ada ranah personal seorang istri&ibu. Bukan sebagai seorang ibu, juga bukan sebagai seorang istri. Melainkan sebagai seorang wanita.
Perjalanan Ini Terasa Sangat… #balsemtrip
Masih ingat 3 nekad traveller yang 2 tahun lalu (2009) dengan nekadnya berhasil mengarungi 6 kota di Pulau Jawa dalam waktu 9 hari? Jakarta – Surabaya – Bromo – Malang – Solo – Yogya – Semarang – Jakarta. Ya kaleee hits banget
Absen setahun di 2010, now we’re back. Kami bertiga kembali nekad traveling di akhir tahun. Kali ini mungkin tidak terdengar se-ekstrim perjalanan yang lalu. Balsemtrip: Batu – Malang – Sempu. Tapi percayalah, rasanya pun ekstrim, terlebih di akhir-akhir perjalanan. Dimana kami berpikir perjalanan hampir selesai, tapi justru the story just begun.
Mau intip itinerary kami? Cekidot:
Dec 27, 2011
Starting point dari Stasiun Gambir. Berhubung peak season natal & tahun baru, saya sudah antri tiket kereta Gajayana 2 minggu sebelum keberangkatan. Itu pun seat-nya udah pisah-pisah. Ini nih, kenapa tiket kereta masih belum bisa beli online layaknya pesawat. Masih harus ngantri di loket -_- Harga tiket berangkat Jakarta – Malang dengan kereta kelas Eksekutif Gajayana Rp 315,000.
Killing time perjalanan darat yang lebih dari 14 jam? Daripada mati bosen & pantat tepos, main-mainlah ke restorasi. Selain bisa nongkrong & ngopi-ngopi layaknya di coffee shop, ada live hiburan juga. Karaoke! Kalo kamu beruntung, bisa enjoy suara bagus dari mas-mas yang doyan banget karaoke. Kalau udah muak, cobalah rebut mic-nya
*the rest of the night, better go sleep. Simpan energy untuk menggila di kota tujuan*
Modal Jempol #balsemtrip
“Backpacker kok sewa mobil??? Backpacker kan modalnya jempol doang.” Begitulah celetukan dari Mas Temon, pengusaha Kaldera Outdoor Rent di Malang. Celetukan yang sekaligus sentilan buat saya & 2 travelmate saya -_-
Ga sepenuhnya nyentil sih, karena kami pun menyadari bahwa kami belum seutuhnya jadi backpacker, masih di komunitas manjapacker, yang maunya kereta eksekutif & tinggal di penginapan layak (layak menurut kami)
Malam itu kami turun dari mobil sewaan di depan toko Kaldera untuk mengembalikan barang-barang sewaan. Kalau ga mepet juga kami ga akan sewa mobil kok.
So this is our story about what happened on the first day of 2012. A good way to start the year
Itinerary kami mungkin kurang tepat. Destinasi terakhir yaitu Pulau Sempu dimana hari terakhir itu kami harus mengejar kereta untuk kembali ke Jakarta, sungguh kurang bijak
Menurut perhitungan waktu sih, kami punya cukup waktu untuk segera ke stasiun dan duduk manis di kereta eksekutif Gajayana. JIKALAU semua berjalan lancar seperti seharusnya. JIKALAU angkutan kembali ke Pasar Turen muncul tepat waktu. Beruntungnya kami, entah karena volume mobil yang berlebihan di tahun baru atau karena hujan, jalur Pasar Turen – Sendang Biru yang jaraknya jauh itu macet total di satu titik. It happened like never before katanya.
Lucky us. Si Elf yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Mulai panik. Apapun dilakukan. Salah satu usaha kami dengan pose di pinggir jalan bermodalkan jempol, senyum manis, celana pendek (ouch, yang ini sumpah ga sengaja), dan papan bertuliskan “NUMPANG MALANG, MAU BAYAR”.
Lebih dari 30 menit kami berdiri di pinggir jalan sambil hujan-hujanan, banyak kendaraan umum charteran dan kendaraan pribadi lewat. Lewat aja gitu. Paling nengok dikit baca papannya. Abis itu yuk dadah bubye! Sampai pada saat sebuah truk lewat. Tanpa ragu dia berhenti dan mengijinkan kami numpang. Cuma dibayar dengan rokok seharga Rp 10,000.
Menjadi pe’numpang’ truk bersama pe’numpang’ lainnya, seorang bapak yang menenteng gitar. Dan ternyata si bapak memang pengamen. Sempat lama manggung di bus-bus sekitaran Blok M. Wow! Alhasil, untuk membunuh waktu & rasa bosan di tengah kemacetan yang super parah, lagu Ebiet G. Ade & Iwan Fals pun mengguncang truk dan sekitarnya. Tariiik maaaang!
Meski numpang ga sampai tujuan, lumayanlah buat kita bergerak sedikit. Meski pada akhirnya pun kami menyerah karena kereta kami ga kekejar. Dari Sumbermanjing, tempat kami diturunkan, kami tinggal meneruskan perjalanan. Macet total memakan waktu hampir 4 jam. Kehujanan di atas truk. Begitu melewati macet, angin super kencang menembus baju kami yang sudah kuyup. Brrrr! Bertahan! Begitu sampai di Sumbermanjing, angkutan yang kami cari sudah tak ada. Perfect! Akhirnya kami sewa mobil seharga Rp 175,000 yang siap mengantar kami ke Malang.
As Mas Temon said, backpacker cuma dengan modal jempol bisa sampai dimanapun tujuannya :p Ya ya ya
We did that once today. Dan sudah tak sanggup lagi ngacungin jempol di pinggir jalan yang masih hujan. So, no choice lah. Mari bayar mobil sewaan!
Apa yang sudah kami lewati sungguh-sungguh hebat. What an experience! Untungnya kami masih ada tempat menginap di malam tambahan itu. Kalau tidak, hmmm… Tidur di stasiun deh -_- Kantong udah kempes pula. Kalau hal itu terjadi, mungkin status kami makin mendekati backpacker sesungguhnya :p
Thank You & Screw You List #balsemtrip
Melewati 7 hari di kota orang bersama 2 travelmate @twiras & @fitri4mini, menikmati hari-hari terakhir di tahun 2011 & hari-hari pertama di 2012, mencari pengalaman tak terlupakan untuk dibagi, dan sekedar berharap mendapat waktu yang menyenangkan untuk recharging enery & spirit.

Selama 7 hari itu, kami bertemu banyak orang dengan berbagai tipe. The good ones and the bad ones. Semuanya meninggalkan bekas di hati #halah unforgettable! Dan ada juga yang unforgivable >.<
That is why, in the end of the road, I would like to say “thank you” to my Thank You List as well as to say “screw you!” to my Screw You List
Touchdown Pulau Sempu #balsemtrip
As promised, berikut detail rute dari Malang ke Pulau Sempu beserta budget:
- dari Malang naik angkot ke Terminal Gadang (Rp 2500)
- dari terminal Gadang ke Pasar Turen, naik elf (Rp 5000, tp ongkos ini kayaknya kemahalan deh)
- dari Pasar Turen naik elf warna biru ke Sendang Biru (Rp 15000). Siap-siap seni melipat tubuh di angkutan ini. Ukuran elf-nya lebih kecil dari L100 yang ke arah Sukabumi dari Bogor.
- Sampai di Pantai Sendang Biru, bayar tiket masuk (Rp 6000 untuk camping)
- Sebelum bisa nyebrang ke Pulau Sempu, lapor perijinan dulu di kantor perwakilan cagar alam Pulau Sempu. Disini kita bakal ditanya-tanya sekaligus dinasehati banyak hal. Sebetulnya setiap orang yang mau masuk ke Pulau Sempu harus membawa surat ijin dari Surabaya. Tapi cincailah. Itu mah speak-speak doang. Bayar administrasi ke si Bapak Petugas seikhlasnya. Kami bertiga bayar Rp 20,000. Selain itu kita juga harus mengisi buku tamu, meninggalkan ktp, dan menandatangani surat pernyataan bahwa kita akan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan Pulau Sempu.
- si Bapak Petugas juga menyarankan untuk kita yang belum pernah ke Sempu untuk pakai guide. Fee-nya Rp100,000 untuk sekali antar ke tujuan. Fleksibel sih, kalo minta ditungguin sampe pulang, tinggal tambahin seikhlasnya. Tapi tak perlulah, belajar sekali seharusnya udah bisa jalan pulang :p
- si bapak petugas juga menyarankan kita untuk pakai sepatu, apalagi di musim hujan begini, becyek ga ada ojyek. Disana ada sepatu anti licin yang dijual dan disewakan. Kami pun iya iya aja. Harga sewanya Rp 10,000 selama kita ada di Sempu. Kalau di Sempu seminggu, yah harga sewanya tetap Rp 10,000. Mau beli sekalian buat kenang-kenangan juga bisa. Harganya Rp 20,000. Eh tapi jangan remehkan masalah sepatu ini lho. Banyak yang sepatu dan sendalnya sampai rusak. Sayang kan. Lalu mereka melanjutkan perjalanan tanpa alas kaki. Ini akan sangat memperlambat perjalanan kita. Bahkan banyak yang terluka karena bertelanjang kaki. No no no! Mending keluarin uang sepuluh rebu dah :p
- begitu ijin sudah ditangan, kita segera menyebrang dari pantai Sendang Biru ke Teluk Semut. Harga sewa perahu Rp 100,000 antar dan jemput. Kapasitas perahunya sampai dengan 15 orang. Lebih banyak lebih baik, karena patungannya lebih murah :p Hati-hati, tukang kapalnya ga mau ngangkut orang-orang yang sebelumnya ga naik kapal mereka. Misalnya begitu jemput kita di Teluk Semut, lalu ada tim lain yang mau nebeng, si tukang kapal pasti menolak. Ini namanya ikatan & janji paguyuban tukang kapal Sendang Biru #ngasal :p Catat no telp tukang kapal, lalu begitu siap dijemput kembali di Teluk Semut, tinggal telp deh dan dalam waktu 10 menit, mereka akan menjemput kita.
- di dalam Pulau Sempu, kita ga akan keluar uang sedikitpun karena ga ada tukang jualan :p Punya duit banyak lalu mau beli air minum? Forget it! Ga ada yang jual. Berharap aja ada yang berbaik hati kelebihan stock air minum atau worst case, minumlah air Segara Anakan itu. Beberapa dari mereka beneran minum air itu lho. Beberapa hal memang ga bisa dibeli dengan uang, guys :p
- Begitu touchdown kembali ke Pulau Sendang Biru, angkutannya sama kok seperti saat berangkat. Tapi hati-hati, angkutan elf warna biru tujuan Pasar Turen agak jarang. Jadi harus sabar menunggu.
- ga punya alat camping lengkap atau cukup malas untuk bawa jauh-jauh dari kota asal? Don’t rich difficult people deh (baca: jangan kaya orang susah deh). Di Malang ada banyak outdoor/camping rental. Tapi jangan salah pilih. I recommend KALDERA, outdoor equipment rent yang ada di pintu keluar terminal Landungsari. Meet Mas Temon di nomor 083834016013 / 0341 588458. Facebook Kadera Outdoor Rent atau blognya http://kalderaoutdoorrent.blogspot.com/ Highly recommended. Melayani 24 jam setiap hari. Orang-orangnya helpful, ramah, baik hati, dan informatif. Harganya standarlah.
- Budget tersebut diatas belum termasuk perbekalan air minum, mie instan, roti, atau makanan lain yang akan dimasak. Serba salah, beli banyak makanan & minuman mubadzir & menambah beban, beli sedikit malah kurang. Tapi kalaupun lebih, mending dihibahkan kepada sesama yang camping disana yang kelihatannya kekurangan. Percuma juga kalau dibawa pulang kembali.
Penikmat Alam yang bukan Pecinta Alam #balsemtrip
Ternyata, manusia-manusia yang mengaku dirinya sangat suka wisata alam belum tentu mencintai alamnya itu sendiri. Bukti nyatanya saya temukan di perjalanan ke Pulau Sempu di malam tahun baru 2012. Meski dengan tracking route yang sulit karena becyek & ga ada ojyek, terlebih mereka yang berniat camping/bermalam di Segara Anakan yang mengharuskan mereka membawa perbekalan & perlatan camping super heboh, belum jaminan semua perjuangan & pengorbanan itu mereka imbangi dengan tanggung jawab yang sangat mendasar. Sesederhana buang sampah pada tempatnya. Dalam cerita berkemah di Pulau Sempu memang tidak ada yang namanya tempat sampah. Namun saya rasa orang-orang ini cukup pintar untuk bisa membaca & memahami maksud dari surat pernyataan & perijinan yang sudah mereka tanda tangani sebelum mereka memasuki Pulau Sempu. Disana tertulis bahwa pengunjung bersedia untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan wisata cagar alam Pulau Sempu. Yaitu dengan tidak membuang atau meninggalkan sampah di manapun di Pulau Sempu. Kumpulkan semua sampah yang ada lalu membawanya keluar Pulau Sempu. Tapi apa kenyataannya? NIHIL!
Sudahlah pengunjungnya banyak, makin banyak juga sampah berserakan disana sini. Di perjalanan menuju Segara Anakan, sampai di Segara Anakan-nya. Ck! Mulai dari sampah botol air minum, bungkus snack, sampai sendal atau sepatu yang sepertinya tak sanggup melalui rute tracking. Eits, barang-barang yang cukup berharga pun banyak yang dibuang disini. Guide kami Mas Eddi berhasil menemukan kompor yang masih dalam keadaan layak pakai. Begitu pun dengan tenda layak pakai. Mungkin si pemilik sudah tak sanggup menentengnya pulang.

Itu baru sampah yang sudah berhasil menciptakan pemandangan tersendiri di Pulau Sempu. Mau tau yang lain? Para penikmat alam ini tanpa merasa bersalah atau merasa berdosa, telah mengkontaminasi jernihnya air di Segara Anakan. Mencuci semua yang kotor, termasuk mencuci oily nesting & semua perlatan memasak. Satu lagi, mencuci ikan yang mau dibakar. Gimana ga tuh air yang harusnya bersih & jernih jadi berminyak dan bau amis? Saya prefer untuk tidak menceburkan tubuh saya disana.
Sempat saya berpikir seperti ini, orang-orang yang bergaya layaknya seorang pecinta alam sejati ini, menggendong carriel super besar, terampil memasak dengan peralatan masak sederhana, berpenampilan macam anak gunung/anak pantai, tapi kok ga ada rasa kecintaannya pada alam yah? Ternyata mereka bukanlah pecinta alam, mereka hanyalah penikmat alam yang tak bertanggung jawab. Cuma ikut-ikutan arus wisata alam mana yang lagi tren. Having a good time disana, lalu berbagi cerita & foto-foto biar tetap eksis. What the *#?!@
Heran, bagaimana mereka mau menikmati alam kalau alamnya sendiri mereka perlakukan tak senonoh seperti itu ya? Apa susahnya sih ngumpulin sampah, terus dibawa pulang?
Berganti Tahun di Pulau Tak Berpenghuni, Pulau Sempu #balsemtrip
Pulau Sempu memang pulau tak berpenghuni (no man’s island). Wisata cagar alam. Aseli. Masih dibiarkan perawan tanpa sentuhan para investor berkepentingan. Setidaknya belum, sampai saya & 2 travelmate saya menginjakkan kaki di pulau itu.
Tak berpenghuni, memang. Tapi malam tahun baru kemarin Pulau Sempu berubah jadi Pulau-Berpengunjung-Sangat-Banyak. Saking banyaknya, kita-kita ini udah layaknya cendol -_-
This might not be the review that you’re looking for. Absolutely not! Karena saya akan bercerita apa adanya berdasarkan pandangan mata secara langsung di TKP. But, in the end of the article, I will share the details how to get there
Stay tune, pemirsah!
Beruntung saya touchdown di Segara Anakan dengan waktu tempuh trekking selama 2 jam. Dalam kondisi becyek & ga ada ojyek seperti saat itu, banyak yang menghabiskan waktu trekking selama 4 sampai 8 jam. Beberapa pelancong bahkan memutuskan untuk balik arah & mengurungkan niatnya mencari Segara Anakan. Menyerah tapi sudah berjuang. Bahkan ada yang sampai terpaksa camping di dalam hutan karena tak kunjung menemukan Segara Anakan saat sudah lewat tengah malam.
Kami bukan traveler ecek ecek. We do browsing sebelum memulai perjalanan. Banyak foto-foto yang menampilkan betapa indahnya pulau tak berpenghuni ini. Dari browsing itu pun kami tahu bahwa kami harus melalui rute trekking yang tidak pendek & mudah, terlebih di musim hujan. Di beberapa artikel bahkan waktu tempuh di kala musim hujan, standarnya adalah 4 jam. When we say ‘yes, we’re going to Pulau Sempu’, that means we are ready for any conditions.
Perjalanan 2 jam dari Teluk Semut mencari Segara Anakan memang tidak mudah. Tapi beruntung ada guide bersama kami. Jadi kami tidak buang-buang waktu hanya untuk tebak-tebakan jalur mana yang benar. Hmmm, bukan beruntung juga sih namanya, kami bayar guide & ga mau repot :p
Hujan yang saban hari mengguyur Malang, Batu & sekitarnya, pasti juga sampai di Pulau Sempu. Becek & berlumpur. Tidak mempermudah perjalanan. Apalagi 2 dari kami adalah newbie untuk urusan hiking di alam lepas seperti ini. Yang mempermudah adalah kami beruntung di hari kami pergi ke Sempu, untuk pertama kalinya kami melihat matahari bersinar. Jadi kami hanya mendapat bekas-bekas becek tanpa hujan mengguyur kami.
15 menit perjalanan sudah cukup membuat baju ini basah kuyup karena keringat. Nafas pendek kami terdengar. This is a breathtaking experience, literaly. Jatuh terpeleset karena tanah yang licin. Jatuh tersungkur karena tersandung akar pohon. Membenamkan kaki selutut di genangan lumpur karena tak ada jalan lain. Mengusap keringat di wajah dengan tanganmu yang penuh lumpur. Merasakan basah tenggorokanmu saat meneguk air yang sudah sedikit terkontaminasi. Mendengar suara hewan & menyaksikan secara langsung monyet-monyet yang bergelantungan bebas. Bertegur sapa sesama pelancong hanya untuk tahu berapa lama lagi kami sampai di tujuan masing-masing. Kami yang menuju Segara Anakan, mereka yang mencari jalan keluar. Berbagi air minum & berbagi semangat kepada sesama pelancong. What more can you say? This is an adventure.
TETAPI kenikmatan itu semua berbanding terbalik dengan pemandangan sampah yang kamu lewati. Botol air minum plastik, bungkus roti, bungkus biskuit, bungkus snack. Apapun, you name it, you will find it. Ini yang saya bahas di Penikmat Alam Yang Bukan Pecinta Alam. Menyedihkan. Pathetic!
Well, saya pikir gaya mereka yang layaknya pecinta alam sudah membuktikan bahwa mereka mencintai alam ini. Tapi ternyata tidak. Mungkin harapan saya tak akan sama terhadap pelancong Pulau Sempu yang berpakaian seperti layaknya mereka mau hangout ke mall dengan rok mini, menjinjing hand bag, wearing tight jeans, dsb. You have to know that they do exist di Pulau Sempu. Bukannya saya meremehkan mereka, tapi saya yakin bahwa sampah-sampah yang saya lihat berasal dari hampir semua pelancong, baik yang berpenampilan pecinta alam maupun tidak.
Tenang. Ini baru perjalanan dari Teluk Semut menuju Segara Anakan.
*2 jam berlalu dengan peluh yang tak berhenti menetes*
Tepat jam 12 siang. Akhirnya kami melihat penampakan genangan air berwarna hijau yang menyejukkan. “Hey, finally we’re here!”
Begitu menginjakkan kaki di pasir putihnya, wajah saya pasti seperti ini -__- As seen on the internet, I knew that this is Segara Anakan. Dengan pantai yang tidak luas memang. Tapi tidak juga penuh dengan orang-orang seperti ini, yang sibuk berlalu lalang. Sibuk mendirikan tenda. Sibuk masak. Sibuk menceburkan diri di air. Sibuk ini, sibuk itu. Aaargh as seen in bumi perkemahan Cibubur ini mah.
Baiklah, yang terpenting kami mendarat tepat waktu. Masih bisa mendirikan tenda di barisan paling depan dengan bibir pantai. Berdoa saja air tak akan pasang di malam hari. Atau kami akan terbawa ke laut pantai selatan saat kami tidur #lebay
Saya mencoba menikmatinya. Setidaknya ini benar Segara Anakan, as seen on the internet. Cuma dikurangi jumlah orangnya saja :p
Tapi ternyata tidak cuma itu. Sampah-sampah disini lebih parah. Entah mengapa mereka tidak mengumpulkan sampah mereka di satu tempat melainkan membiarkannya berserakan. Apa mereka ga bisa baca tulis? Sebelum menginjakkan kaki di Pulau Sempu kan mereka harus menandatangani surat perijinan yang menyatakan janji mereka untuk membawa kembali sampah-sampah mereka. Ah sudahlah, yang bertanda tangan kan hanya satu orang dari setiap grup. Mungkin mereke memang tidak membacanya. Tapi kan ini hal mendasar! Anak SD juga tau! -_-
Lupakan. Semakin saya berusaha menikmati, semakin adaaa aja yang bikin keki.
Badan yang super lengket & (sedikit) bau dengan baju yang juga basah kuyup karena keringat, melihat air yang tampak hijau dari kejauhan, rasanya ingin menceburkan diri disana, menenggelamkan diri sesaat lalu muncul dengan mengibas-ngibaskan rambut layaknya di iklan-iklan itu :p Tapi bagaimana mungkin, begitu mendekati bibir pantai, melihat pemandangan sekitar, saya urungkan niat untuk syuting iklan tadi. Saya hanya butuh mencuci kaki dan tangan yang penuh lumpur. Bagaimana tega saya terhadap diri saya. Di sebelah kiri saya lihat orang-orang itu sedang mencuci nesting yang penuh minyak. Di sisi lainnya, orang sedang mencuci & membersihkan ikan mati untuk dibakar. Disisi entah dimana mungkin mereka sedang pipis. Mulai berlebihan kan…
Karena Segara Anakan ini kan bukan pantai yang langsung menghadap ke laut. Hanya air laut yang terbendung dari laut selatan karena adanya tebing-tebing tinggi. Makanya airnya pun cenderung tenang, hanya sedikit bergelombang. Itu pun kalau lagi pasang. Kalau lagi surut, seperti danau yang tenang.

Kami menikmati waktu kami sendiri dengan mencoba main masak-masakan :p Dapur umum dibangun disamping tenda. Hasilnya memuaskan. Baru kali ini merasakan kenikmatan sejati dari 2 bungkus Indomie untuk 3 orang dengan tambahan kornet & sosis. Ini ceritaku, apa ceritamu? :p #tulisanberbayar
)
Foto-foto cantik berlatar Segara Anakan yang sudah terbayang sejak trip ini baru terencana pun musnah. Mau foto dari sudut manapun, tak lepas dari peran para figuran.
Malam harinya, setelah matahari bersinar sepanjang hari, awan tak mampu lagi membendung hujan. Turunlah rintik-rintik hujan. Saat yang tepat menggalau di dalam tenda masing-masing dengan pemandangan Segara Anakan :p Backsound pun mendukung. Gunjrang ganjreng gitar dari tenda tetangga menambah suasana camping. Kecuali saat tenda yang lain dengan seenaknya pasang lagu dangdut koplo dari minicompo-nya itu. Bukannya mendengar suara alam, malah polusi suara -_-
Menjelang detik-detik pergantian tahun, ternyata pesta kembang api di Pulau Sempu ga kalah heboh sama yang di Ancol :p Entah siapa yang niat banget bawa petasan & kembang api sebanyak itu.
“Happy New Year, everyone!”
Begitu terbangun keesokan paginya, di hari pertama di tahun 2012, tak menunggu lebih lama lagi, kami packing untuk meninggalkan Pulau Sempu. The sooner, the better. Sebelum hujan turun dan menyulitkan jalan kami. Apalagi kami tak pakai jasa guide seperti saat kami berangkat. Semoga Tuhan bersama kami. Tapi jangan khawatir, kawan. Kalau jalan kita cepat, kita akan melewati orang-orang yang juga mau pulang. Itu tandanya we’re on the right track. Begitupun kalau kita jalannya lambat, kita akan dilewati mereka yang jalannya lebih cepat :p Kita juga akan berpas-pasan dengan rombongan yang baru memasuki Pulau Sempu. Drop your smile & kasih mereka semangat. Bilang aja, sedikit lagi kok. Meski kenyataannya masih berjam-jam jauhnya
Well, maybe this is just a matter of time. Timing-nya kurang tepat saat saya kesana. Go find second or even third opinion, then decide to go or not to go
For the details how to get to Pulau Sempu, please read Touchdown Pulau Sempu #balsemtrip
PS: Cerita kami sepulang dari Pulau Sempu juga ga kalah serunya lho. Kalau mau tau, silakan klik Modal Jempol #balsemtrip
Tulisan di atas adalah sebagian besar yang tak tertangkap kamera. Apa yang tertangkap kamera dari #balsemtrip (Batu-Malang-Sempu Trip, 27 Dec 2011 – 2 Jan 2012) dapat dilihat di http://on.fb.me/xWp3Bk
Life is never as flat as flat shoes
When life is never flat, well at least ease your life by wearing flat shoes.
I consider my flat shoes is just as sweet as me. I love myself of being simple. Ibarat kata, look at my shoes, then you know who I am
Saya pengguna flat shoes entah sejak kapan. Mungkin sejak pertama kali saya bisa membeli dan memilih sepatu saya sendiri. Simple answer, sepertinya saya tak sanggup memakai high heels. Hanya dengan menatapnya saja sungguh tak sanggup. Tapi jangan salah, saat ini saya punya 4 pasang high heels. Karena apa? Karena keadaan :p
“Para ahli menyatakan bahwa posisi berjalan yang sehat adalah ketika seluruh beban tubuh ditopang oleh seluruh permukaan telapak kaki dalam massa yang sama rata. Dengan memakai flat shoes hal ini hampir dapat terpenuhi dengan baik.”
In my opinion,
Flat shoes: Enak dilihat. Lebih fleksibel. Liatnya ga bikin ngeri karena takut kesrimpet. Terlihat lebih humble dan membumi. Unselfish apalagi kalau punya pasangan yang pendek, jadi pengguna flat shoes itu sungguh fully understanding akan kekurangan si pasangan. Kemungkinan keselo sangat kecil. Sayangnya membuat kaki terlihat pendek.
High heels: Beberapa memang enak dilihat (kalau pantas dan ga maksa). Kaki tampak elegan dan seksi, ini saya setuju. It helps terutama bagi wanita bertubuh mungil. Jeleknya, susah diajak lari. Tapi kalo lagi kesel sama orang, bisa injek sasaran dengan sepenuh hati atau bisa lempar high heels dan dijamin sasarannya keliyengan. Pengguna high heels dikatakan egois saat si pasangan berpostur tubuh lebih pendek.
Itu tadi menurut saya. Mau tau faktanya yang lebih menarik? Check this out!
Menurut sebuah teori, high heels were created for the purpose of making women more feminine and sexier. Why is that so?
Here is a picture of a woman wearing high heels. Does she look feminine?
And then take a look at the picture below:
Singkat kata, cewe yang pakai flat shoes, terlihat punya pantat dan payudara yang rata. Sedangkan cewe yang pakai high heels, terlihat punya pantat yang bahenol dan payudara yang menonjol. Perbedaan lainnya dari gambar itu adalah si wanita dengan high heels membentuk garis yang bergelombang. Sedangkan wanita dengan flat shoes membentuk garis yang lurus.
Two of the stronger characteristics associated with femininity are big boobs and a big booty. Agree?
So, the only reason that high heels make a woman more feminine is that they force the body of the woman into a wave shape which makes her boobs stick out, and make her booty stick out. * Source: http://www.happehtheory.com
Lalu muncul pertanyaan. Apakah efek high heels tadi berlaku juga untuk pria? Kenapa tidak?
Oh well, I’m not a fashion expert, not even a fashionable person. I don’t know what to wear best for the girls, flat or high. I’m just looking for the most convenience item
Di Belakang Siapa Ada Apa?
“Di belakang pria sukses selalu ada wanita hebat”
Atau bahasa kerennya “Behind Every Successful Man There is a Woman”.
Yup, but the question is… what kind of woman are they?
Ups, sebelum lebih jauh, ini hanya plesetan yaaa… no need to worry, I do understand the essential of the phrase kok
Then, I come up with these cynical thoughts :p
Di belakang pria sukses, selalu ada monyetnya yang ngintilin terus. #damn
Di belakang pria sukses, ada bejibun cewek ngantri. Baca: cewek matre
Di belakang wanita sukses, biasanya ada pria yang sirik.
Di belakang wanita sukses, selalu ada pria yang menyesal.
Di belakang wanita sukses, selalu ada pria yang mundur teratur.
Lalu, what happen when they failed?
Di belakang pria gagal, masih kosong tuh! :))))
Di belakang wanita gagal, pasti ada pria yang ngerecokin tuh! >.<
Anything to add, that I missed out?


















